IMMUNOSUPPRESSION TERHADAP STATUS GIZI DAN KESEHATAN

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang
    Manusia sangat rentan untuk terkena serangan infeksi, maka dari itu diperlukan pertahanan tubuh. Pertahanan tubuh merupakan fungsi fisiologis yang sangat penting bagi makhluk hidup. Apabila pertahanan tubuh dapat berjalan dengan baik, maka makhluk hidup dapat berkembang dan berproduksi secara optimal. Tetapi apabila pertahanan tubuh tidak berjalan dengan baik, maka akan sangat rentan terhadap serangan infeksi penyakit-penyakit yang akan menyebabkan terganggunya fungsi di dalam tubuh sehingga dapat menghambat perkembangan serta menyebabkan gangguan kesehatan.
     Pertahanan yang terdapat dalam tubuh adalah sistem imunitas atau sistem kekebalan. Sistem kekebalan ini adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mampu mendeteksi serta membunuh patogen-patogen yang masuk ke dalam tubuh. Selain itu mampu mendeteksi pengaruh biologis yang berasal dari luar, membunuh bakteri,virus dan cacing yang akan mengganggu fungsi tubuh, sehingga tubuh akan dapat terlindungi sehingga jaringan di dalam tubuh tetap dapat berfungsi dengan baik.
     
Tujuan
Untuk mengetahui pengertian immunonutrien
Untuk mengetahui pengertian immunosuppression
Untuk mengetahui jenis zat gizi immunosuppression terhadap status kesehatan
Untuk mengetahui mengenai keracunan pangan
Untuk mengetahui faktor penyebab dan prevalensi masalah immunosuppression
Untuk mengetahui upaya intervensi penanggulangan masalah

BAB II
PEMBAHASAN

Immunonutrien
    Immunonutrien adalah proses pemberian nutrisi spesifik yang secara potensial dapat memodulasi aktivasi daripada sistem imunitas tubuh. biasanya dihubungkan erat dengan usaha untuk meningkatkan status klinik pasien yang kritis serta dalam proses pembedahan dan sangat membutuhkan asupan nutrisi tambahan eksogen baik melalui jalur parenteral atau enteral. Target utamanya adalah untuk memperkuat fungsi pertahanan mukosa, respon imun seluler dan antibodi serta terhadap terjadinya inflamasi lokal maupun sistemik.
    
  Immunosuppression
    Secara harfiah, immunosuppression dapat diartikan “menekan respon imun”. Immunosuppression melibatkan tindakan yang mengurangi aktivasi atau kemanjuran dari sistem kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh atau imun yang memiliki respon yang terlalu aktif menyebabkan disfungsi imun yang disebut autoimunitas. Sistem imun gagal untuk memusnahkan dengan tepat antara diri sendiri dan orang lain yang menyerang dari bagian tubuh. Sehingga dalam kondisi disfungsi imun berhubungan dengan infeksi.
    Beberapa bagian dari sistem kekebalan tubuh itu sendiri memiliki efek immuno yang menekan pada bagian lain dari sistem kekebalan tubuh, dan immunosuppresion dapat terjadi sebagai reaksi negatif terhadap pengobatan kondisi lainnya. Defisiensi imun merupakan penyebab dari penyakit genetika, seperti severe combined immunodeficiency atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS) yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Defisiensi sistem imun merupkan penyebab utama menurunnya pertahanan tubuh terhadap antigen. Defisiensi imun dapat disebabkan karena infeksi virus, hipersensitivitas, mutasi genetik pada sistem imun, faktor psikologi dan usia.
    Immunosuppression  merupakan kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan  zat  kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit-penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi bagian tubuh. Gangguan sistem imun meliputi gangguan limfosit T dan B, gangguan makrofag (inflamasi), gangguan sistem komplemen maupun gangguan imunitas sistemik. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolik dan menurunnya absorpsi zat gizi.

Jenis Zat Gizi Immunosuppression terhadap Status Gizi dan Kesehatan
    Secara umum diterim bahwa gizi merupakan salah satu determinan penting respon imunitas. Penelitian epidemiologi dan klinis menunjukkan bahwa kekurangan gizi menghambat respon imunitas dan meningkatkan resiko penyakit infeksi. Sanitasi dan higiene perorangan yang buruk,kepadatan penduduk yang tinggi, kontaminasi pangan dan air, dan infeksi. Berbagai penelitian yang dilakukan selama kurun waktu 35 tahun yang lalu membuktikan bahwa gangguan imunitas adalah suatu faktor antara (intermediate factor) kaitan gizi dengan penyakit infeksi.
Energi dan Protein
Vitamin
Vitamin A
Vitamin E
Vitamin C
Mineral
Selenium
Seng

Keracunan Pangan
      Pangan adalah kebutuhan dasar setiap insan manusia yang paling hakiki yang idak dapat dihindari untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya di muka bumi. Karena pangan inilah manusia dapat tumbuh dn berkembang baik fisik maupun mental. Pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah, yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia, termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan, dan atau pembuatan makanan atau minuman.
    Keracunan pangan yaitu masuknya atau adanya kandungan zat-zat berbahaya yang ada di dalam bahan pangan sehingga merusak atau mengurangi fungsi dari bahan pangan tersebut. Pangan  merupakan kebutuhan esensial  bagi  setiap manusia untuk pertumbuhan  maupun  mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan. Keracunan pangan atau foodborne disease (penyakit bawaan makanan), terutama yang disebabkan  oleh bakteri patogen masih menjadi masalah yang serius di berbagai negara termasuk Indonesia. Seringkali diberitakan terjadinya keracunan pangan akibat mengkonsumsi hidangan pesta, makanan jajanan, makanan catering, bahkan pangan segar. Terdapat tiga faktor kunci yang umumnya menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan akibat bakteri, yaitu kontaminasi – bakteri patogen harus ada dalam pangan; pertumbuhan – dalam beberapa kasus, bakteri patogen harus memiliki kesempatan untuk berkembang biak dalam pangan untuk menghasilkan toksin atau dosis infeksi yang cukup untuk menimbulkan penyakit; daya hidup (survival) – jika berada pada kadar yang membahayakan, bakteri patogen harus dapat bertahan hidup dalam pangan selama penyimpanan dan pengolahannya.
    Keracunan  pangan  dapat disebabkan karena bakteri patogen. Bakteri dapat menyebabkan keracunan pangan melalui dua mekanisme, yaitu intoksikasi dan infeksi.
1.     Intoksikasi
    Keracunan pangan yang disebabkan oleh produk toksik bakteri patogen (baik itu toksin maupun metabolit toksik) disebut intoksikasi. Bakteri tumbuh pada pangan dan memproduksi toksin jika pangan ditelan, maka toksin tersebut yang akan menyebabkan gejala, bukan bakterinya. Beberapa bakteri patogen yang dapat mengakibatkan keracunan pangan melalui intoksikasi adalah:
a)      Bacillus cereus
    Bacillus cereus merupakan bakteri yang berbentuk batang, tergolong bakteri Gram-positif, bersifat aerobik, dan dapat membentuk endospora. Keracunan akan timbul jika seseorang menelan bakteri atau bentuk sporanya, kemudian bakteri bereproduksi dan menghasilkan toksin di dalam usus, atau seseorang mengkonsumsi pangan yang telah mengandung toksin tersebut.
    Ada dua tipe toksin yang dihasilkan oleh Bacillus cereus, yaitu toksin yang menyebabkan diare dan toksin yang menyebabkan muntah (emesis).
Gejala keracunan:
        Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin penyebab diare, maka gejala yang timbul berhubungan dengan saluran pencernaan bagian bawah berupa mual, nyeri perut seperti kram, diare berair, yang terjadi 8-16 jam setelah mengkonsumsi pangan.
         Bila seseorang mengalami keracunan yang disebabkan oleh toksin
penyebab muntah, gejala yang timbul akan bersifat lebih parah dan akut serta berhubungan dengan saluran pencernaan bagian atas, berupa mual dan muntah yang dimulai 1-6 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar.
  
  Bakteri penghasil toksin penyebab muntah bisa mencemari pangan berbahan beras, kentang tumbuk, pangan yang mengandung pati, dan tunas sayuran. Sedangkan bakteri penghasil toksin penyebab diare bisa mencemari sayuran dan daging.
  Tindakan pengendalian khusus bagi rumah tangga atau penjual makanan terkait bakteri ini adalah pengendalian suhu yang efektif untuk mencegah pertunasan dan pertumbuhan spora. Bila tidak tersedia lemari pendingin, disarankan untuk memasak pangan dalam jumlah yang sesuai untuk segera dikonsumsi. Toksin yang berkaitan dengan sindrom muntah bersifat resisten terhadap panas dan pemanasan berulang, proses penggorengan pangan juga tidak akan menghancurkan toksin tersebut.
  
b)       Clostridium botulinum
    Clostridium botulinum merupakan bakteri Gram-positif yang dapat membentuk spora tahan panas, bersifat anaerobik, dan tidak tahan asam tinggi. Toksin yang dihasilkan dinamakan botulinum, bersifat meracuni saraf (neurotoksik) yang dapat menyebabkan paralisis. Toksin botulinum bersifat termolabil. Pemanasan pangan sampai suhu 80° C selama 30 menit cukup untuk merusak toksin. Sedangkan spora bersifat resisten terhadap suhu pemanasan normal dan dapat bertahan hidup dalam pengeringan dan pembekuan.
    Gejala keracunan: Gejala botulism berupa mual, muntah, pening, sakit kepala, pandangan berganda, tenggorokan dan hidung terasa kering, nyeri perut, letih, lemah otot, paralisis, dan pada beberapa kasus dapat menimbulkan kematian. Gejala dapat timbul 12-36 jam setelah toksin tertelan. Masa sakit dapat berlangsung selama 2 jam sampai 14 hari.
    Penanganan: Tidak ada penanganan spesifik untuk keracunan ini, kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. Kebanyakan keracunan dapat terjadi akibat cara pengawetan pangan yang keliru (khususnya di rumah atau industri rumah tangga), misalnya pengalengan, fermentasi, pengawetan dengan garam, pengasapan, pengawetan dengan asam atau minyak.
    Bakteri ini dapat mencemari produk pangan dalam kaleng yang berkadar asam rendah, ikan asap, kentang matang yang kurang baik penyimpanannya, pie beku, telur ikan fermentasi, seafood, dan madu. Tindakan pengendalian khusus bagi industri terkait bakteri ini adalah penerapan sterilisasi panas dan penggunaan nitrit pada daging yang dipasteurisasi. Sedangkan bagi rumah tangga atau pusat penjualan makanan antara lain dengan memasak pangan kaleng dengan seksama (rebus dan aduk selama 15 menit), simpan pangan dalam lemari pendingin terutama untuk pangan yang dikemas hampa udara dan pangan segar atau yang diasap. Hindari pula mengkonsumsi pangan kaleng yang kemasannnya telah menggembung.
c)      Staphilococcus aureus
    Terdapat 23 spesies Staphilococcus, tetapi Staphilococcus aureus merupakan bakteri yang paling banyak menyebabkan keracunan pangan. Staphilococcus aureus merupakan bakteri berbentuk kokus/bulat, tergolong dalam bakteri Gram-positif, bersifat aerobik fakultatif, dan tidak membentuk spora. Toksin yang dihasilkan bakteri ini bersifat tahan panas sehingga tidak mudah rusak pada suhu memasak normal. Bakteri dapat mati, tetapi toksin akan tetap tertinggal. Toksin dapat rusak secara bertahap saat pendidihan minimal selama 30 menit. Pangan yang dapat tercemar bakteri ini adalah produk pangan yang kaya protein, misalnya daging, ikan, susu, dan daging unggas; produk pangan matang yang ditujukan dikonsumsi dalam keadaan dingin, seperti salad, puding, dan sandwich; produk pangan yang terpapar pada suhu hangat selama beberapa jam; pangan yang disimpan pada lemari pendingin yang terlalu penuh atau yang suhunya kurang rendah; serta pangan yang tidak habis dikonsumsi dan disimpan pada suhu ruang.
    Gejala keracunan: Gejala keracunan dapat terjadi dalam jangka waktu 4-6 jam, berupa mual, muntah (lebih dari 24 jam), diare, hilangnya nafsu makan, kram perut hebat, distensi abdominal, demam ringan. Pada beberapa kasus yang berat dapat timbul sakit kepala, kram otot, dan perubahan tekanan darah.
    Penanganan: Penanganan keracunannya adalah dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang akibat muntah atau diare. Pengobatan antidiare biasanya tidak diperlukan. Untuk menghindari dehidrasi pada korban, berikan air minum dan larutan elektrolit yang banyak dijual sebagai minuman elektrolit dalam kemasan. Untuk penanganan leboih lanjut, hubungi puskesmas atau rumah sakit terdekat.
    
A.  Infeksi
    Bakteri patogen dapat menginfeksi korbannya melalui pangan yang dikonsumsi. Dalam hal ini, penyebab sakitnya seseorang adalah akibat masuknya bakteri patogen ke dalam tubuh melalui konsumsi pangan yang telah tercemar bakteri. Untuk menyebabkan penyakit, jumlah bakteri yang tertelan harus memadai. Hal itu dinamakan dosis infeksi. Beberapa bakteri patogen yang dapat menginfeksi tubuh melalui pangan sehingga menimbulkan sakit adalah:
1)      Salmonella
    Salmonella merupakan bakteri Gram-negatif, bersifat anaerob fakultatif, motil, dan tidak menghasilkan spora. Salmonella bisa terdapat pada bahan pangan mentah, seperti telur dan daging ayam mentah serta akan bereproduksi bila proses pamasakan tidak sempurna. Sakit yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella dinamakan salmonellosis. Cara penularan yang utama adalah dengan menelan bakteri dalam pangan yang berasal dari pangan hewani yang terinfeksi. Pangan juga dapat terkontaminasi oleh penjamah yang terinfeksi, binatang peliharaan dan hama, atau melalui kontaminasi silang akibat higiene yang buruk. Penularan dari satu orang ke orang lain juga dapat terjadi selama infeksi.
    Gejala keracunan: Pada kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella, gejala yang terjadi adalah diare, kram perut, dan demam yang timbul 8-72 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar. Gejala lainnya adalah menggigil, sakit kepala, mual, dan muntah. Gejala dapat berlangsung selama lebih dari 7 hari. Banyak orang dapat pulih tanpa pengobatan, tetapi infeksi Salmonella ini juga dapat membahayakan jiwa terutama pada anak-anak, orang lanjut usia, serta orang yang mengalami gangguan sistem kekebalan tubuh.
    Penanganan: Untuk pertolongan dapat diberikan cairan untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Lalu segera bawa korban ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
    
2.     Clostridium perfringens
    Clostridium perfringens merupakan bekteri Gram-positif yang dapat membentuk endospora serta bersifat anaerobik. Bakteri ini terdapat di tanah, usus manusia dan hewan, daging mentah, unggas, dan bahan pangan kering. Clostridium perfringens dapat menghasilkan enterotoksin yang tidak dihasilkan pada makanan sebelum dikonsumsi, tetapi dihasilkan oleh bakteri di dalam usus.
    Gejala keracunan: Gejala keracunan dapat terjadi sekitar 8-24 jam setelah mengkonsumsi pangan yang tercemar bentuk vegetatif bakteri dalam jumlah besar. Di dalam usus, sel-sel vegetatif bakteri akan menghasilkan enterotoksin yang tahan panas dan dapat menyebabkan sakit. Gejala yang timbul berupa nyeri perut, diare, mual, dan jarang disertai muntah. Gejala dapat berlanjut selama 12-48 jam, tetapi pada kasus yang lebih berat dapat berlangsung selama 1-2 minggu (terutama pada anak-anak dan orang lanjut usia).
    Penanganan: Tidak ada penanganan spesifik, kecuali mengganti cairan tubuh yang hilang. Tindakan pengendalian khusus terkait keracunan pangan akibat bakteri ini bagi rumah tangga atau pusat penjual makanan antara lain dengan melakukan pendinginan dan penyimpanan dingin produk pangan matang yang cukup dan pemanasan ulang yang benar dari masakan yang disimpan sebelum dikonsumsi.
    
    
    
3)       Escherichia coli
    Bakteri Escherichia coli merupakan mikroflora normal pada usus kebanyakan hewan berdarah panas. Bakteri ini tergolong bakteri Gram-negatif, berbentuk batang, tidak membentuk spora, kebanyakan bersifat motil (dapat bergerak) menggunakan flagela, ada yang mempunyai kapsul, dapat menghasilkan gas dari glukosa, dan dapat memfermentasi laktosa. Kebanyakan strain tidak bersifat membahayakan, tetapi ada pula yang bersifat patogen terhadap manusia, seperti Enterohaemorragic Escherichia coli (EHEC). Escherichia coli O157:H7 merupakan tipe EHEC yang terpenting dan berbahaya terkait dengan kesehatan masyarakat.
    E. coli dapat masuk ke dalam tubuh manusia terutama melalui konsumsi pangan yang tercemar, misalnya daging mentah, daging yang dimasak setengah matang, susu mentah, dan cemaran fekal pada air dan pangan.
    Gejala keracunan: Gejala penyakit yang disebabkan oleh EHEC adalah kram perut, diare (pada beberapa kasus dapat timbul diare berdarah), demam, mual, dan muntah. Masa inkubasi berkisar 3-8 hari, sedangkan pada kasus sedang berkisar antara 3-4 hari.
    
E. Faktor Penyebab dan Prevalensi Masalah
Beberapa kondisi penyebab timbulnya kejadian immunossupression, yaitu :
Rusaknya jaringan tubuh yang berfungsi untuk membentuk / mendewasakan sel – sel yang berperan dalam respon kekebalan, misalny timus, bursa fabricius, sumsum tulang, limpa dan jaringan limfoid lainnya. Kerusakan jaringan ini bisa disebabkan oleh virus (reovirus, mareks disease virus, chicken anaemia virus, raussarcoma viruses, IBD virus) atau oleh toksin – toksin tertentu seperti aflatoksin dan toksin T2. Efek dari rusaknya jaringan limfoid selain dari mengecilnya jaringan limfoid itu sendiri, juga menyebabkan menurunnya jumlah sel-sel darah putih secara keseluruhan, termasuk sel – sel limfoid dewasa yang beredar di dalam sirkulsi tubuh baik sistem peredaran darah maupun sistem peredaran limfe.
Rusaknya struktur dan fungsi fisiologis sel – sel darah putih termasuk sel limfosit. Kondisi ini dapat disebabkan juga oleh virus dan toksin, tergantung dari derajat keparahan infeksi ataupun level dan lamanya induk semang terinduksi oleh aflatoksin ataupun toksin T-2.
Walaupun struktur sel darah putih tidak terganggu, namun ada kalanya hanya fungsi fisiologisnya saja yang terganggu. Pada kondisi ini sel limfosit yang normal secara anatomis tidak memberikan respon tenggap kebal yang optimal secara fisiologis terhadap adanya induksi secara imunologik. Adair (1995) menyatakan bahwa kondisi imunosupresi juga dapat terjadi akibat terjadinya infeksi pada jaringan non limfosit seperti kelenjar tiroid. Kondisi ini berarti agen penyebabnya secara tidak langsung mengganggu reaksi imunologis.
Agen kimia penyebab immunosuppression : mikotoksin dan defisiensi nutrisi
Faktor penyebab lain yang melemahkan sistem kekebalan tubuh, yaitu :
Overdosis pada gula : jumlah asupan gula yang tinggi dalam jangka waktu yang lama dapat mengurangi kemampuan sel darah putih untuk membunuh kuman sebesar 40 persen. Efek penekanan kekebalan gula dimulai kurang dari 30 menit setelah konsumsi dan bahan berlangsung selama lima jam.
Minum alkohol berlebihan : dapat membahayakan sistem kekebalan tubuh dengan menghasilkan suatu kekurangan gizi secara keseluruhan dan mencabut tubuh nutrisi yang berharga, kemudian dengan minum alkohol yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan sel darah putih untuk membunuh kuman dan menekan kemampuan sel darah putih untuk berkembang biak menyebabkan kekebalan ditekan dan infeksi hati.
Makanan alergen : sistem kekebalan mengenali substansi dinyatakan tidak berbahaya sebagai penyerbu asing dan serangan itu, menyebabkan reaksi alergi. Setelah pertemuan dengan alergen makanan banyak, dinding rusak, memungkinkan penjajah dan zat beracun lainnya berpotensi dalam makanan untuk masuk ke aliran darah dan membuat tubuh merasa lelah.
Asupan tinggi lemak jenuh dan trans obesitas dapat menyebabkan sistem kekebalan yang lemah. Hal ini dapat mempengaruhi kemampuan sel darah putih untuk memperbanyak, memproduksi antobodi, dan mencegah peradangan.
Kekurangan jam tidur, dapat menyebabkan sistem kekebalan tertekan. Tubuh membutuhkan tidur untuk memulihkan energi yang habis terpakai dan memungkinkan sel-sel darah putih memperkuat diri.
Vitamin, nutrisi, dan vitamin mineral defisiensi, gizi dan kekurangan mineral mengurangi kadar oksigen dalam aliran darah yang penting untuk sel-sel tubuh kita dan meningkatkan resiko peradangan ghati, prostat, dll.

F.    Upaya Intervensi Penanggulangan Masalah
    Dalam upaya penanggulangan masalah dapat dilakukan pencegahan terhadap keracunan, yaitu memodikasi gaya hidup diantaranya :
Mencuci tangan sebelum dan setelah menangani atau mengolah pangan.
Mencuci tangan setelah menggunakan toilet.
Mencuci dan membersihkan peralatan masak serta perlengkapan makan sebelum dan setelah digunakan.
Menjaga kebersihan tubuh yang baik dan olahraga teratur serta makanan sehat dan bergizi
Melindungi diri dari luka baik goresan, luka bakar dan luka luar
Hindari kontak dengan potensi sumber infeksi
Menjaga area dapur atau tempat mengolah pangan dari serangga dan hewan lainnya. Tidak meletakan pangan matang pada wadah yang sama dengan bahan pangan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang.
Tidak mengkonsumsi pangan yang telah kadaluarsa atau pangan dalam kaleng yang kalengnya telah rusak atau menggembung.
Tidak mengkonsumsi pangan yang telah berbau dan rasanya tidak enak.
Tidak memberikan madu pada anak yang berusia di bawah satu tahun untuk mencegah terjadinya keracunan akibat toksin dari bakteri Clostridium botulinum.
Mengkonsumsi air yang telah dididihkan.
Memasak pangan sampai matang sempurna agar sebagian besar bakteri dapat terbunuh. Proses pemanasan harus dilakukan sampai suhu di bagian pusat pangan mencapai suhu aman (>700C) selama minimal 20 menit.
Menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya suhu penyimpanan di bawah 50C).
Tidak membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam, karena mikroba dapat berkembang biak dengan cepat pada suhu ruang.
Mempertahankan suhu pangan matang lebih dari 600C sebelum disajikan. Dengan menjaga suhu di bawah 50C atau di atas 600C, pertumbuhan mikroba akan lebih lambat atau terhenti.
Menyimpan produk pangan yang harus disimpan dingin, seperti susu pasteurisasi, keju, sosis, dan sari buah dalam lemari pendingin.
Menyimpan produk pangan olahan beku, seperti nugget, es krim, ayam goreng tepung beku, dll dalam freezer.
Menyimpan pangan yang tidak habis dimakan dalam lemari pendingin.
Tidak membiarkan pangan beku mencair pada suhu ruang.
Membersihkan dan mencuci buah-buahan serta sayuran sebelum digunakan, terutama yang dikonsumsi mentah.
    Terapi Immunosuppression perlu dilakukan untuk menekan fungsi imun yang berlebihan. Sistem imun tubuh dapat membedakan antara antigen diri (self antigen) dengan antigen asing (non – self antigen). Dalam keadaan normal sistem imun mempertahankan fungsi fisiologis terhadap berbagai perubahan dari luar. Jika suatu antigen asing masuk ke dalam tubuh akan timbul respons imun, tetapi pada keadaan tertentu dapat tidak timbul respons imun. Suatu antigen disebut imunogen bila mampu membangkitkan respons imun, jadi bersifat imunogenik. Sebaliknya jika tidak menimbulkan respons imun disebut tolerogenik dan menimbulkan imunotoleransi.
    Pada keadaan tertentu respons imun dapat memberikan keadaan patologik misalnya pada keadaan hipersensitivitas atau juga dapat ditimbulkan oleh karena gangguan regulasi sistem imun, autoimunitas, dan defisiensi imun. Imonomodulasi adalah usaha untuk mengembalikan dan memperbaiki keadaan patologik tersebut menjadi normal kembali dengan cara menekan fungsi imun yang berlebihan (imunosupresi), atau memperbaiki sistem imun dengan merangsang sistem imun (imunopotesiasi).

G.     Keracunan Makanan dan Immunosuppression
    Keracunan makanan, biasanya disebabkan karena mengkonsumsi makanan & minuman yang telah terkontaminasi dengan bakteri, parasit atau virus.  Bahan kimia berbahaya juga dapat menyebabkan terjadinya keracunan makanan jika mereka mengkontaminasi makanan baik saat panen ataupun proses lainnya. Gejala umum dari keracunan makanan adalah sakit perut, diare, muntah-muntah, bahkan bisa menyebabkan kematian. Keracunan makanan sering terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan yang mengandung racun seperti bakteri, virus atau parasit. Menurut CDC, di Amerika diperkirakan terdapat 76 juta orang yang mengalami kasus  keracunan  makanan  setiap  tahunnya. Dari jumlah tersebut, 5000 orang meninggal dunia.
Penyebab keracunan makanan adalah:
  a)      Virus                     : Norovirus, Rotavirus, Hepatitis A
b)      Bakteri                  : Salmonella, Campylobacter, Escherichia coli (E coli), Shigella (traveler’s diarrhea), Listeria monocytogenes, Clostridium botulinum (botulism), Vibrio parahaemolyticus, Vibrio cholerae
  c)      Bahan Lain            : Jamur beracun, Keracunan ciguatera, Pestisida

Gejala akibat keracunan makanan, yaitu:
    a)      Kram perut
    b)      Mual
    c)      Muntah
    d)     Diare, kadang bercampur dengan darah
    e)      Demam
    f)       Dehidrasi

3.      Pencegahan Keracunan Makanan
    Ada enam langkah mencegah keracunan makanan diantaranya yaitu:
    a)      Pemilihan bahan makanan
    b)      Penyimpanan makanan mentah
    c)      Pengolahan bahan makanan
    d)     Penyimpanan makanan jadi
    e)      Pengangkutan
f)       Penyajian  makanan  kaya  serat, terlalu banyak gula, pedas, minuman kafein dan soda.

4.      Penanganan Kasus Keracunan dapat dilakukan sebagai berikut:
    a)      Pemberian obat anti muntah & diare
    b)      Bila terjadi demam dapat juga diberikan obat penurun panas
c)      Antibiotika jarang d iberikan untuk kasus keracunan  makanan karena pada beberapa kasus, pemberian antibiotika dapat memperburuk keadaan. Hanya pada kasus tertentu yang spesifik, antibiotika diberikan untuk memperpendek waktu penyembuhan
d)     Bila mengalami keracunan makanan karena jamur atau bahan kimia tertentu (pestisida). Penanganan yang lebih cepat harus segera diberikan, termasuk diantaranya pemberian cairan infus, tindakan darurat untuk menyelamatkan nyawa ataupun pemberian penangkal racunnya seperti misalnya karbon aktif. Karena kasus keracunan tersebut sangat serius, sebaiknya penderita langsung dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

H. Contoh – contoh Kasus Terkait dengan Immunosuppression
  Agen penyakit yang bersifat immunosupression antara lain :
Marek’s
Marek’s atau fowl paralysis, neurolymphomatosis, acute leukosis merupakn penyakit viral yang sangat menular. Penyebabnya adalag virus herpes yang memiliki struktur DNA. Sebagai penyakit immunosuppression, virus marek’s mempunyai target utama merusak sel limfosit T pembantu (Th), sel limfosit T sitotoksik dan sebagian kecil sel limfosit B. Selain itu, terjadi pengecilan bursa fabricius, thymus dan limpa yang merupakan pabrik sel limfosit T dan B. Kasus serangan Marek’s yang berat bisa menyebabkan degenerasi sumsum tulang belakang yang menjadi awal pembentukan sel bakal bagi sel limfosit.
Avian Leukosis
Merupakan penyakit tumor yang menyebabkan kerusakan pada organ limfoid primer. Avian leukosis disebabkan infeksi virus retrovirus yang mempunyai target utama merusak sel limfosit B matang yang telah mempunyai IgM terikat membran. Selain itu, adanya replika retrovirus pada bursa fabricius dn limp menyebabkan kedua organ limfoid ini menjdi kisut (atropi). Kerusakan kedua organ limfoid tersebut sekaligus kerusakan sel limfosit B matang akan menyebabkan menjadi terganggu.
Gumboro
Penyakit yang pertama kali terjadi di wilayah Gumboro, Delaware Amerika Serikat ini menjadikan sel limfosit B dan makrofag serta organ limfoidnya sebagai target utama infeksi. Sel limfosit B matang dan makrofag di jaringan usus menjadi sel yang terlebih dahulu terinfeksi virus Gumboro. Kemudian virus Gumboro secara sistematik menyebar sampai ke berbagai organ terutama bursa fabricius.

Adapun contoh dari kondisi dan penyakit yang dapat menyebabkan gangguan immunodefisiensi dalam kasus – kasus yang telah terjadi :
Ataksia – telangiectasia
Sindrom Chediak- Higashi
Penyakit imunodefisiensi gabungan
Hypogamaglobulinemia
Sindrom Job
Cacat adhesi leukosit
Panhypogammaglobulinemia
Penyakit Bruton
Agammaglobulinemia kongenital
Defisiensi selektif IgA
Sindrom Wiscott-Aldrich

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
    Immunosuppression merupakan kondisi dimana terjadi penurunan reaksi pembentukan zat kebal tubuh atau antibodi akibat kerusakan organ limfoid. Dengan adanya penurunan jumlah antibodi dalam tubuh, maka penyakit – penyakit akan lebih leluasa masuk dan menginfeksi bagian tubuh. Gangguan sistem imun meliputi gangguan limfosit T dan B, gangguan makrofag (inflamasi), gangguan sistem komplemen maupun gangguan imunitas sistemik. Hal tersebut akan menyebabkan adanya gangguan pertumbuhan dan produksi. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang kurang, meningkatnya kebutuhan metabolik dan menurunnya absorpsi zat gizi.
    Keracunan pangan adalah masuknya atau adanya kandungan zat – zat berbahaya yang ada di dalam bahan pangan sehingga merusak tau mengurangi fungsi dari bahan pangan tersebut. Pangan merupkan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakityang disebabkan oleh pangan. Keracunan pangan atau foodborne disease (penyakit bawaan makanan), terutama yang disebabkan oleh bakteri patogen masih menjadi masalah yang serius di berbagai negara termasuk Indonesia. Seringkali diberitakan terjadinya keracunan pangan akibat mengkonsumsi hidangan pesta, makanan jajanan, makanan catering, bahkan pangan segar. Terdapat tiga faktor kunci yang umumnya menimbulkan kejadian luar biasa (KLB) keracunan pangan akibat bakteri, yaitu kontaminasi – bakteri patogen harus ada dalam pangan ; pertumbuhan – dalam beberapa kasus, bakteri patogen harus memiliki kesempatan untuk berkembang biak dalam pangan untuk menghasilkan toksin atau dosis infeksi yang cukup untuk berkembang biak dalam pangan untuk menghasilkan toksin atau dosis infeksi yang cukup untuk menimbulkan penyakit ; daya hidup (survival) – jika berada pada kadar yang membahayakan, bakteri patogen harus dapat bertahan hidup dalam pangan selama penyimpanan dan pengolahannya.
Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki
Gizi Kesehatan Masyarakat (Public Health Nutrition). 2009. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Seto, Sagung. Pangan dan Gizi, Ilmu Tekologi Industri dan Perdagangan Internasional. 2001. IPB, Bogor.
Penuntun Diet Instalasi Gizi Perjan Rumah Sakit DR Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesia. 2005. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Winarno, F.G. Kimia Pangan dan Gizi. 2004. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Tim Saraswati. Rainbow Diet. 2008. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/pdf
Sandilee7.wordpress.com
“Defisiensi Sistem Imun” temankuyangsempurna.blogspot.com
“Immunosuppression” orangefruitsweet.blogspot.com
Dischanunut.blogspot.com/2012/06

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SUBSISTEM KESEHATAN DALAM EKOLOGI PANGAN DAN GIZI

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

   Masalah kesehatan yang terkait gizi di Indonesia semakin kompleks dalam beberapa dekade mendatang, karena Indonesia masih memerlukan waktu yang panjang untuk memerangi kemiskinan yang erat kaitannya dengan kekurangan gizi (undernutrition). Lambatnya pemulihan ekonomi dari krisis yang berkepanjangan, telah menambah kompleksnya masalah gizi di Indonesia. Disisi lain, prevalensi gizi lebih (overnutrition) dan segala implikasinya pada kesehatan dari waktu ke waktu cendrung naik seiring dengan derasnya arus global yang mempengaruhi budaya dan pola makan masyarakat Indonesia.
   Ketahanan pangan di suatu daerah pun ikut mempengaruhi ketersediian pangan hingga level rumah tangga. Tetapi meskipun sering berkaitan dengan masalah kekurangan pangan, pemecahannya tidak selalu berupa peningkatan produksi dan pengadaan pangan. Pada kasus tertentu, seperti dalam keadaan krisis (bencana alam, perang, kekacauan sosial, krisis ekonomi), masalah gizi muncul akibat masalah ketahanan pangan di tingkat rumah tangga, yaitu kemampuan rumah tangga memperoleh makanan untuk semua anggotanya. Karenanya, peningkatan status gizi masyarakat memerlukan kebijakan yang menjamin setiap anggota masyarakat untuk memproleh makanan yang cukup jumlah dan mutunya, dalam konteks itu masalah gizi tidak lagi semata-mata masalah kesehatan tapi juga masalah kemiskinan, pemerataan, dan masalah kesempatan kerja.
Tujuan
Tujuan Umum
Tujuan pembuatan makalah ini adalah memberikan gambaran umum mengenai pengaruh pangan terhadap kesehatan dan gizi
Tujuan Khusus
Memberikan penjelasan mengenai pengertian sub sistem kesehatan dan gizi
Memberikan penjelasan mengenai determinan yang berpengaruh terhadap sub sistem kesehatan dan gizi
Memberikan penjelasan mengenai masalah kesehatan dan gizi regional dan nasional
Memberika penjelasan mengenai impliksi gizi dalam pembangunan
Memberikan penjelasan mengenai peran pemerintah dalam regulasi kesehatan dan gizi prevalensi, imunitas dan infeksi, peran gizi.

Manfaat
    
   Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi perpustakaan Stikes Jendral Ahmad Yani Cimahi serta menjadi masukan bagi mahasiswa dan mahasiswi Stikes Jendral Ahmad Yani untuk memperkaya bahan bacaan.

Sistematika Penulisan

   Agar penulisan makalah ini lebih sistematis, penyusun membagi makalah ini dalam 4 bab, yaitu:
Bab I : Pendahuluan
Bab ini berisi ringkasan tentang isi makalah secara keseluruhan. Pembagian bab ini meliputi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat, dan sistematika makalah.
Bab II : Kajian Teoritis
Bab ini berisi mengenai pengertian, factor-faktor determinan, masalah kesehatan gizi regional dan nasional, implikasi gizi, serta peran pemerintah dalam regulasi kesehatan
Bab III : Pembahasan
Bab ini akan dibahas mengenai masalah kesehatan dan gizi regional dan nasional, impliksi gizi dalam pembangunan dan peran pemerintah dalam regulasi kesehatan dan gizi prevalensi, imunitas dan infeksi, peran gizi
Bab IV : Simpulan dan Saran
Bab ini memuat beberapa simpulan yang diperoleh dari makalah ini dan saran untuk pengembangannya.

BAB II
KAJIAN TEORITIS

Pengertian

   Kesehatan Menurut Undang-Undang adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup    produktif secara sosial dan ekonomis.
    Kesehatan menurut WHO diartikan sebagai keadaan baik secara menyeluruh termasuk kondisi fisik, mental dan sosialnya, tidak sekedar ketiadaan suatu penyakit atau kecacatan. Dalam pengertian kesehatan seperti inilah setiap kondisi lingkungan yang berpengaruh kepada gangguan fisik, mental, dan sosial seseorang pada dasarnya adalah pengaruh lingkungan terhadap kesehatan
   Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zatyang tidak digunakan unruk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi.
   Subsistem gizi merupakan resultante dari subsistem sebelumnya, subsistem ini dicerminkan oleh status gizi yang berkaitan dengan penyerapan dan penggunaan zat gizi oleh tubuh. Dalam hal ini, pangan akan mengalami berbagai tahapan, yaitu pencernaan yang terjadi dari mulut sampai usu, penyerapan (proses zat gizi masuk kedalam darah dan diangkut kesel-sel), pemecahan dan sintesis dalam sel dan pembuangan bahan-bahan yang tidak diperlukan.
   Mulai proses pencernaan dalam tubuh, makanan dipecah menjadi zat gizi, kemudian diserap kedalam aliran darah yang mengangkutnya ke berbagai bagian tubuh. Zat gizi yang tidak diperlukan setelah diserap segera disimpan dalam tubuh untuk penggunaan dikemudian hari.
   Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan proses penggunaan zat gizi oleh tubuh.
1)    Kelebihan makan melampaui kebutuhan tubuh akan menyebabkan kegemukan.
2)    Kekurangan energi didalam makanan akan menyebabkan protein makanan (jika perlu juga protein jaringan) dipergunakan sebagai sumber tenaga. Ini sangat merugikan karena pangan sumber protein sangat mahal dan pengurangan jaringan protein akan melemahkan tubuh.
3)    Semua zat gizi sangat penting dalam proses pemecahan dan sintesis zat gizi. Jika makanan tersusun secara seimbang maka akan dihasilkan kesehatan yang sempurna.

Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi dan Kesehatan

   Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia dan riwayat diet.

Faktor Eksternal

   Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
 1) Pendapatan
Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki keluarga tersebut (Santoso, 1999).
2) Pendidikan
Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk mewujudkan dengan status gizi yang baik.
3) Pekerjaan
Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh terhadap kehidupan keluarga.
4) Budaya
  Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku dan kebiasaan.

Faktor Internal

       Faktor internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
    1) Usia
Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita
2) Kondisi Fisik
Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk, adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all, 1986).
3) Infeksi
Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et, all, 1986).

Gambar 1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keadaan Gizi

   Status gizi dapat dinilai dengan dua cara, yaitu penilaian status gizi secara langsung dan penilaian status gizi secara tidak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dilakukan dengan empat cara yaitu (Supariasa, 2002:19):
Antropometri
Klinis
Biokimia
Biofisik
   Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi tiga yaitu: survey konsumsi makanan, statistik vital, dan faktor ekologi.

Kesehatan Gizi Regional dan Nasional

Analisis Gizi Regional

   Di daerah Indonesia Bagian Timur seperti Papua, Papua Barat, dan NTT masih menjadi daerah yang rawan bergizi buruk yang menyebabkan permasalahan seperti  stunting (pendek dan sangat pendek).
   Menurut Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu Anak (KIA) Kemenkes, Anung Sugihantoro, 5,8 juta balita usia 0-5 tahun terkena gizi buruk. Dalam hal ini peran Kemenkes dalam mengatais gizi buruk hanya 30%, selebihnya dilakukan oleh Pemda dan kementerian terkait untuk menuntaskan gizi buruk.
   Menurut Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan Kementerian PPN (Bappenas), Nina Sardjunan, salah satu permasalahan gizi di Indonesia ialah prevalensi balita yang menderita stunting dibadingkan dengan standar tinggi badan dari WHO. Hasil Riskesdas 2013, besarnya prevalensi stunting adalah 37% dengan disparitas yang cukup besar untuk provensi.
   Hal ini berdampak pada pertumbuhan dan kognitif anak, terganggunya kualitas dan anak dan risiko terkena penyakit tidak menular. Pad beberapa daerah tertentu stunting mencapai 50%. Sedang dilakukan upaya nyata untuk mengatasi permasalahan stunting di 11 provinsi meliputi 64 kabupaten dan sekira 7.000 desa, dengan dilakukan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Demikian diperlukan upaya setiap stakeholder mulai dari Pemda sampai dengan pusat untuk menuntaskan permasalahan gizi. 
   Sedangkan pada daerah Jawa banyak daerah yang bergizi lebih yang menimbulkan permasalahan obesitas (kegendutan). Menurut Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, permasalahan masyarakat terkait gizi bukan hanya gizi kurang tetapi juga gizi berlebih. Tantangan ke depan ialah meningkatnya kasus gizi berlebih, dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2013 prevalensi obesitas pada usia balita adalah 11,9%. Selanjutnya, obesitas pada usia dewasa adalah 32,9% pada perempuan dan laki-laki 19,7 %.
   Perbaikan gizi harus dimulai di masa kandungan. Kondisi saat ini masih banyak para ibu hamil yang kekurangan darah, akibat jarangnya mengkonsumsi sayuran, buah dan asupan vitamin. Tidak sedikit juga para ibu yang mengandung mengalami kegemukan, sehingga menyebabkan diabetes, penyakit tidak menular dan hipertensi yang berakibat buruk untuk kesehatan anak. Kondisi anak di dalam kandungan sangat menentukan kualitas anak, remaja sampai kepada usia produktif.
   Disarankan jika suatu desa yang sulit mendapatkan sayur dan buah untuk menanam sendiri sayuran dan buah-buahan. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi asupan vitamin untuk setiap keluarga.
   Untuk menjaga keseimbangan tubuh agar tidak obesitas, masyarakat harus mengatur pola makan serta memperhatikan kandungan gizi atas kebutuhan tubuh. utamanya melakukan gerak badan sehingga antara yang dimakan dengan energi yang dikeluarkan dapat seimbang.
   
Analisis Gizi Nasional

   Menurut Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, dari berbagai sumber data, perkembangan masalah gizi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
Masalah gizi yang secara public health sudah terkendali
Masalah yang belum dapat diselesaikan (un-finished)
Masalah gizi yang sudah meningkat dan mengancam kesehatan masyarakat (emerging).
   Masalah gizi lain yang juga mulai teridentifikasi dan perlu diperhatikan adalah defisiensi vitamin D.
   Terdapat ada tiga masalah gizi yang sudah dapat dikendalikan, yaitu:
Kekurangan Vitamin A pada anak balita
Gangguan Akibat Kurang Iodium
Anemia Gizi pada anak 2-5 tahun
   Penanggulangan masalah Kurang Vitamin A (KVA) pada anak balita sudah dilaksanakan secara intensif sejak tahun 1970-an, melalui distribusi kapsul vitamin A setiap 6 bulan dan peningkatan promosi konsumsi makanan sumber vitamin A. Dua survei terakhir tahun 2007 dan 2011 menunjukkan, secara nasional proporsi anak dengan serum retinol kurang dari 20 ug sudah di bawah batas masalah kesehatan masyarakat, artinya masalah kurang vitamin A secara nasional tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat. 
   Penanggulangan GAKI dilakukan sejak tahun 1994 dengan mewajibkan semua garam yang beredar harus mengandung iodium sekurangnya 30 ppm. Data status Iodium pada anak sekolah sebagai indikator gangguan akibat kurang Iodium selama 10 tahun terakhir menunjukkan hasil yang konsisten. Median Ekskresi Iodium dalam Urin (EIU) dari tiga survai terakhir berkisar antara 200-230 g/L, dan proporsi anak dengan EIU <100 g/L di bawah 20%. Secara nasional masalah gangguan akibat kekurangan Iodium tidak lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. 
   Masalah gizi ketiga yang sudah bisa dikendalikan adalah anemia gizi pada anak 2-5 tahun. Prevalensi anemia pada anak mengalami penurunan, yakni 51,5% (1995) menjadi 25,0% (2006) dan 17,6% (2011).
   Masalah gizi yang belum selesai adalah masalah gizi kurang dan pendek (stunting). Pada tahun 2010 prevalensi anak stunting 35.6 %, artinya 1 diantara tiga anak kita kemungkinan besar pendek. Sementara prevalensi gizi kurang telah turun dari 31% (1989), menjadi 17.9% (2010). Dengan capaian ini target MDGs sasaran 1 yaitu menurunnya prevalensi gizi kurang menjadi 15.5% pada tahun 2015 diperkirakan dapat dicapai. 
   Disparitas masalah gizi kurang menurut propinsi sangat lebar. Beberapa propinsi mengalami kemajuan pesat dan prevalensinya sudah relatif rendah, tetapi beberapa propinsi lain prevalensi gizi kurang masih sangat tinggi.
   Hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 mengungkapkan bahwa faktor pengetahuan, perilaku masyarakat sangat berpengaruh terhadap kejadian gizi kurang di masyarakat. Data lain menunjukkan bahwa prevalensi gizi kurang juga dipengaruhi oleh tingkat pendidikan.
   Sementara itu, masalah gizi yang mengancam kesehatan masyarakat (emerging) adalah gizi lebih. Hal ini merupakan masalah baru selama beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan kenaikan. Prevalensi gizi lebih, baik pada kelompok anak-anak maupun dewasa meningkat hampir satu persen setiap tahun. Prevalensi gizi lebih pada anak-anak dan dewasa, masing-masing 14,4% (2007) dan 21,7% (2010).
   Di samping itu, menurut Menteri Kesehatan RI bahwa secara umum pola konsumsi pangan masih belum mencerminkan pola makan yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Karakteristik pola konsumsi pangan masyarakat (Susenas, 2011), antara lain: Konsumsi kelompok minyak dan lemak, sudah diatas anjuran kecukupan; Konsumsi sayur/buah baru mencapai 63,3%; Konsumsi pangan hewani 62,1%; Konsumi kacang-kacangan 54%; Konsumsi umbi-umbian 35,8%; dan Kontribusi pangan olahan dalam pola makan sehari-hari sudah tinggi.

Implikasi Gizi dalam Pembangunan

   Pangan dan gizi merupakan salah satu faktor yang mempunyai peran yang sangat penting dalam pencapaian IPM dari suatu negara. Indeks Pembanguna Manusia (IPM)/Human Development Index (HDI) digunakan untuk mengklasifikasikan apakah sebuah negara adalah negara maju, negara berkembang atau negara terbelakang dan juga untuk mengukur pengaruh dari kebijaksanaan ekonomi terhadap kualitas hidup.
   IPM adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan, dan standar hidup untuk semua negara. IPM mengukur pencapaian rata-rata sebuah negara dalam 3 dimensi dasar pembangunan manusia yaitu :
1) Hidup yang sehat dan panjang umur yang diukur dengan harapan hidup saat kelahiran
2) Pengetahuan yang diukur dengan angka tingkat baca tulis pada orang dewasa
3) Standar kehidupan yang layak diukur dengan logaritma natural dari produk domestik bruto per kapita dalam paritas daya beli.
   Peran pangan dan gizi sebagai modal pembangunan bangsa, seperti ulasan berikut:

Pangan dan Gizi untuk Pertumbuhan dan Kecerdasan

   Konsumsi makanan yang beragam, bergizi seimbang dan aman dapat memenuhi kecukupan gizi individu untuk tumbuh dan berkembang. Gizi pada ibu hamil sangat berpengaruh pada perkembangan otak janin, sejak dari minggu ke empat pembuahan sampai lahir dan sampai anak berusia 2 tahun.
   
   
Pangan dan Gizi untuk Kesehatan dan Produktivitas
   Faktor makanan dan penyakit infeksi, sebagai penyebab langsung masalah gizi, keduanya saling berkaitan. Anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi.
   Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat gizi buruk.
   Oleh karena itu, mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk. BBLR akibat kurang energy kronik (KEK) pada ibu hamil, dapat meningkatkan angka kematian bayi dan anak balita. Anemia kurang zat besi pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko kematian waktu melahirkan dan melahirkan bayi yang juga menderita anemia. Kurang vitamin A (KVA) pada bayi dan anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan resiko kebutaan, dan meningkatkan resiko kesakitan dan kematian akibat infeksi (Tarwotjo, et al 1989).
   
Pangan dan Gizi sebagai Penentu Daya Saing Bangsa
   
   Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi kehilangan generasi (generation lost) yang dapat mengganggu kelangsungan berbagai kepentingan bangsa dan negara.
   Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh, mental yang kuat, kesehatan yang prima, serta tangkas dan cerdas. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik, dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah dan kualitas asupan pangan yang dikonsumsi.

Peran Pemerintah dalam Regulasi Kesehatan dan Gizi Prevalensi, Imunitas dan Infeksi

   Pemerintah dituntut untuk mampu menyelesaikan masalah ini secara politik. Sejak tahun 2000, penerapan program-program yang mendukung MDGs ini telah mulai dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah. Indonesia memiliki tugas penting untuk mengentaskan kasus gizi buruk melalui program-program pemberdayaan dan optimalisasi fungsi Posyandu, kegiatan pendampingan, dan pemberian makanan tambahan untuk meningkatkan status gizi. Meskipun telah mengalami tren penurunan, namun jumlah penderita gizi buruk di Indonesia masih tergolong tinggi.
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

BAB III
PEMBAHASAN

Masalah Kesehatan Gizi Regional dan Nasional

   Kerawanan pangan di Indonesia dapat diketahui dari tingkat kecukupan gizi masyarakat yang diukur dari Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG merupakan tingkat konsumsi zat-zat gizi esensial yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi hampir semua orang sehat di suatu negara. AKG diperoleh dari data Susenas BPS yang dikumpulkan setiap triwulan dalam tahun. Angka kecukupan konsumsi kalori penduduk Indonesia per kapita per hari berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) 2004 adalah 2000 kkal. Persentase rawan pangan berdasar angka kecukupan gizi (AKG) suatu daerah, dihitung dengan menjumlahkan penduduk dengan konsumsi kalori kurang dari 1400 kkal (70% AKG) perkapita dibagi dengan jumlah penduduk pada golongan pengeluaran tertentu. Tahun 2008 sampai dengan saat ini terjadi peningkatan persentase jumlah penduduk rawan pangan setiap tahun (Tabel 1).

   Berdasarkan Tabel 1. Persentase Angka Rawan Pangan Tahun 2008-2012, diperoleh bahwa pada tahun 2012 ternyata masih terdapat 47,64 juta penduduk atau 19,46 persen dari seluruh penduduk di Indonesia yang mengalami kondisi sangat rawan pangan dan apabila dibiarkan terjadi selama dua bulan berturut-turut akan menjadi rawan pangan akut yang menyebabkan kelaparan (BPS, 2013).
   Pada tahun 2007 prevalensi anak balita yang mengalami gizi kurang dan pendek masing-masing 18,4 persen dan 36,8 persen sehingga Indonesia termasuk di antara 36 negara di dunia yang memberi 90 persen kontribusi masalah gizi dunia (UN-SC on Nutrition 2008). Walaupun pada tahun 2010 prevalensi gizi kurang dan pendek menurun menjadi masing-masing 17,9 persen dan 35,6 persen, tetapi masih terjadi disparitas antar provinsi yang perlu mendapat penanganan masalah yang sifatnya spesifik di wilayah rawan (Riskesdas 2010).
   Masalah gizi sangat terkait dengan ketersediaan dan aksesibilitas pangan penduduk. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2009 jumlah penduduk sangat rawan pangan (asupan kalori <1.400 Kkal/orang/hari) mencapai 14,47 persen, meningkat dibandingkan dengan kondisi tahun 2008, yaitu 11,07 persen. Rendahnya aksesibilitas pangan (kemampuan rumah tangga untuk selalu memenuhi kebutuhan pangan anggotanya) mengancam penurunan konsumsi makanan yang beragam, bergizi-seimbang, dan aman di tingkat rumah tangga. Pada akhirnya akan berdampak pada semakin beratnya masalah kurang gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan yaitu ibu, bayi dan anak.
   Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang dilakukan pada tahun 2007 dan 2010 secara konsisten menunjukkan bahwa rata-rata asupan kalori dan protein anak balita masih di bawah Angka Kecukupan Gizi (AKG). Akibat dari keadaan tersebut, anak balita perempuan dan anak balita laki-laki Indonesia mempunyai rata-rata tinggi badan masing-masing 6,7 cm dan 7,3 cm lebih pendek daripada standar rujukan WHO 2005, bahkan pada kelompok usia 5-19 tahun kondisi ini lebih buruk karena anak perempuan pada kelompok ini tingginya 13,6 cm di bawah standar dan anak laki-laki 10,4 cm di bawah standar WHO. Kelompok ibu pendek juga terbukti melahirkan 46,7 persen bayi pendek. Karena itu jelas masalah gizi intergenerasi ini harus mendapat perhatian serius karena telah terbukti akan mempengaruhi kualitas bangsa. Anak yang memiliki status gizi kurang atau buruk (underweight) berdasarkan pengukuran berat badan terhadap umur (BB/U) dan pendek atau sangat pendek (stunting) berdasarkan pengukuran tinggi badan terhadap umur (TB/U) yang sangat rendah disbanding standar WHO mempunyai resiko kehilangan tingkat kecerdasan atau intelligence quotient (IQ) sebesar 10-15 poin.
Peran Pemerintah dalam Regulasi Kesehatan dan Gizi Prevalensi, Imunitas dan Infeksi, serta Peran Gizi

   Penyusunan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2011-2015 yang merupakan kelanjutan RAN-PG 2006 -2010 menjadi penting artinya dalam rangka integrasi penanganan pangan dan gizi baik oleh pemerintah di tingkat pusat maupun di daerah. Sinergi dan keterpaduan pembangunan bidang pangan dan gizi akan menjadi kekuatan potensial dalam pelaksanaan Program Pembangunan yang Berkeadilan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Milennium (MDGs) sebagaimana dituangkan oleh World Food Summit tahun 2009 bahwa ketahanan pangan terjadi ketika semua orang, setiap saat memiliki akses fisik, sosial dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan makanan mereka dan diutamakan makanan untuk hidup aktif dan sehat.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

subsitem komsumsi dalam ekologi pangan dan gizi

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sholawat serta salam yang senantiasa tercurah kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah mengenai “Sub Sistem Konsumsi”.
    Kami menyadari bahwa proses penulisan Makalah ini mendapat bantuan dan masukan dari berbagai pihak. Semoga kebaikan dari semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini mendapat balasan dari Allah SWT.Penyusun berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun pada khususnya dan pembaca pada umumnya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Cimahi, Maret 2014
                        
Penyusun

DAFTAR ISI
      Halaman
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang 1
Tujuan… 2
Manfaat 3
Sistematika Penulisan 3

BAB II TINJAUAN TEORI
Pengertian Sub Sistem Konsumsi 4
Determinan Berpengaruh Terhadap Sub Sistem
Konsumsi Pangan 4
Kebijakan Pemerintah Dalam Ketahanan Pangan Dan Gizi
Ditingkat Keluarga 7
Pengertian, Peran “Buffer Stock” Dalam Keterjaminan
PanganNasional Dalam Persfektif Masa Lampau, Kini Dan
Dimasa Mendatang 9
Peran Pemerintah Dalam Regulasi Komsumsi 12

BAB III PENUTUP
Kesimpulan 16
Saran 16

Daftar Pustaka 17

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
    Dalam undang-undang RI Nomor 7 tahun 1996 disebutkan bahwa ke-tahanan pangan merupakan kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pengembangan ketahanan pangan mempunyai perspektif pembangunan yang sangat mendasar karena:
Akses terhadap pangan dengan gizi seimbang bagi segenap rakyat Indonesia merupakan hak yang paling azasi bagi manusia.
Keberhasilan dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia sangat ditentukan oleh keberhasilan pemenuhan kecukupan dan konsumsi pangan dan gizi.
Ketahanan pangan merupakan basis atau pilar utama dalam mewujudkan ketahanan ekonomi dan ketahanan nasional yang berkelanjutan (Anonymous, 2001).
    Ketahanan pangan merupakan suatu sistem yang terintegrasi yang terdiri atas berbagai subsistem. Subsistem utamanya adalah ketersediaan pangan, distribusi pangan dan konsumsi pangan. Terwujudnya ketahanan pangan merupakan sinergi dari interaksi ketiga subsistem tersebut. Salah satu dari subsistem utama yaitu subsistem konsumsi pangan.
    Konsumsi pangan adalah banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Subsistem konsumsi pangan adalah himpunan berbagai unsur atau faktor yang saling berinteraksi dan berpengaruh terhadap konsumsi pangan.
    Subsistem konsumsi pangan menyangkut upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik, sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal. Konsumsi pangan hendaknya memperhatikan asupan pangan dan gizi yang cukup dan berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif. Dalam subsistem konsumsi terdapat aspek penting lain yaitu aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan merupakan suatu cara untuk memperoleh keragaman konsumsi zat gizi sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertentu, yaitu beras. Ketergantungan yang tinggi dapat memicu instabilitas apabila pasokan pangan tersebut terganggu. Sebaliknya agar masyarakat menyukai pangan alternatif perlu peningkatan cita rasa, penampilan dan kepraktisan pengolahan pangan agar dapat bersaing dengan produk-produk yang telah ada. Dalam kaitan ini peranan teknologi pengolahan pangan sangat penting (jurnal Mahela dan Susanto).
Tujuan
Tujuan Umum
    Tujuan pembuatan makalah ini adalah memberikan gambaran umum mengenai subsistem konsumsi
Tujuan Khusus
Memberikan penjelasan mengenai pengertian sub sistem konsumsi.
Memberikan penjelasan mengenai determinan yang berpengaruh terhadap sub sistem konsumsi pangan
Memberikan penjelasan mengenai kebijakan pemerintah dalam ketahanan pangan dan gizi ditingkat keluarga
Memberikan penjelasan mengenai pengertian, peran buffer stock dalam keterjaminan pangan nasional dalam persfektif masa lampau kini dan dimasa mendatang
Memberikan penjelasan mengenai peran pemerintah dalam regulasi konsumsi
Manfaat
    Makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai referensi perpustakaan Stikes Jendral Ahmad Yani Cimahi serta menjadi masukan bagi mahasiswa dan mahasiswi Stikes Jendral Ahmad Yani untuk memperkaya bahan bacaan.
Sistematika Penulisan Makalah
    Agar penulisan makalah ini lebih sistematis, penyusun membagi makalah ini dalam 4 bab, yaitu:
Bab I : Pendahuluan
 Bab ini berisi ringkasan tentang isi makalah secara keseluruhan. Pembagian bab ini meliputi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat dan sistematika makalah.
Bab II : Kajian Teoritis
Bab ini berisi mengenai definisi, determinan yang berpengaruh, kebijakan pemerintah, buffer stock, dan peran pemerintah dalam regulasi.
Bab III : Simpulan dan Saran
 Bab ini memuat beberapa simpulan yang diperoleh dari makalah ini dan saran untuk pengembangannya.

BAB II
TINJAUAN TEORI
Pengertian Sub Sistem Konsumsi
    Subsistem konsumsi berfungsi mengarahkan agar pola pemanfaatan pangan secara nasional memenuhi kaidah mutu, keragaman, kandungan gizi, kemananan dan kehalalannya
    Subsistem konsumsi pangan menyangkut upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mempunyai pemahaman atas pangan, gizi dan kesehatan yang baik, sehingga dapat mengelola konsumsinya secara optimal. Konsumsi pangan hendaknya memperhatikan asupan pangan dan gizi yang cukup dan berimbang, sesuai dengan kebutuhan bagi pembentukan manusia yang sehat, kuat, cerdas dan produktif. Dalam subsistem konsumsi terdapat aspek penting lain yaitu aspek diversifikasi. Diversifikasi pangan merupakan suatu cara untuk memperoleh keragaman konsumsi zat gizi sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat atas satu jenis pangan pokok tertentu, yaitu beras. Ketergantungan yang tinggi dapat memicu instabilitas apabila pasokan pangan tersebut terganggu. Sebaliknya agar masyarakat menyukai pangan alternatif perlu peningkatan cita rasa, penampilan dan kepraktisan pengolahan pangan agar dapat bersaing dengan produk-produk yang telah ada. Dalam kaitan ini peranan teknologi pengolahan pangan sangat penting (mahela dan susanto, 2006).
    
Determinan Berpengaruh Terhadap Sub Sistem Konsumsi Pangan
Aspek Konsumsi Pangan
Teknis
Belum berkembangnya teknologi dan industri pangan berbasis sumber daya pangan local
Belum berkembangnya produk pangan alternatif berbasis sumber daya pangan lokal.
Sosial-ekonomi
Tingginya konsumsi beras per kapita per tahun ( tertinggi di dunia > 100 kg, Thailand 60 kg, Jepang 50 kg) .
Kendala budaya dan kebiasaan makan pada sebagian daerah dan etnis sehingga tidak mendukung terciptanya pola konsumsi pangan dan gizi seimbang serta pemerataan konsumsi pangan yang bergizi bagi anggota rumah tangga.
Rendahnya kesadaran masyarakat, konsumen maupun produsen atas perlunya pangan yang sehat dan aman.
Ketidakmampuan bagi penduduk miskin untuk mencukupi pangan dalam jumlah yang memadai sehingga aspek gizi dan keamanan pangan belum menjadi perhatian utama.
    Kualitas dan kuantitas konsumsi pangan sebagian besar masyarakat masih rendah, yang dicirikan pada pencapaian Pola Pangan Harapan (PPH).Kondisi tersebut, tidak terlepas dari berbagai permasalahan yang dihadapidalam pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan menuju polakonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman, antara lain:
keterbatasan kemampuan ekonomi dari keluarga;
keterbatasan pengetahuan dan kesadaran tentang pangan dan gizi;
adanya kecenderungan penurunan proporsi konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal;
lambatnya perkembangan, penyebaran, dan penyerapan teknologi pengolahan pangan lokal untuk meningkatkan kepraktisan dalam pengolahan, nilai gizi, nilai ekonomi, nilai sosial, citra, dan daya terima;
adanya pengaruh globalisasi industri pangan siap saji yang berbasis bahan impor, khususnya gandum;
adanya pengaruh nilai-nilai budaya kebiasaan makan yang tidak selaras dengan prinsip konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman.
    Sampai saat ini, pembinaan dan sosialisasi penganekaragamankonsumsi pangan yang dilakukan Badan Ketahanan Pangan masih belumoptimal, yang ditandai oleh:
keterbatasan dalam memberikan dukungan program bagi dunia usaha dan asosiasi yang mengembangkan aneka produk olahan pangan lokal;
kurangnya fasilitasi pemberdayaan ekonomi masyarakat untuk meningkatkan aksesibilitas pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman;
dukungan sosialisasi, promosi dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui berbagai media, masih terbatas; dan
masih sedikitnya informasi menu/kuliner berbasis pangan local.
    Berbagai kasus gangguan kesehatan manusia akibat mengkonsumsi pangan yang tidak aman oleh cemaran berbagai jenis bahan kimia, biologis, dan fisik lainnya yang membawa penyakit, telah terjadi di berbagai daerah bahkan tergolong sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).Kasus-kasus pangan hewani yang terkena wabah penyakit antraks, penyakit flu burung, beredarnya bahan makanan dan minuman olahan tanpa izin edar serta melanggar ketentuan batas kadaluarsa, dan penggunaan bahan tambahan pangan terlarang, dapat membahayakan kesehatan bahkan menyebabkan kematian. Hasil pemantuan dan evaluasi menunjukkan, bahwa masih banyakpermasalahan yang dihadapi dalam penanganan keamanan pangan, antaralain:
kurangnya pengetahuan dan kepedulian masyarakat produsen dankonsumen terhadap pentingnya keamanan pangan, terutama pada produk pangan segar;
belum difahami dan diterapkannya cara-cara budidaya danproduksi pertanian yang baik dan benar;
belum optimalnya control penggunaan pestisida, bahan kimia, dan bahan tambahan pengawet;
masihburuknya praktek-praktek sanitasi dan higiene dalam produksi;
belumadanya ketentuan teknis tentang kewajiban peritel untuk menerapkan Good Ritel Practices (GRP);
masih rendahnya kesadaran para ritel untuk menjualproduk segar yang aman dan bermutu;
belum efektifnya penanganan danpengawasan keamanan pangan, karena sistem yang dikembangkan, SDM, dan pedoman masih terbatas;
terbatasnya laboratorium yang telah terakreditasi;
merebaknya penyalahgunaan bahan kimia berbahaya untuk pangan segar;
standar keamanan pangan untuk sayur dan buah segar impor belum jelasditerapkan, sehingga buah impor yang belum terjamin keamanan pangannyamasih mudah masuk ke dalam negeri;
belum ada penerapan sanksi yangtegas bagi pelanggar hukum di bidang pangan segar;
koordinasi lintas sector dan subsektor terkait dengan keamanan pangan belum optimal; dan
kurangnya kesadaran pihak pengusaha/pengelola pangan untuk menerapkanperaturan/standar yang telah ada.

Kebijakan Pemerintah Dalam Ketahanan Pangan Dan Gizi Ditingkat Keluarga
    Ketahanan pangan rumah tangga dapat dibangun melalui pemanfaatan lahan pertanian dan lahan pekarangan yang ada di sekitar rumah dengan tanaman pangan, ternak kecil, ikan dan unggas.Dengan semakin sempitnya kepemilikan lahan, perlu dioptimalkan pemanfaatan peKarangan yang disamping sebagai pendapatan keluarga, juga untuk mencukupi kebutuhan gizi anggota keluarga.Ketahanan pangan rumah tangga akan mendukung ketahanan pangan wilayah, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai tingkat nasional.
    Beragam bentuk bantuan pemberdayaan masyarakat untuk mengatasi kerawanan pangan antara lain :
Kegiatan Desa Mandiri Pangan kepada Kelompok masyarakat untuk mendukung kegiatan:
Pembuatan kandang kambing komunal
Pembuatan kolam ikan
Bantuan bibit ikan
Bantuan bibit kelinci
Bantuan alat pembuatan kompos
Bantuan intensifikasi pekarangan model vertikultur -silvikultur.
Kegiatan Diversifikasi Pangan kepada masyarakat yang mengkonsumsi pangan pokok non beras (jagung), yaitu usaha masyarakat yang mengoperasikan unit alat & mesin penepung jagung dan singkong.
Kegiatan budidaya sayuran organik pada Kelompok Tani, berupa paranet untuk green house.
Kegiatan pengolahan pangan pada kelompok wanita yang mengoperasikan alat & mesin penepung jagung, sealer, kompor gas, peralatan memasak dll
    Pekarangan sebagian besar hanya dimanfaatkan sebagai penunjang konsumsi sehari-hari serta belum banyak mempehatikan aspek keragaman dan budidaya.Untuk mensinergikan antara potensi pekarangan yang ada dengan permasalahan pangan dan gizi yang terjadi, maka fungsi pemanfaatan pekarangan perlu ditingkatkan lagi, baik dipedesaan maupun di perkotaan.
    Lahan pekarangan yang dikelola secara optimal dapat memberikan manfaat bagi rumah tangga dan keluarga yang mengelolanya. Lahan pekarangan yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat antara lain adanya peningkatan gizi keluarga, tambahan pendapatan keluarga, lingkungan rumah asri, teratur, indah dan nyaman.
   Tujuan dari pemanfaatan pekarangan adalah :
Memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga secara berkesinambungan melalui pemanfaatan pekarangan.
Meningkatkan ketrampilan keluarga tani-nelayan dalam budidaya tanaman, ternak dan ikan serta pengolahannya dengan teknologi tepat guna.
Meningkatkan pendapatan keluarga tani-nelayan mellui kerjasama pemanfaatan pekarangan dengan berkelompok dalam skala usaha ekonomi.

Pengertian, Peran “Buffer Stock” Dalam Keterjaminan Pangan Nasional Dalam Persfektif Masa Lampau, Kini, Dan Dimasa Mendatang.
    Persediaan (stock) adalah fungsi dari pasokan dan permintaan yang sangat dipengaruhi oleh produksi dan pengadaan lainnya. Kedua peubah fungsi ini tidak sepenuhnya dapat dikendalikan sehingga sulit untuk diperkirakan. Fluktuasi produksi semakin sering terjadi akibat perubahan iklim, serangan hama dan penyebab gagal panen laiinya sehingga pasokan sering sangat labil (IFRI, 2001). Di sisi lain, permintaan seringkali melonjak secara tiba-tiba baik menghadapi hari besar atau akibat bencana alam atau perubahan pola perdagangan yang mendorong konsumen untuk menambah persediaan melebihi biasanya. Permainan dalam perdagangan sering juga menjadi pemicu perubahanpola permintaan.
    Ketidakmenentuan perilaku pasokan, permintaan dan pasar secara umum mengharuskan adanya penyangga (buffer) pasokan sebagai pengendali gejolak dan kelabilan ketahanan pangan.Inilah yang menjadi esensi dari persediaan.Banyak faktor yang mempengaruhi persediaan mulai dari produksi, konsumsi dan perdagangan.Tulisan ini membahas peran persediaan dalam memperkuat ketahanan pangan diawali dengan konsep definisi, permasalahan, lembaga terkait (khususnya perum bulog) dan diakhiri dengan usulan penguatan lembaga ketahanan pangan nasional.
    
    Badan Urusan Logistik (BULOG) merupakan badan khusus yang ditugaskan oleh pemerintah untuk mengelola pengadaan, penyaluran, dan pengendalian harga bahan-bahan makanan tertentu yang sangat diperlukan dan besar pengaruhnya atas ketentraman masyarakat. Tugas BULOG ini adalah menjamin kesinambungan dan kelancaran pengadaan serta penyaluran bahan-bahan makanan penting bagi masyarakat dan mengusahakan stabiliotas harga di pasaran dari bahan-bahan tersebut.
    Sejak tahun 1998 pengawasan BULOG atas sembako dihapuskan kecuali beras.Kedua tugas BULOG tersebut dibantu oleh cabang-cabangnya di daerah – daerah yang disebut Depotlogistic (DOLOG) dan Subdepot Logistik (SUBDOLOG). BULOG dan DOLOG serta SUBDOLOGnya mendirikan gudang-gudang di berbagai daerah untuk menimbun stock atau timbunan persediaan bahan-bahan makanan tersebut. “Market Operation”.Pada masa paceklik bahan makanan di pasar berkurang persediaannya dan menyebabkan harganya meningkat.Untuk menekan kenaikan harga ini, BULOG mengadakan yang disebut “Market Operation (MO), yaitu mengeluarkan sebagian dari timbunan stocknya untuk dijual di pasaran.Dengan demikian persediaan bahan makanan dalam peredaran beratambah lagi dan dapat menahan kenaikan harga tersebut.
   Kebijaksanaan yang amat mendasar dalam masa Orde Baru di bidang pangan adalah upaya untuk meningkatkan produksi menuju tercapainya swasembada pangan, melalui berbagai program.Program-program peningkatan produksi pangan tersebut didukung oleh kebijaksanaan harga pangan. Kebijaksanaan harga pangan, terutama beras, ditujukan untuk meningkatkan pendapatan petani dan sekaligus merangsang peningkatan produksi serta melindungi konsumen dengan menetapkan harga dasar(floor price) dan harga batas tertinggi(ceiling price)yang didukung dengan cadangan penyangga (buffer stock).Harga dasar dipertahankan dengan menyerap kelebihan suplai gabah atau beras di pasaran, sedangkan harga batas tertinggi dijaga melalui penyaluran beras ke pasaran umum (operasi pasar). Ketetapan mengenai harga-harga tersebut ditinjau secara berkala, sesuai dengan perkembangan perekonomian.Di samping penataan kelembagaan, juga disempurnakan berbagai perangkat peraturan dan mekanisme operasional menuju kebijaksanaan harga yang berorientasi pasar dengan senantiasa memperhatikan kepentingan produsen dan konsumen. Dalam rangka itu antara lain mulai tahun 1969 Menteri Perdagangan telah menghapuskan Surat Ijin Perdagangan Antar Pulau (SIPAP) dan Surat Ijin Simpan (SIS) yang berlaku sejak tahun 1948.
    Dengan pelaksanaan good corporate governance (GCG) dan kinerja keuangan yang semakin baik, Perum Bulog siap menjalani peran baru sebagai badan penyangga empat komoditas pangan utama rakyat, yakni beras, gula, minyak goring dan kedelai. “Selain beras, kami siap menjadi penyangga komoditas gula, minyak goreng, dan kedelai jika pemerintah menghendaki. Kapan saja, kami siap,” kata Dirut Perum Bulog Sutarto Alimoeso dalam wawancara dengan Investor Daily di Jakarta, Senin (23/7).
    Sejak 1998, kewenangan Bulog dipangkas pemerintah atas saran Dana Moneter Internasional (IMF) lewat letter of intent (LoI).Jika sebelumnya menjadi penyangga sembilan bahan kebutuhan pokok, Bulog kemudian hanya menjadi penyangga beras.Merespons harapan rakyat, kata Sutarto, pihaknya dalam dua tahun terakhir mulai menangani gula, minyak goreng, dan kedelai.Tapi, peran Bulog pada tiga komoditas itu sangat terbatas karena bukan sebagai penyangga.
    Jika peran itu dikembalikan, Bulog yang kini memiliki 1.755 gudang di seluruh wilayah Indonesia, akan mampu menjadi stabilisator. Meski perannya belum diperluas, menurut Sutarto, Bulog selama dua tahun terakhir membentuk sejumlah unit usaha yang selanjutnya diubah menjadi badan usaha.Pertama, Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB) dan alat mesin pertanian (alsintan).Kedua, unit usaha jasa angkutan atau distribusi.Ketiga, BulogMart untuk menangani wholesale dan ritel.Keempat, on-farm (sentra padi).
   Sejak tahun 1967, pemerintah melalui Bulog melakukan kebijakan harga dengan memberlakukan harga dasar, stabilisasi harga, buffer stockdengan mempunyai hak monopoli impor beras. Namun dalam era globalisasi Indonesia dituntut untuk menerapkan liberalisasi pasar dan penghapusansubsidi perberasan. Mulai tgl 22 September 1998, ditengah-tengah krisis,pemerintah menerapkan kebijakan pembebasan bea masuk beras hingga 0%untuk semua jenis beras. Kemudian pada bulan Agustus 1999, kebijakan inidikoreksi dimana importir umum bebas untuk mengimpor beras kualitas tinggi, sedang untuk kualitas medium tetap di monopoli Bulog. Dengan demikian pasar domestik menjadi terbuka, tetapi dukungan pembiayaan untuk melakukan intervensi terbatas (hanya sebatas kebutuhan penyaluran).Kebijakan ini dikoreksi lagi tgl 1 Januari 2000 oleh pemerintah dengan memberlakukan tarif sebesar Rp 430 per kg bagi pemasukan beras impor dan importir umum bebas melakukan impor (Bulog, 2000).
    
Peran Pemerintah Dalam Regulasi Konsumsi.
    Meningkatnya pembinaan, penanganan dan pengawasan pada pelaku usaha dibidang pangan terutama UKM pangan dalam penanganan keamanan pangan,diharapkan dapat meningkatkan penyediaan pangan yang beragam, bergizi seimbang dan aman. Sementara itu, terdapat berbagai kelembagaan di tingkat lokal dikecamatan dan desa, dapat menjadi mitra kerja pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat, dalam rangka gerakan penganekaragaman konsumsipangan, seperti Posyandu, Balai Penyuluhan Pertanian, para penyuluh dariberbagai instansi terkait, dan kelembagaan masyarakat (Tim Penggerak PKK,majelis taklim, dan sebagainya). Kelembagaan ini dapat berperan aktif dalam mendeteksi masalah serta memfasilitasi upaya-upaya peningkatan kualitas konsumsi pangan dan perbaikan gizi.Badan Ketahanan Pangan memiliki tugas dan fungsi mendorong percepatan penganekaragaman konsumsi dan keamanan pangan yaitu berperan pada :
peningkatan koordinasi dalam perumusan kebijakan konsumsi dan keamanan pangan;
penyempurnaan program dan kegiatan dalam rangka pengembangan konsumsi dan keamanan pangan melalui peningkatan pemantauan dan analisis pola konsumsi pangan; serta
pembinaan untuk pengembangan kelembagaan pedesaan dalam diversifikasi konsumsi pangan, dan keamanan pangan.
    Untuk lebih jelas dalam Revisi Rencana Strategis Badan Ketahanan Pangan Tahun 2010 – 2014 mengatakan bahwa untuk Pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan danpeningkatan keamanan pangan segar (prioritas nasional)Sasaran output kegiatan ini adalah meningkatnya penganekaragamankonsumsi pangan dan penanganan keamanan pangan segar. Kegiatan prioritastersebut mempunyai 8 sub kegiatan yaitu:
Pemberdayaan Kelembagaan dalam P2KP (Percepatan penganekaragaman konsumsi pangan), yaitu kegiatan-kegiatan untuk mendorong gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) melalui :
pemberdayaan kelompok wanita terutama kelompok dasa wisma;
optimalisasi pemanfaatan pekarangan dalam penyuluhan pangan dan gizi;
pendidikan dan penyuluhan pangan yang baragam dan bergizi seimbang untuk siswa SD/MI;
pemberdayaan kelompok wanita sebagai usaha mikro kecil bidang pangan dalam pengembangan pangan lokal berbasis tepung-tepungan;
Pemantauan, monitoring, evaluasi dan perumusan kebijakan P2KP, yaitu kegiatan untuk melaporkan perkembangan P2KP, memecahkan permasalahan yang dihadapi di lapangan, dan evaluasi untuk perbaikan kegiatan pada waktu yang akan datang;
Pengembangan promosi tentang peningkatan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman,
    upaya untuk membangun kesadaran seluruh komponen masyarakat secara terprogram dan berkelanjutan tentang pentingnya penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan penurunan konsumsi beras per kapita di tingkat rumah tangga, dengan diimbangi konsumsi pangan hewani, sayuran dan buah yang dilaksanakan melalui media elektronik, media cetak, media luar ruang dan pameran, kerjasama dengan lintas sector dan swasta;
Analisis pola konsumsi pangan penduduk, adalah menganalisis dan melaporkan pola konsumsi pangan penduduk yang terjadi di masyarakat secara periodik berdasarkan data sekunder dan survey kecil yang dilakukan secara mandiri;
Kerjasama Perguruan Tinggi dalam Diversifikasi Pangan adalah kegiatan pengkajian pengembangan penganekaragaman pangan lokal, melalui kerjasama dengan Perguruan Tinggi/Universitas dalam rangka pemantapan ketahanan pangan masyarakat;
Peningkatan koordinasi pelaksanaan keamanan pangan segar, yaitu upaya meningkatkan koordinasi pengawasan keamanan pangan segar di pasar melalui: kegiatan sosialisasi, promosi dan edukasi, serta pertemuan instansi terkait tentang keamanan pangan segar kepada konsumen;
Pemantauan, monitoring, evaluasi dan perumusan serta pengawasan keamanan pangan segar, adalah kegiatan dalam rangka penyediaan data dan informasi serta hasil analisis, secara berkala dan berkelanjutan untuk perumusan kebijakan keamanan pangan segar;
Pengembangan Olahan Pangan Lokal, adalah upaya mengembangkan diversifikasi pangan melalui pengembangan industry pangan olahan dalam rangka mendukung bantuan pangan bagi rumah tangga miskin (Pangkin) di beberapa lokasi sentra produksi pangan lokal, sekaligus pola makan masyarakatnya menggunkana bahan pangan lokal.
    Indikator sasaran kegiatan pengembangan penganekaragaman konsumsi pangan dan peningkatan keamanan pangan segar pada tahun 2014 adalah:
jumlah kelembagaan desa yang diberdayaan dalam P2KP (PercepatanPenganekaragaman Konsumsi Pangan) sebanyak 10.000 desa;
Jumlah hasilpemantauan, monitoring, evaluasi dan perumusan kebijakan P2KP sebanyak 1laporan Pusat dan 33 laporan/provinsi;
jumlah hasil promosi tentangpeningkatan kepedulian dan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi panganberagam, bergizi seimbang dan aman sebanyak 484 laporan (di pusat, 33provinsi dan 450 kabupaten);
jumlah hasil analisis pola konsumsi panganpenduduk sebanyak 1 laporan pusat dan 33 laporan/provinsi;
jumlah hasilkajian kerjasama PT dalam diversifikasi pangan sebanyak 29 laporan;
jumlahhasil peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamananpangan segar sebanyak 33 laporan/provinsi;
jumlah hasil pemantauan,monitoring, evaluasi dan perumusan serta pengawasan keamanan pangan dipusat dan 33 provinsi dan 250 kabupaten.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
    Sub sistem konsumsi memungkinkan setiap rumah tangga memperoleh pangan yang cukup dan memanfaatkannya secara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gizi seluruh anggotanya,konsumsi pangan berkaitan dengan masalah gizi dan kesehatan, ukuran kemiskinan, serta perencanaan dan produksi daerah. Konsumsi masyarakat terhadap pangan dapat dilihat dari kecenderungan masyarakat mengkonsumsi jenis pangan tertentu. Secara umum di tingkat wilayah faktor – faktor yang mempengaruhi konsumsi pangan adalah faktor ekonomi (pendapatan dan harga), faktor sosio budaya dan religi..Adapun Peran “Buffer Stock” dalam Keterjaminan Pangan Nasional yaitu salah satunya sebagai cadangan untuk menghadapi terjadinya ketidakpastian dalam permintaan dan pasokan. Persediaan tetap dipertahankan dalam jumlah tertentu terutama selama waktu pemesanan kembali untuk mencegah terjadinya kegagalan pemenuhan order akibat terjadinya kehabisan barang (stock out).Dan peran pemerintah dalam regulasi konsumsi pangan yaitu Badan Ketahanan Pangan memiliki tugas dan fungsi mendorong percepatan penganekaragaman konsumsi dan keamanan pangan.
Saran
    Semakin meningkatnya pengetahuan yang didukung adanya perkembangan teknologi informatika serta strategi komunikasi publik, memberikan peluang bagi percepatan proses peningkatan kesadaran terhadap pangan yang beragam,bergizi seimbang dan aman yang diharapkan dapat mengubah pola pikir dan perilaku konsumsi masyarakat, sehingga mencapai status gizi yang baik. Hal ini merupakan peluang yang tinggi untuk mempercepat proses serta memperluas jangkauan upaya pendidikan masyarakat, untuk meningkatkan kesadaran gizi.
    DAFTAR PUSTAKA
Anonymous . 2002. Ketahanan Pangan. http://www.lemlit.ugm.ac.id/Agro/download/white_paper.doc. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.25 MAret 2014
Anonymous. 2001. Pangan dan gizi. Sagung Seto. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB: Bogor
Anonymous.2011. Revisi Rencana Strategis Badan Ketahanan Pangan Tahun 2010 – 2014.http://bkp.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/Renstra_BKP.pdf . Badan Ketahanan Pangan: Jakarta (diakses 25 Maret 2014)
Khomsan, ali. 2004. Pengantar Pangan dan Gizi. Penebar Swadaya : Depok
Mahela dan sutanto. 2006, “Kajian Konsep Ketahanan Pangan”.Journal. Volume 13, No.2,http://ejournal.umm.ac.id , 25 Maret 2014.
Pedoman Gerakan percepatan penganekaragaman konsumsi Pangan Tahun 2014.http://bkp.pertanian.go.id/tinymcpuk/gambar/file/P2KP.PDF. Menteri Pertanian: Jakarta (diakses 25 Maret 2014 )
Sajogyo.1994. Menuju Gizi Baik yang Merata di Pedesaan dan dikota. Gadjah Mada university Press: Yogyakarta

Posted in Uncategorized | Leave a comment

subsistem pasca panen dalam ekologi pangan dan giji

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
   Dengan penduduk 216 juta jiwa, Indonesia saat ini membutuhkan bahan pangan pokok sekurang-kurangnya 53 juta ton beras, 12,5 juta ton jagung dan 3,0 juta ton kedelai. Jika tidak diimbangi dengan laju pertumbuhan produksi pangan dalam negeri secara signifikan, dapat menyebabkan ketahanan pangan nasional rendah. Meskipun upaya peningkatan produksi pangan di dalam negeri saat ini terus dilakukan, namun laju peningkatannya masih belum mampu mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri karena produktivitas tanaman pangan serta peningkatan luas areal yang stagnan bahkan cenderung menurun.
   Untuk meningkatkan produksi pangan nasional, dapat dilakukan peningkatan produktivitas dengan menerapkan teknologi produksi antara lain melalui penggunaan pupuk organik/hayati. Pupuk tersebut dapat mengembalikan kesuburan lahan melalui jasa mikroba yang menguntungkan. Sejalan dengan itu, juga perlu dilakukan perluasan lahan pertanian antara lain melalui pengembangan kawasan transmigrasi.
   Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 216 juta jiwa dengan angka pertumbuhan 1.7 % per tahun. Angka tersebut mengindikasikan besarnya bahan pangan yang harus tersedia. Kebutuhan yang besar jika tidak diimbangi peningkatan produksi pangan justru menghadapi masalah bahaya latent yaitu laju peningkatan produksi di dalam negeri yang terus menurun. Sudah pasti jika tidak ada upaya untuk meningkatkan produksi pangan akan menimbulkan masalah antara kebutuhan dan ketersediaan dengan kesenjangan semakin melebar.
   Keragaan laju peningkatan produksi tiga komoditi pangan nasional padi, jagung dan kedelai menunjukkan bahwa laju pertumbuhan produksi pangan nasional rata-rata negatif dan cenderung menurun, sedangkan laju pertumbuhan penduduk selalu positif yang berarti kebutuhan terus meningkat. Keragaan total produksi dan kebutuhan nasional dari tahun ke tahun pada ketiga komoditas pangan utama di atas menunjukkan kesenjangan yang terus melebar; khusus pada kedelai sangat memprihatinkan. Kesenjangan yang terus meningkat ini jika terus di biarkan konsekwensinya adalah peningkatan jumlah impor bahan pangan yang semakin besar, dan kita semakin tergantung pada negara asing.
   Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.
   Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).
   Produksi kedelai nasional tampak mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Hal ini terjadi antara lain karena membanjirnya Impor akibat fasilitas GSM 102, kredit Impor dan “Triple C” dari negara importir yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh importir kedelai Indonesia, disisi lain produktivitas kedelai nasional yang rendah dan biaya produksi semakin tinggi di dalam negeri. Akibat kebijakan di atas harga kedelai impor semakin rendah sehingga petani kedelai semakin terpuruk dan enggan untuk menanam kedelai. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing dengan membanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.
   Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.
1.2 Rumusan Masalah
Apa pengertian dari pasca panen dan penerapan teknologi pangan di masyarakat
Apa tujuan dari pasca panen dan penerapan teknologi pangan di masyarakat
Apa kepentingan pasca panen dalam sistem pangan dan gizi
Bagaimana penerapan teknologi pangan
Bagaimana implikasi pasca panen dalam efisiensi, produktivitas dan ketersediaan dan keterjaminan pangan.
1.3 Tujuan
Agar mengetahui pengertian dari pasca panen dan penerapan teknologi pangan di masyarakat
Agar mengetahui tujuan dari pasca panen dan penerapan teknologi pangan di masyarakat
Agar mengetahui kepentingan pasca panen dalam sistem pangan dan gizi
Agar mengetahui bagaimana penerapan teknologi pangan
Agar mengetahui bagaimana implikasi pasca panen dalam efisiensi, produktivitas dan ketersediaan dan keterjaminan pangan.
BAB II
ISI

2.1. Pasca Panen
2.1.1 Pengertian Pasca Panen
   Menurut Pasal 31 UU Nomor 12/ 1992, Suatu kegiatan yg meliputi pembersihan, pengupasan, sortasi, pengawetan, pengemasan, penyimpanan, standarisasi mutu & transpotasi hasil budidaya pertanian. Dalam bidang pertanian sering diartikan sebagai tindakan atau perlakuan yg diberikan pada hasil pertanian setelah panen sampai komoditas berada di tangan konsumen.
   Secara keilmuan lebih tepat disebut PASCA PRODUKSI (Postproduction), dibagi dalam 2 tahap: Pasca Panen (posthaverst) >> primary processing : istilah yg digunakan untuk semua perlakuan mulai dari panen sampai komoditas dapat dikonsumsi segar atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya tidak merubah penampilan produk, Pengolahan (processing) >> secondary processing : tindakan yg mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lama (pengawetan), mencegah perubahan yg tidak dikehendaki.
Tujuan Pasca Panen
    Tujuan Pasca Panen adalah untuk mempertahankan kualitas komoditas hortikultura. Adapun tindakan-tindakan pasca panen adalah:
Pemanenan
Grading (Pengkelasan)
Pengemasan
Pengangkutan & Pemasaran
    Kmd periode pascapanen mulai dari produk tsb dipanen sampai produk dikonsumsi /diproses lebih lanjut.
    Skema Umum Sistem Penanganan Pascapanen Produk Hortikultura

    Cara pemetikan yg baik : dengan alat petik berkantong yg dapat diatur panjang pendeknya. Sebelum mengetahui penanganan pasca panen, hrs mengetahui faktor-2 yg mempengaruhi :
Biologi :Respirasi, produksi etilen, perubahan komposisi kimia, tingkat kehilangan air.
Lingkungan, suhu, kelembaban, komposisi atmosfer, etilen pd tempat

Adapun penjelasan tentang tujuan dari pasca panen adalah:
PEMANENAN
Cara Panen yang Tepat :
Hindari kerusakan scr mekanis
Hanya buah yg benar-2 memenuhi persyaratan panen
Jangan diletakkan ditempat yg terkena matahari langsung
Sebaiknya diangin-anginkan/di-precooling
Mutu buah yg baik diperoleh dg baik jika dipanen dg :
Pd tingkat kematangan yang cukup
Dilakukan pd suhu udara yang belum terlalu panas.
Produk harus diletakkan pada tempat yangg teduh.
Dilakukan dengan hati-hati& harus bebas dr luka, bintik, penyakit & kerusakan lainnya.
Penentuan Panen Buah
Waktu / saat panen
Cara panen
Waktu/saat panen diketahui dengan 4 cara :
Scr visual ukuran, bentuk, warna kulit
Secara fisik kekerasan, berat jenis
Kimia kadar padatan terlarut, asam, nisbahpadatan/asam, pati
Perhitungan umur buah & fisiologisnya melalui kebutuhan unit panas buah

Indeks Ketuaan Panen
Adalah suatu ukuran yang dapat digunakan untuk menentukan waktu panen, yaitu apakah suatu produk sudah dapat dipanen atau belum. Indeks ketuaan panen dpt bersifat subyektif (S) atau obyektif ( O), & dpt digolongkan ke dlm metode destruktif (D) atau non-destruktif (N).
Penggolongan Indeks Ketuaan Panen
Indeks Ketuaan Visual(bersifat S dan N)
Berdasarkan warna kulit (mis : jeruk, duku, dll)
Berdasarkan ukuran (mis : asparagus, ketimun, bunga potong, dll)
Berdasarkan karakteristik permukaan
Berdasarkan bagian tanaman yg mengering
Indeks Ketuaan Fisik (bersifat S dan N)
Berair : jagung manis
Mudah terbuka : jenis kacang polong
Mudah dilepaskan dari tanamannya (belewah)
Kekerasan, kepadatan, kekompakan : melon, kubis, selada
Berat jenis : mangga, durian
Bunyi bergaung bila diketuk : semangka, nangka
Mempunyai aroma kuat : nangka, durian
Struktur daging
Indeks Kimia (bersifat O dan D)
Jumlah padatan terlarut : apokat, melon
Kadar lemak : apokat
Kadar air : jeruk
Kadar asam : jeruk, manga
Kadar karbohidrat : apel, pear, manga
Kadar gula
Indeks Fisiologis (bersifat O, N, D)
Laju respirasi & produksi etilen (pisang, mangga, pepaya, dll)
Konsentrasi etilen (apel, pear, markisa)
Indeks Perhitungan(bersifat O dan N)
Unit panas : mangga, kapri, jagung manis
Hari sejak pembungaan : mangga, manggis
Hari sejak pembentukan buah : durian, melon
Hari sejak bunga mekar : jeruk, mangga
Hari sejak penanaman : jenis umbi
Mengembangkan Indeks Ketuaan
Indeks ketuaan haruslah sederhana, mudah diterapkan dilapangan & tidak memerlukan peralatan yg mahal dlm penerapannya. Beberapa hal sebagai acuan dalam pengembangan indeks ketuaan :
Fase-2 perubahan pd komoditas pd sepanjang masa pertumbuhan & perkembangannya harus dikenali.
Ciri-ciri yg berhubungan dg perkembanan produk harus dicari
Percobaan organoleptik & daya simpan produk utk menentukan keadaan dg nilai minimum utk ketuaan yg masih diterima
Indeks yg dihasilkan hrs di uji coba pd berbagai lokasi & musim
Cara panen yang umum dilakukan :
Dengan cara ditarik (apokat, tomat)
Dengan cara dipuntir (jeruk, melon)
Dengan cara dibengkokkan (nanas)
Dengan cara dipotong (buah, sayur)
Dengan cara digali & dipotong (umbi & sayuran akar)
Dengan menggunakan galah (buah pd pohon yg tinggi)
PENGUMPULAN / PENAMPUNGAN
Yang perlu diperhatikan :
Lokasi hrs dekat dengan tempat pemanenan.
Wadah penampungan sementara : keranjang, peti atau karung goni untuk mengangkut hasil panen dari lapang ke gudang penyimpanan.
Harus dihindarkan dr kontak langsung dg sinar matahari.
Perlakuan / tindakan penanganan & spesifikasi wadah yang digunakan hrs disesuaikan dengansifat & karakteristik buah yang ditangani.
SELEKSI / SORTASI
Karena tidak semua hasil panen berkualitas baik untuk kebutuhan pasar dilakukan seleksi (sortasi) & grading (pengkelasan) meningkatkan performance buah (ukuran, warna, umur, dll).Sortasi dilakukan dilapangan & dirumah pengemasan baik scr manual/mekanis.
Selama sortasi hrs diusahakan agar terhindar dr kontak sinar mthr lsg menurunkan bobot / terjadi pelayuan dan kenaikan aktivitas metabolisme, shg mempercepat proses pematangan.
Respirasi kegiatan/proses pencucian sebelum atau sesudah sortasi.
Pembersihan & Pencucian
Tujuannya adalah untuk menghilangkan kotoran (tanah) serta residu pestisida (insektisida atau fungisida. Bahan yang digunakan untuk beberapa komoditas buah-buahan, sikat, sabun dan air. Ketentuan:
Menggunakan standar baku mutu air utk menghindari kontaminasi.
Pencucian dpt menurunkan panas lapang / berfungsi sbg pre cooling.
Pencucian buah, umbi, rimpang biasanya dilakukan bersamaan dengan penyikatan (sikat lembut). Setelah itu direndam dlm sanitizer (klorin 100-200 ppm), untuk menghindari E.coli dan bakteri Salmonella. Kemudian dibilas air PDAM, ditiriskan dan dikeringkan lalu dikemas.
Sanitizer adalah bahan yang dapat mengurangi kandungan mikroba pada buah & sayur.Sebagai bahan antimikroba (deterjen, antiseptik & desinfektan).
Pengeringan dpt dilakukan dg menggunakan alat penirisan (spiner) / hembusan angin ke arah komoditas yg telah dicuci.
Pengkelasan / grading
Bertujuan untuk memisahkan produk berdasarkan : mutu, warna, berat, ukuran. (ini semua berkaitan dengan harga jual). Penilaian pada umumnya dilakukan secara : visual & manual (dikebun & rumah pengemasan).Selama grading harus diusahakan terhindar dari sinar matahari langsung.
Pengemasan
Berfungsi untuk :
Melindungi buah-buahan dr kerusakan fisik selama pengangkutan
Daya tarik bagi konsumen
Memberi nilai tambah produk
Memperpanjang daya simpan produk
Adapun bahan pengemas pada saat pasca panen :
Bahan pengemas luar :
Kayu, rotan, bambu, kerangjang bambu, keranjang plastik, kantong plastik, jaring/net, karton bergelombang
Bahan pengemas dalam (untuk pengecer) :
Film plastik, kertas, plastik tercetak / bahan campuran dari kertas & plastic
Pelilinan
Bertujuan :
Mengurangi kehilangana air
Meningkatkan umur simpan
Mengurangi perkembangan penyakit
Mengganti bahan lilin alami (selama pencucian)
Melindungi dari luka
Memperbaiki penampilan
Bahan lilin harus dari bahan yang aman untuk dikonsumsi.Buah-buahan yang mempunyai selaput lilin alami dipermukaan luar (alpukat). Lapisan lilin berfungsi sbg :
Pelindung kehilangan air yg terlalu banyak dr komoditas akibat penguapan.
Mengatur kebutuhan oksigen oleh respirasi mengurangi kerusakan yg telah dipanen akibat proses respirasi & transformasi yg terlalu cepat dr buah-buahan.

Tabel 2.1
Konsentrasi Emulsi Lilin Optimal Pada Beberapa Komoditas Hortikultura
Komoditas Konsentrasi Lilin Optimal(%)
Alpukat
Apel
Cabe
Jeruk
Kentang
Mangga Alphonso
Nanas
Pepaya
Pisang raja
Wortel 4
8
12
12
12
6
6
6
9
12
    Emulsi lilin yang dapat digunakan sebagai bahan pelapis lilin ada beberapasyarat :
Tdk mempengaruhi bau & rasa yg akan dilapisi.
Mudah kering, bila kering tidak lengket.
Tidak mudah pecah.
Mengkilap & licin.
Tidak menghasilkan permukaan yg tebal
Mudah diperoleh
Murah harganya
Tidak bersifat racun
Pelapisan lilin utk buah-buahan lilin lebah yg dibuat dlm bentuk emulsi lilin = konsentrasi 4% s/d 12%.Kepekatan emulsi lilin yg ideal = buah alpukat (4%)
    Komposisi Dasar Emulsi Lilin 12%
Bahan Dasar Komposisi
Lilin Lebah
Trietanolamin
Asam Oleat
Air Panas 120 gram
40 gram
20 gram
820 gram

Lilin : ester dari asam lemak berantai panjang dg alkohol monohidrat berantai panjang / sterol.
Lilin lebah : merupakan lilin alami komersial hasil sekresi dr lebah madu / lebah lainnnya.
Madu yg diekstrak dg sartifusi sisir madunya kmdn digunakan lagi.
Madu yg diekstrak dg pengepresan sarang lebah hancur, dijadikan lilin oleh sarang baru.
Hasil sisa pengepresan dan sarang yg hancur dicuci & dikeringkan, kmdn dipanas menjadi lilin/malam.
Lilin ini berwarna putih kekuningan sampai coklat. Titik cair 62,8 – 70ºC & BJ 0,952 – 0,975 kg/m3 ini biasanya digunakan utk pelilinan produk / komoditas hortikultura krn mudah & murah.
Tebal lapisan lilin hrs seoptimal mungkin.Jika lapisan terlalu tipis dpt menghambat respirasi & transpirasi kurang efektif.Jika terlalu tebal semua pori-2 tertutup terjadi respirasi anaeron, yaitu respirasi tanpa O2, shg sel melakukan perombakan didalam tubuh buah proses pembusukan lebih cepat dari keadaan normal.
Pemberian lilin dpt dilakukan dg penghembusan, penyemprotan, pencelupan (30 detik) / pengolesan.
Pemeraman
Pemeraman (ripening) adl proses utk merangsang pematangan buah agar matang merata gas karbit/etilen & suhu 18-28ºC & diperhatikan karakteristik biologis/fisiologis dr komoditas tsb dg tidak mencampurkan komoditas yg mempunyai sifat/karakteristik fisiologis yg berbeda dlm satu tempat/satu proses.
Penyimpanan
Tujuan :Untuk mempertahankan mutu & kesegaran buah-buahan serta utk memperpanjang masa simpan. Beberapa teknologi peyimpanan :
Metode CAS (Controlled Atmosphere Storage)
Metode MAP (Modified Atmosphere Pack)
Suhu Kamar buah segar suhu rendah & kelembaban tinggi (mengurangi terjadinya transpirasi)
Pemberian Label (penempelan) pd tubuh buah identitas kelas buah. Pemberian Label (penempelan) pd kemasan buah berat bersih, jumlah, kualitas/kelas, tgl masak, produsen.
Pengemasan utk melindungi buah dr kerusakan selama proses penyimpanan & pengangkutan.
Kemasan : kkotak karton, styrofoam, keranjang plastik (disertai dg sistem sirkulasi udara yg baik).Mis : manggis setiap kemasan menampung 8-10 kg buah.Tinggi tumpukan kemasan disesuaikan dg bahannya utk peti kayu/keranjang plastik max 8 tumpukan.
Penyimpanan
Sebelum didistribusikan ke pasar/konsumen dilakukan digudang yg bersih & bebas dari OPT. Penyimpanan max 2 hari pd suhu kamar.Mis : Manggis 4 minggu disimpan di ruang dingin (suhu optimum pd suhu 5ºC dan kelembaban 85%).
Distribusi utk memperlancar proses pemasaran tepat waktu, kemasan max 8 tumpukan, ditutup terpal/dalam kontainer, angkutan darat, laut/udara.
Transportasi
Perlu diperhatikan :
Sifat/karakteriktik jenis produk yg diangkut
Lamanya perjalanan
Alat/sarana pengangkutan (buah yg diangkut sebaiknya terhindar dr sinar matahari secara langsung).
Buah yg diangkut dijaga dari kemungkinan terbentur, gesekan, tekanan yg terlalu berat shg dpt menimbulkan kerusakan / menurunkan mutu produk tsb.
Alat/sarana pengangkutan buah : sepeda motor, truk & kapal alut.
Supaya memasuki pasar domestik / pasar impor, maka protokol karanina dan prosedur legal harus diikuti.
2.1.3 Kepentingan Pasca Panen Dalam Sistem Pangan dan Gizi
    Penanganan pascapanen sangat penting diperhatikan agar kerusakan pangan dan kehilangan zat gizi dpat terhindarkan.Kini, berbagai tekhnologi penanganan pascapanen telah diterapkan untuk menjaga mutu produk pangan yang dihasilkan.
2.1.4 Pertimbangan Penanganan Pangan
    Di Indonesia, pangan hasil pertanian khususnya sayur-sayuran dan buah-buahan banyak mengalami kerusakan sebelum dapat dikonsumsi. Jumlah kerusakan mencapai 35-40%.Kehilangan padi setelah panen diperkirakan mencapai 1-3%, sedangkan pada waktu penyimpanan di tingkat petani 2-3% setelah 7 bulan. Demikian juga susu, telur, daging, ikan, dan umbi-umbian, serta produk pertanian lainnya sering kali tidak bias dimanfaatkan karena telah mengalami kerusakan. Hal ini akan menyebabkan susut kuantitas maup-un kualitas.
    Hasil pertanian umumnya mempunyai tekstur lunak, kadar air tinggi, komponen zat gizi dan enzim yang masih aktif sehingga dapat melakukan proses metabolisme. Metabolisme tersebut dapat mengakibatkan terjadinya perubahan sehingga menyebabkan kerusakan.Hal inilah yang menyebabkan hasil pertanian mempunyai sifat yang mudah rusak (perishable).
   Upaya penanganan pangan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan pangan.Penanganan pascapanen dapat memberikan sumbangan yang berarti dalam usaha menyelamatkan produksi yang telah berhasil ditingkatkan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.Teknologi pascapanen merupakan sarana penting bagi pembangunan industry hasil pertanian dan berkaitan dengan program penganekaragaman pangan.
Penyebab dan Jenis Kerusakan Pangan
   Penyebab dan jenis kerusakan pangan perlu diketahui agar dapat ditentukan penanganan untuk memperkecil kerusakan risiko panen.Kerusakan pangan disebabkan oleh pertumbuhan dan aktivitas mikroba, terutama bakteri, ragi dan kapang, aktivitas enzim, serangga, parasite, tikus, suhu, kadar air, oksigen, sinar, dan jangka waktu penyimpanan.
Bakteri, ragi, dan kapang
Mikroba penyebab kebusukan pangan dapat ditemukan di tanah, air, udara, di atas kulit/bulu, dan di dalam usus ternak.Beberapa mikroba juga sering ditemukan di atas permukaan kulit bbuah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan kacang-kacangan.Tumbuhnya bakteri, ragi, dan kapang dapat mengubah komposisi bahan pangan.
Beberapa mikroba dapat menghasilkan enzim yang aktif sehingga dapat menghidrolisis pati, selulosa, atau dapat memfermentasi gula, menghidrolisis lemak yang mengakibatkan ketengikan, atau merusak protein yang menghasilkan bau busuk.Mikroba tersebut dapat membentuk lender, gas, busa, warna yang menyimpang, asam, dan racun. Jika pangan mengalami kontaminasi secara spontan dari udara maka di dalam pangan tersebut terdapat pertumbuhan dari beberapa jenis mikroba.
Bakteri, ragi dan kapang dapat tumbuh dengan baik pada keadaan yang hangat dan lembap.Nmenurut kisaran suhu pertumbuhan, bakteri dapat dikelompokkan ke dalam bakteri termofilik (45-55̊ C), bakteri mesofilik (20-45̊ C), dan bakteri psikrofilik (> primary processing : istilah yg digunakan untuk semua perlakuan mulai dari panen sampai komoditas dapat dikonsumsi segar atau untuk persiapan pengolahan berikutnya. Umumnya tidak merubah penampilan produk, Pengolahan (processing) >> secondary processing : tindakan yg mengubah hasil tanaman ke kondisi lain atau bentuk lain dengan tujuan dapat tahan lama (pengawetan), mencegah perubahan yg tidak dikehendaki. Pasca panen mempunyai tujuan; Pemanenan, Grading (Pengkelasan), Pengemasan, Pengangkutan & Pemasaran.
Adapun upaya-upaya dalam mengetahui kepentingan pascapanen dalam system pangan dan gizi dengan menggunakan penerapan teknologi pangan sesuai dengan beberapa peraturan-peraturan pemerintah untuk mengimplikasikan pasca panen secara efisien, produktif dan ketersediaan dan keterjaniman pangan.

Daftar Pustaka

Posted in Uncategorized | Leave a comment

ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERKAITAN DENGAN PEMBANGUNAN KESEHATAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Tantangan pembangunan pada hakikatnya adalah mencapai ‘kesehatan bagi semua’, yakni terpenuhinya hak setiap orang untuk hidup sehat, hingga dapat meraih hidup yang produktif dan berbahagia.
Untuk mencapai kondisi tersebut, perlu diupayakan kegiatan dan strategi dalam setiap aspek kehidupan. Bukan saja aspek kesehatan, tetapi diperlukan strategi pemerataan kesehatan dengan mendayagunakan segenap potensi yang ada, baik di jajaran kesehatan, non kesehatan maupun masyarakat sendiri, guna mengendalikan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan.
Mengingat kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan, konsep kesehatan sekarang ini, tidak saja berorientasi pada aspek klinis dan obat-obatan, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan kesehatan dan kemasyarakatan, yaitu seperti ilmu sosiologi, antropologi, psikologi, perilaku, dan lain-lain.
Kegunaan ilmu-ilmu tersebut dalam kesehatan dan kemasyarakatan adalah sebagai penunjang peningkatan status kesehatan masyarakat.
Salah satu cabang dari sosiologi dan antropologi adalah sosial budaya dasar, yang membahas tentang kebudayaan dan unsur-unsur yang terkait di dalamnya.
Di negara-negara maju, terdapat unsur-unsur kebudayaan yang dapat menunjang tingginya status kesehatan masyarakat seperti pendidikan yang optimal, keadaan sosial-ekonomi yang tinggi, dan kesehatan lingkungan yang baik. Dengan demikian, pelayanan kesehatan menjadi sangat khusus sehingga dapat memenuhi kebutuhan klien.
Sebaliknya, di negara berkembang seperti Indonesia, unsur-unsur kebudayaan yang ada kurang menunjang pencapaian status kesehatan yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan, pendidikan yang minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.
Mengingat keadaan tersebut, kita perlu memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat dalam kaitannya dengan keadaan kesehatan di Indonesia. Sehingga kita dapat melihat penyakit atau masalah kesehatan bukan saja dari sudut gejala, sebab-sebabnya, wujud penyakit, obat dan cara menghilangkan penyakit, tetapi membuat kita untuk berfikir tentang bagaimana hubungan sosial budaya, geografi, demografi, dan persepsi masyarakat dengan masalah yang sedang dihadapi.
Melihat luasnya masalah kesehatan yang dihadapi, maka bidan sebagai petugas kesehatan harus mempelajari ilmu-ilmu lain yang terkait dengan kesehatan. Sehingga pelayanan yang diberikan memberikan hasil yang optimal.
Di bawah ini kita dapat melihat bagaimana hubungan antara sosial budaya dengan pembangunan kesehatan, khususnya pembangunan kesehatan masyarakat.

B. Tujuan
1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sosiologi-Antropologi
2. Memahami dan mengerti tentang Aspek sosial budaya yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan.

 

BAB II
ISI

A. Pengertian Kesehatan
Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan. Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang mempengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain. Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudah adaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan. Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapat jaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek. Golongan masyarakat yang dianggap ‘teranaktirikan’ dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri.
UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakanbagian integral kesehatan.

B. Konsep Sehat dan Sakit Menurut Budaya Masyarakat
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor–faktor lain diluar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Kedua pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain.
Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya.
Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya, maka ia di anggap tidak sakit.
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya.
Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan resultante dari 4 faktor yaitu:
1. Environment atau lingkungan.
2. Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
3. Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
4. Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat.
Tingkah laku sakit, peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas social,perbedaan suku bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.
Istilah sehat mengandung banyak muatan kultural, social dan pengertian profesional yang beragam. Dulu dari sudut pandangan kedokteran, sehat sangat erat kaitannya dengan kesakitan dan penyakit. Dalam kenyataannya tidaklah sesederhana itu, sehat harus dilihat dari berbagai aspek. WHO melihat sehat dari berbagai aspek.
WHO mendefinisikan pengertian sehat sebagai suatu keadaan sempurna baik jasmani, rohani, maupun kesejahteraan social seseorang. Sebatas mana seseorang dapat dianggap sempurna jasmaninya?
Oleh para ahli kesehatan, antropologi kesehatan di pandang sebagai disiplin biobudaya yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosial budaya dari tingkah laku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara keduanya sepanjang sejarah kehidupan manusia yang mempengaruhi kesehatan dan penyakit. Penyakit sendiri ditentukan oleh budaya: hal ini karena penyakit merupakan pengakuan sosial bahwa seseorang tidak dapat menjalankan peran normalnya secara wajar.
Seorang pengobat tradisional yang juga menerima pandangan kedokteran modern, mempunyai pengetahuan yang menarik mengenai masalah sakit-sehat. Baginya, arti sakit adalah sebagai berikut: sakit badaniah berarti ada tanda-tanda penyakit di badannya seperti panas tinggi, penglihatan lemah, tidak kuat bekerja, sulit makan, tidur terganggu, dan badan lemah atau sakit, maunya tiduran atau istirahat saja.
Persepsi masyarakat mengenai terjadinya penyakit berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, karena tergantung dari kebudayaan yang ada dan berkembang dalam masyarakat tersebut. Persepsi kejadian penyakit yang berlainan dengan ilmu kesehatan sampai saat ini masih ada di masyarakat; dapat turun dari satu generasi ke generasi berikutnya dan bahkan dapat berkembang luas.
Berikut ini contoh persepsi masyarakat tentang penyakit malaria, yang saat ini masih ada di beberapa daerah pedesaan di Papua (Irian Jaya). Makanan pokok penduduk Papua adalah sagu yang tumbuh di daerah rawa -rawa. Selain rawa-rawa, tidak jauh dari mereka tinggal terdapat hutan lebat. Penduduk desa tersebut beranggapan bahwa hutan itu milik penguasa gaib yang dapat menghukum setiap orang yang melanggar ketentuannya.
Pelanggaran dapat berupa menebang, membabat hutan untuk tanah pertanian, dan lain-lain akan diganjar hukuman berupa penyakit dengan gejala demam tinggi, menggigil, dan muntah. Penyakit tersebut dapat sembuh dengan cara minta ampun kepada penguasa hutan, kemudian memetik daun dari pohon tertentu, dibuat ramuan untuk di minum dan dioleskan ke seluruh tubuh penderita. Dalam beberapa hari penderita akan sembuh.
Persepsi masyarakat mengenai penyakit diperoleh dan ditentukan dari penuturan sederhana dan mudah secara turun temurun. Misalnya penyakit akibat kutukan Allah, makhluk gaib, roh-roh jahat, udara busuk, tanaman berbisa, binatang, dan sebagainya.
Pada sebagian penduduk Pulau Jawa, dulu penderita demam sangat tinggi diobati dengan cara menyiram air di malam hari. Air yang telah diberi ramuan dan jampi-jampi oleh dukun dan pemuka masyarakat yang disegani digunakan sebagai obat malaria.

C. Budaya Masyarakat Daerah Pada Masa Kehamilan
1. Upacara Mengandung Empat Bulan
Dulu Masyarakat Jawa Barat apabila seorang perempuan baru mengandung 2 atau 3 bulan belum disebut hamil, masih disebut mengidam. Setelah lewat 3 bulan barulah disebut hamil. Upacara mengandung Tiga Bulan dan Lima Bulan dilakukan sebagai pemberitahuan kepada tetangga dan kerabat bahwa perempuan itu sudah betul-betul hamil.
Namun sekarang kecenderungan orang-orang melaksanakan upacara pada saat kehamilan menginjank empat bulan, karena pada usia kehamilan empat bulan itulah saat ditiupkannya roh pada jabang bayi oleh Allah SWT. Biasanya pelaksanaan upacara Mengandung empat Bulan ini mengundang pengajian untuk membacakan do’a selamat, biasanya doa nurbuat dan doa lainnya agar bayinya mulus, sempurna, sehat, dan selamat.
2. Upacara Mengandung Tujuh Bulan/Tingkeban
Upacara Tingkeban adalah upacara yang diselenggarakan pada saat seorang ibu mengandung 7 bulan. Hal itu dilaksanakan agar bayi yang di dalam kandungan dan ibu yang melahirkan akan selamat. Tingkeban berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan. Di dalam upacara ini biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.
Di samping itu dipersiapkan pula peralatan untuk upacara memandikan ibu hamil , dan yang utama adalah rujak kanistren yang terdiri dari 7 macam buah-buahan. Ibu yang sedang hamil tadi dimandikan oleh 7 orang keluarga dekat yang dipimpin seorang paraji secara bergantian dengan menggunakan 7 lembar kain batik yang dipakai bergantian setiap guyuran dan dimandikan dengan air kembang 7 rupa. Pada guyuran ketujuh dimasukan belut sampai mengena pada perut si ibu hamil, hal ini dimaksudkan agar bayi yang akan dilahirkan dapat berjalan lancar (licin seperti belut). Bersamaan dengan jatuhnya belut, kelapa gading yang telah digambari tokoh wayang oleh suaminya dibelah dengan golok. Hal ini dimaksudkan agar bayi yang dikandung dan orang tuanya dapat berbuat baik lahir dan batin, seperti keadaan kelapa gading warnanya elok, bila dibelah airnya bersih dan manis. Itulah perumpamaan yang diharapkan bagi bayi yang dikandung supaya mendapatkan keselamatan dunia-akhirat.
Sesudah selesai dimandikan biasanya ibu hamil didandani dibawa menuju ke tempat rujak kanistren tadi yang sudah dipersiapkan. Kemudian sang ibu menjual rujak itu kepada anak-anak dan para tamu yang hadir dalam upacara itu, dan mereka membelinya dengan menggunakan talawengkar, yaitu genteng yang sudah dibentuk bundar seperti koin. Sementara si ibu hamil menjual rujak, suaminya membuang sisa peralatan mandi seperti air sisa dalam jajambaran, belut, bunga, dsb. Semuanya itu harus dibuang di jalan simpang empat atau simpang tiga. Setelah rujak kanistren habis terjual selesailah serangkaian upacara adat tingkeban.
3. Upacara Mengandung Sembilan Bulan
Upacara sembilan bulan dilaksanakan setelah usia kandungan masuk sembilan bulan. Dalam upacara ini diadakan pengajian dengan maksud agar bayi yang dikandung cepat lahir dengan selamat karena sudah waktunya lahir. Dalam upacara ini dibuar bubur lolos, sebagai simbul dari upacara ini yaitu supaya mendapat kemudahan waktu melahirkan, lolos. Bubur lolos ini biasanya dibagikan beserta nasi tumpeng atau makanan lainnya.
4. Upacara Reuneuh Mundingeun
Upacara Reuneuh Mundingeun dilaksanakan apabila perempuan yang mengandung lebih dari sembilan bulan,bahkan ada yang sampai 12 bulan tetapi belum melahirkan juga, perempuan yang hamil itu disebut Reuneuh Mundingeun, seperti munding atau kerbau yang bunting. Upacara ini diselenggarakan agar perempuan yang hamil tua itu segera melahirkan jangan seperti kerbau, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Pada pelaksanaannya leher perempuan itu dikalungi kolotok dan dituntun oleh indung beurang sambil membaca doa dibawa ke kandang kerbau. Kalau tidak ada kandang kerbau, cukup dengan mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali. Perempuan yang hamil itu harus berbuat seperti kerbau dan menirukan bunyi kerbau sambil dituntun dan diiringkan oleh anak-anak yang memegang cambuk. Setelah mengelilingi kandang kerbau atau rumah, kemudian oleh indung beurang dimandikan dan disuruh masuk ke dalam rumah. Di kota pelaksanaan upacara ini sudah jarang dilaksanakan.

D. Peranan Seorang Bidan
Menjadi seorang bidan bukanlah hal yang mudah. Seorang bidan harus siap fisik maupun mental, karena tugas seorang bidan sangatlah berat. Di Indonesia ini jumlah bidan memang tidak sedikit, tetapi untuk di pelosok daerah masih banyak masyarakat yang belum paham akan arti dari bidan. Bidan yang siap mengabdi di kawasan pedesaan, artinya ia juga harus siap dengan konsekuensi yang akan terjadi. Tak mudah mengubah pola pikir ataupun kebiasaan masyarakat. Apalagi, masalah proses persalinan. Kehadiran tenaga medis dengan spesialisasi melayani persalinan kaum perempuan, bagi warga Mercu dan Muktitama, termasuk hal baru. Selama ini, apabila ada yang akan melahirkan mereka pada umumnya mengandalkan dukun.
Kendala yang dihadapi bides itu, tak hanya seputar masalah pendekatan kepada ibu-ibu hamil. Sebagai daerah pedalaman, istri Irmansyah Putra itu, harus akrab dengan segala keterbatasan infrastruktur. Antara lain, tentang jaringan listrik yang belum masuk di kampung itu. Begitupula masalah air bersih. Krisis air paling terasa bila hujan tak kunjung turun.

E. Upaya Pemerintah Dalam Pembangunan Kesehatan
Untuk mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDGs) yaitu Angka Kematian Ibu (AKI) sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup (KH) dan Angka Kematian Bayi (AKB) menjadi 23 per 1.000 KH pada tahun 2015, perlu upaya percepatan yang lebih besar dan kerja keras karena kondisi saat ini, AKI 307 per 100.000 KH dan AKB 34 per 1.000 KH. Hal itu sambutan Menkes yang dibacakan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan dr. Ratna Rosita Hendardji, MPH dalam acara Kampanye Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) dan Penggunaan Buku KIA, bekerja sama dengan Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB), di Jakarta (3/2/2010).
“Surga ada di bawah telapak kaki ibu”, pepatah ini menunjukkan betapa pentingnya posisi ibu di masyarakat, namun kenyataannya perhatian terhadap keselamatan ibu saat melahirkan masih perlu ditingkatkan, demikian pula bayi yang dilahirkan harus sehat dan tumbuh kembang dengan baik, ujar Menkes.
Menurut Menkes, Kementerian Kesehatan telah melakukan berbagai upaya percepatan penurunan AKI dan AKB antara lain mulai tahun 2010 meluncurkan Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) ke Puskesmas di Kabupaten/ Kota yang difokuskan pada kegiatan preventif dan promotif dalam program Kesehatan Ibu dan Anak.
Untuk tahun ini, sebanyak 300 Puskesmas di wilayah Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Maluku dan Papua memperoleh dana operasional sebesar Rp 10 juta per bulan. Mulai tahun 2011, seluruh Puskesmas yang berjumlah 8.500 akan mendapatkan BOK.
Kematian ibu disebabkan oleh perdarahan, tekanan darah yang tinggi saat hamil (eklampsia), infeksi, persalinan macet dan komplikasi keguguran. Sedangkan penyebab langsung kematian bayi adalah Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kekurangan oksigen (asfiksia). Penyebab tidak langsung kematian ibu dan bayi baru lahir adalah karena kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi dan budaya. Kondisi geografi serta keadaan sarana pelayanan yang kurang siap ikut memperberat permasalahan ini. Beberapa hal tersebut mengakibatkan kondisi 3 terlambat (terlambat mengambil keputusan, terlambat sampai di tempat pelayanan dan terlambat mendapatkan pertolongan yang adekuat) dan 4 terlalu (terlalu tua, terlalu muda, terlalu banyak, terlalu rapat jarak kelahiran), tambah Menkes.
Keterlambatan pengambilan keputusan di tingkat keluarga dapat dihindari apabila ibu dan keluarga mengetahui tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta tindakan yang perlu dilakukan untuk mengatasinya di tingkat keluarga, ujar Menkes.
Menkes menambahkan, salah satu upaya terobosan dan terbukti mampu meningkatkan indikator proksi (persalinan oleh tenaga kesehatan) dalam penurunan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi adalah Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K). Program dengan menggunakan “stiker” ini, dapat meningkatkan peran aktif suami (suami Siaga), keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman. Program ini juga meningkatkan persiapan menghadapi komplikasi pada saat kehamilan, termasuk perencanaan pemakaian alat/ obat kontrasepsi pasca persalinan.
Selain itu, program P4K juga mendorong ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan, bersalin, pemeriksaan nifas dan bayi yang dilahirkan oleh tenaga kesehatan terampil termasuk skrining status imunisasi tetanus lengkap pada setiap ibu hamil. Kaum ibu juga didorong untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dilanjutkan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan.
Perencanaan persalinan dapat dilakukan manakala ibu, suami dan keluarga memiliki pengetahuan mengenai tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas; asuhan perawatan ibu dan bayi; pemberian ASI; jadwal imunisasi; serta informasi lainnya. Semua informasi tersebut ada di dalam Buku KIA yang diberikan kepada ibu hamil setelah didata melalui P4K. Buku KIA juga berfungsi sebagai alat pemantauan perkembangan kesehatan ibu hamil serta pemantauan pertumbuhan bayi sampai usia 5 tahun.
Pada kesempatan tersebut Menkes mengajak semua ibu hamil, suami dan keluarga melaksanakan P4K. Kepada organisasi profesi dan rumah sakit menyediakan dan menggunakan Buku KIA di sarana kesehatan lebih ditingkatkan.
Menurut Menkes, upaya yang telah dilakukan Kementerian Kesehatan akan lebih optimal apabila semua khususnya Pemerintah Daerah berperan aktif, mendukung dan melaksanakan semua program percepatan penurunan AKI dan AKB. Selain itu juga perlu dukungan pihak swasta baik dalam pembiayaan program kesehatan melalui CSR-nya maupun partisipasi dalam penyelenggaran pelayanan kesehatan swasta.
Menkes berharap kampanye ini bermanfaat bagi kesehatan masyarakat Indonesia dan dapat diikuti oleh pihak-pihak lain sehingga “Ibu Selamat, Bayi Sehat, Suami Siaga” menjadi slogan bersama.
Menkes juga menyambut gembira atas keterlibatan SIKIB dalam kampanye P4K sebagai upaya memajukan kesehatan ibu dan anak. Menkes juga menyampaikan apresiasi atas peran PKK yang telah bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dalam pelaksanaan program kesehatan terutama KIA di lapangan.

F. Pengaruh Sosial Budaya Terhadap Kesehatan Masyarakat
Tantangan berat yang masih dirasakan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah. Selain masalah tersebut, masalah lain yang perlu diperhatikan yaitu berkaitan dengan sosial budaya masyarakat, misalnya tingkat pengetahuan yang belum memadai terutama pada golongan wanita, kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, perilaku, dan kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan.
Keadaan sosial budaya masyarakat tidak seluruhnya bersifat negatif, namun ada juga yang positif yang dapat dimanfaatkan dalam pembangunan kesehatan, yaitu semangat gotog royong dan kekeluargaan, serta sikap musyawarah dalam mengambil keputusan.
Pembangunan dalam suatu negara selain berdampak positif juga menimbulkan hal-hal negatif seperti timbulnya daerah kumuh (slum area) di perkotaan akibat pesatnya urbanisasi, polusi karena pesatnya perkembangan industri, banyak ibu-ibu karier yang tidak dapat mengasuh dan memberikan ASI secara optimal kepada anaknya, masalah kesehatan jiwa yang menonjol dan penyalahgunaan obat.
Masalah-masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan aspek sosial budaya dapat dibedakan menjadi:
1. Kesehatan Ibu dan Anak
Berdasarkan survei rumah tangga (SKRT) pada tahun 1986, angka kematian ibu maternal berkisar 450 per 100.000 kelahiran hidup atau lebih dari 20.000 kematian pertahunnya.
Selain itu, dengan perkembangan penduduk dan pembangunan akan mengakibatkan berbagai macam sampah yang dapat mengganggu kesehatan.
Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator kesehatan ibu yang meliputi ibu dalam masa kehamilan, persalinan, dan nifas. Angka tersebut dikatakan tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN.
Dari hasil penelitian di 12 rumah sakit, dikatakan bahwa kehamilan merupakan penyebab utama kematian ibu maternal, yaitu sebesar 94,4% dengan penyebabnya, yaitu pendarahan, infeksi, dan toxaemia (*)%). Selain menimbulkan kematian, ada penyebab lain yang dapat menambah resiko terjadinya kematian yaitu Anemia gizi pada ibu hamil, dengan Hb kurang dari 11gr%.
Angka kematian bayi pada akhir pelita V masih cukup tinggi, yaitu 58 per seribu kelahiran hidup. Sekitar 38% penyebab kematian bayi adalah akibat penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi yaitu tetanus. Angka bayi lahir hidup dengan berat badan lahir rendah (BBLR) adalah 8,2 %.
Angka kematian balita masih didapatkan sebesar 10,,6 per 1000 anak balita. Seperti halnya dengan bayi sekitar 31% penyebab kematian balita adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, yaitu infeksi saluran pernafasan, polio, dan lain-lain.
Selain angka kematian, angka kelahiran dan angka kesuburan masih dirasakan pula sebagia masalah kesehatan ibu dan anak. Angka kelahiran kasar didapatkan berkisar antara 26-32 per 1000 penduduk dan angka kesuburan sebesar 3,49.
Masih tingginya angka kematian dan kesuburan di Indonesia berkaitan erat dengan faktor sosial budaya masyarakat, seperti tingkat pendidikan penduduk, khususnya wanita dewasa yang masih rendah, keadaan sosial ekonomi yang belum memadai, tingkat kepercayaan masyarakat tergadap pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan yang masih rendah dan jauhnya lokasi tempat pelayanan kesehatan dari rumah-rumah pendudukkebiasaan-kebiasaan dan adat istiadat dan perilaku masyarakat yang kurang menunjang dan lain sebagainya.
Tingkat pendidikan terutama pada wanita dewasa yang masih rendah, mempunyai pengaruh besar terhadap masih tingginya angka kematian bayi. Berdasarkan survei rumah tangganya (SKRT) pada tahun 1985, tingkat buta huruf pada wanita dewasa adalah sebesar 25,7%. Rendahnya tingkat pendidikan dan buta huruf pada wanita menyebabkan ibu-ibu tidak mengetahui tentang perawatan semasa hamil, kelahiran, perawatan bayi dan semasa nifas, tidak mengetahui kapan ia harus datang ke pelayanan kesehatan, kontrol ulang, dan sebagainya.
Menurut hasil survei rumah tangga, tahun 1986 sebanyak 54% ibu hamil telah memeriksakan dirinya, dengan frekuensi kunjungan rata-rata 3,17 kali. Pengkajian KB-Kestahun 1986 tentang pemanfaatan tempat pemeriksaan menunjukkan yaitu Puskesmas 59,7%, fasilitas swasta 28,9%, sedangkan Posyandu 11,2%. Namun manfaat Posyandu untuk imunisasi bayi sudah cukup tinggi yaitu 60,9%. Rendahnya pemanfaatan Posyandu untuk pemeriksaan kehamilan disebabkan karena tidak tersedianya ruangan yang tertutup atau memadai.
Hasil survei rumah tangga tahun 1986, tentang angka imunisasi didapatkan: untuk imunisasi DPT 3 sebesar 34,9%, polio 331,6%, TT2 22,7%, BCG 75%. Bila dilihat dari data di atas, cakupan TT2 lebih rendah bila dibandingkan dengan cakupan pemeriksaan kehamilan. Cakupan TT2 yang rendah bila dibandingkan dengan cakupan pemeriksaan ibu hamil, disebabkan petugas KIA belum mendapatkan instruksi atau kesepmatan untuk dapat memberikan imunisasi TT2.
Kebiasaan-kebiasaan adat istiadat dan perilaku masyarakat sering kali merupakan penghalang atau penghambat terciptanya pola hidup sehat di masyarakat. Perilaku, kebiasaan, dan adat istiadat yang merugikan seperti misalnya:
• Ibu hamil dilarang tidur siang karena takut bayinya besar dan akan sulit melahirkan,
• Ibu menyusui dilarang makan makanan yang amis, misalnya: ikan, telur.
• Ibu habis melahirkan dilarang tidur siang,
• Bayi berusia 1 minggu sudah boleh diberikan nasi atau pisang agar mekoniumnya cepat keluar,
• Ibu post partum harus tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk karena takut darah kotor naik ke mata,
• Ibu yang mengalami kesulitan dalam melahirkan, rambutnya harus diuraikan dan persalinan yang dilakukan di lantai, diharapkan ibu dapat dengan mudah melahirkan.
• Bayi baru lahir yang sedang tidur harus ditemani dengan benda-benda tajam.
Tingkat kepercayaan masyarakat kepada terhadap petugas kesehatan, dibeberapa wilayah masih rendah. Mereka masih percaya kepada dukun karena kharismatik dukun tersebut yang sedemikian tinggi, sehingga ia lebih senang berobat dan meminta tolong kepada ibu dukun.
Petugas kesehatan pemerintah dianggap sebagai orang baru yang tidak mengenal masyarakat di wilayahnya dan tidak mempunyia kharismatik.
Selain faktor tersebut, rendahnya kunjungan masyarakat ke pelayanan kesehatan dikarenakan jauhnya lokasi pelayanan kesehatan dengan rumah penduduk sehingga walaupun masyarakat sudah mempunyai kemauan memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan, namun karena jauh ia harus segera mendapatka pertolongan, akhirnya ia berobat ke dukun yang dekat lokasinya.
2. Keluarga Berencana
Berdasarkan hasil SUPAS 1985, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 164 juta jiwa. Diperkirakan pada akhir tahun 1987 menjadi 172,3 juta jiwa dan akan menjadi 182,7 juta jiwapada tahun 1990. Pada tahun 1985, pertumbuhan penduduk sekitar 2,15% pertahun.
Pada umumnya, masalah-masalah yang berkaitan dengan fertilitas dan laju pertumbuhan penduduk disebabkan oleh pola pikir masyarakat yang bersifat kaku. Mereka masih mempunyai pendapatan bahwa anak adalah sumber rezeki, atau banyak anak banyak rezeki. Anak adalah tumpuan di hari tuanya.
Selain itu, faktor agama juga sangat menentukan keberhasilan pengendalian penduduk. Pada beberapa daerah yang masyarakatnya menggunakan agama sebagai pandangan hidup, misalnya islam, nasrani, mereka akan menentang program pengendalian penduduk berupa penggunaan alat kontrasepsi. Mereka menganggap bahwa dengan menggunakan alat kontrasepsi, berarti membunuh anak yang telah dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Keadaan-keadaan ini merupakan tantangan bagi pelaksana program Keluarga Berencana.
Berdasarkan hasil pengkajian KB-Kes tahun 1986, diperoleh bahwa tempat pelayanan KB yang banyak dikunjungi oleh para akseptor KB adalah Puskesmas, yaitu sebesar 50,8%, Posyandu 23%, swasta 13,2%, dan Pos KB desa/kader 13%. Dari hasil tersebut, ternyata pemanfaatan Posyandu oleh masyarakat berada di urutan kedua setelah Puskesmas. Hal ini disebabkan oleh siklus pil tidak selalu sama dengan waktu bukanya di Posyandu, sehingga akseptor lebih suka datang ke Puskesmas yang buka setiap hari. Keadaan ini perlu dijadikan bahan pemikiran, metoda apa yang tepat sehingga pelayanan tersebut dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
3. Gizi
Jika kita berbicara tentang gizi, maka yang terpikir oleh kita adalah semua makanan yang kita makan. Ditinjau dari aspek sosial budaya, Koentjaraningrat menyebutkan bahwa makanan yang kita makan dapat dibedakan menjadi dua konsep, yaitu nutrimen dan makanan. Nutrimen adalah suatu konsep biokimia yang berarti zat-zat dalam makanan yang menyebabkan bahwa individu yang memakannya dapat hidup dan berada dalam kondisi kesehatan yang baik. Makanan dikatakan sebagai suatu konsep kebudayaan, yaitu merupakan bahan-bahan yang telah diterima dan diolah secara budaya untuk dimakan, sesudah melalui proses penyiapan dan penyuguhan yang juga secara budaya, agar dapat hidup dan berada dalam kondisi kesehatan yang baik.
Kesukaan makan seseorang sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makannya sejak kanak-kanak. Keluarga dalam hal ini sangat menentukan kesukaan anak terhadap makanan tertentu. Makanan sebagai salah satu aspek kebudayaan sering ditentukan oleh keadaan lingkungan, misalnya wilayah yang sebagian besar memiliki pohon kelapa, maka jenis makanan yang dimakan banyak yang menggunakan santan atau kelapa, sedangkan wilayah yang sebagian besar terdiri dari perkebunan, jenis dan komposisi makanan banyak yang terbuat dari sayur-sayuran atau dikenal dengan lalapan.
Rasa makanan yang disukai oleh suatu masyarakat umumnya bervariasi. Ada sekelompok masyarakat yang menyukai makanan yang rasanya pedas, manis, asin, dan sebagainya. Kelompok masyarakat yang menyukai makanan yang rasanya manis dapat ditemukan di daerah-daerah di Pulau Jawa, sedangkan makanan yang rasanya pedas dapat ditemukan di daerah-daerah Sumatera dan Sulawesi. Sehingga sering kali masyarakat tertentu yang datang ke suatu wilayah yang berbeda dengan jenis makanan yang biasa ia makan, ia perlu mengadakan penyesuaian terhadap makanan tersebut. Perlu diperhatikan bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengganti makanan yang biasa ia makan dengan jenis makanan yang baru ia kenal.
Distribusi makanan dalam keluarga tidaklah sama dengan keluarga lain. Ada aturan-aturan tertentu yang harus dipenuhi oleh anggota keluarga. Seorang ayah yang dianggap sebagai pencari nafkah keluarga, harus diberikan makanan yang ‘lebih’ dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya. Kata lebih yang dimaksud meliputi kualitas, kuantitas, dan frekuensi makan. Ibu hamil tidak bisa makan dengan sebebasnya, tapi mempunyai keterbatasan tertentu, ada makanan-makanan tertentu yang tidak boleh dimakan oleh ibu hamil. Tamu dianggap sebagai raja, sehingga diberikan makanan yang tidak biasanya. Anak mempunyai makanan khusus seperti bubur nasi dan sebagainya. Sedangkan pembantu rumah tangga bisasnya diberikan makanan yang rendah kualitasnya.
Berdasarkan laporan penelitian gizi pada tahun 1979, di Indonesia masih terdapat masalah-masalah gizi. Masalah gizi tersebut bukan hanya menyangkut gejala kelaparan dan kekurangan kalori-kalori, tetapi juga menyangkut masalah kelebihan gizi.
Masalah kekurangan gizi bukan saja disebabkan oleh faktor sosial-ekonomi masyarakat, namun berkaitan pula dengan faktor sosial-budaya masyarakat setempat. Seperti misalnya persepsi masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan masih belum sesuai. Menurut mereka, yang disebut dengan makan adalah makan sampai kenyang, tanpa memperhatikan jenis, komposisi, dan mutu makanan, pendistribusian makanan dalam keluarga tidak berdasarkan debutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga, namun berdasarkan pantangan-pantangan yang harus diikuti oleh kelompok khusus, misalnya ibu hamil, bayi, balita, dan sebagianya.
Di samping hal tersebut, pengetahuan keluarga khususnya ibu memegang peranan yang cukup penting dalam pemenuhan gizi keluarga. Kurangnya pengetahuan ibu tentang makanan yang mengandung nilai gizi tinggi, cara pengolahan, cara penyajian makanan, dan variasi makanan yang dapat menimbulkan selera makan anggota keluarganya, sangat berpengaruh dalam status gizi keluarga. Oleh karena itu, ibu lah sasaran utama dalam usaha-usaha perbaikan gizi keluarga.
Masalah kelebihan gizi, umumnya diderita oleh sekelomppok masyarakat yang mempunyai kemampuan ekonomi yang cukup, disamping faktor pola makan terhadap jenis makanan tertentu, juga ditentukan oleh faktor herediter.
Dalam kaitannya dalam kesehatan ibu dan anak serta kesehatan masyarakat, masalah gizi mempunyai pengaruh terhadap timbulnya penyakit-penyakit, misalnya anemia, pre-eklampsia, diabetes melitus, perdarahan, infeksi, dan sebagianya.

G. Peran Bidan dalam Peningkatan Kesehatan Ibu dan Anak
Bidan sebagai salah seorang anggota tim kesehatan yang terdekat dengan masyarakat, mempunyai peran yang sangat menentukan dalam meningkatkan status kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan ibu dan anak di wilayah kerjanya.
Menurut Departemen Kesehatan RI, fungsi bidan di wilayah kerjanya adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di rumah-rumah, mengenai persalinan, pelayanan keluarga berencana, dan pengayoman medis kontrasepsi.
2. Menggerakkan dan membina peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan, dengan melakukan penyuluhan kesehatan yang sesuai dengan permasalahan kesehatan setempat.
3. Membina dan memberikan bimbingan teknis kepada kader serta dukun bayi.
4. Membina kelompok dasa wisma di bidang kesehatan.
5. Membina kerja sama lintas program, lintas sektoral, dan lembaga swadaya masyarakat.
6. Melakukan rujukan medis maupun rujukan kesehatan ke fasilitas kesehatan lainnya.
7. Mendeteksi dini adanya efek samping dan komplikasi pemakaian kontrasepsi serta adanya penyakit-penyakit lain dan berusaha mengatasi sesuai dengan kemampuannya.
Melihat dari luasnya fungsi bidan tersebut, aspek sosial-budaya perlu diperhatikan oleh bidan. Sesuai kewenangan tugas bidan yang berkaitan dengan aspek sosial-budaya, telah diuraikan dalam peraturan Menteri Kesehatan No. 363/Menkes/Per/IX/1980 yaitu: Mengenai wilayah, struktur kemasyarakatan dan komposisi penduduk, serta sistem pemerintahan desa dengan cara:
1. Menghubungi pamong desa untuk mendapatkan peta desa yang telah ada pembagian wilayah pendukuhan/RK dan pembagian wilayah RT serta mencari keterangan tentang penduduk dari masing-masing RT.
2. Mengenali struktur kemasyarakatan seperti LKMD, PKK, LSM, karang taruna, tokoh masyarakat, kelompok pengajian, kelompok arisan, dan lain-lain.
3. Mempelajari data penduduk yang meliputi:
• Jenis kelamin
• Umur
• Mata pencaharian
• Pendidikan
• Agama
4. Mempelajari pata desa
5. Mencatat jumlah KK, PUS, dan penduduk menurut jenis kelamin dan golongan.
Agar seluruh tugas dan fungsi bidan dapat dilaksanakan secara efektif, bidan harus mengupayakan hubungan yang efektif dengan masyarakat. Salah satu kunci keberhasilan hubungan yang efektif adalah komunikasi. Kegiatan bidan yang pertama kali harus dilakukan bila datang ke suatu wilayah adalah mempelajari bahasa yang digunakan oleh masyarakat setempat.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh bidan agar dirinya dikenal oleh masyarakat ialan ia harus mampu mempromosikan dirinya dengan menampilkan kepribadian sesuai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat, memahami bahwa masyarakat merupakan bagian dari dirinya, sehingga bidan memiliki kharismatik bagi masyarakat di wilayah kerja. Apabila masyarakat sudah menanggap bahwa bidan adalah orang yang patut dicontoh (role model), maka ia akan melaksanakan hal-hal yang diajarkan dan dianjurkan oleh bidan.

Untuk dapat menampilkan kepribadian yang sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku, bidan terlebih dahulu harus mempelajari sosial-budaya masyarakat tersebut, yang meliputi tingkat pengetahuan penduduk, struktur pemerintahan, adat istiadat dan kebiasaan sehari-hari, pandangan norma dan nilai, agama, bahasa, kesenian, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wilayah tersebut.

H. Faktor Pendorong Dan Penghambat Pembangunan Kesehatan
Rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan berdasarkan gotong-royong, swadaya masyarakat dalam rangka menolong mereka sendiri untuk mengenal dan memecahkan masalah atau kebutuhan yang dirasakan masyarakat, baik dalam bidang kesehatan maupun bidang dalam bidang yang berkaitan dengan kesehatan, agar mampu memelihara kehidupannya yang sehat dalam rangka meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi dan status kesehatan perempuan Indonesia masih rendah hal ini terlihat dari beberapa indikator Angka Kematian Ibu (AKI) saat ini masih tertinggi dibanding negara-negara lain di ASEAN. Permasalahan tersebut disebabkan oleh permasalahan seperti status kesehatan reproduksi, status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan, pendidikan, tingkat ekonomi keluarga yang rendah serta status dan kedudukan perempuan yang rendah dalam keluarga dan masyarakat.
Isu lain adalah rentannya perempuan terhadap Penyakit menular ( HIV/AIDS) terutama daerah padat penduduk, perbatasan dan daerah wisata karena kurangnya pengetahuan HIV/AIDS dan kurangnya akses pelayanan pencegahan dan Kekerasan Terhadap Perempuan. Masih banyaknya penyakit infeksi dan menular yang disebutkan diatas, menyebabkan beban ganda (double burden) yang ditanggung semakin berat ,karena penyakit degenerative dan life style tergolong tinggi. Revrisond bawsir dkk (1999), dalam bukunya “pembangunan tanpa perasaan”menyebutkan bahwa pelayanan kesehatan kita belum menjangkau seleruh lapisan masyarakat alias tidak merata,diperparah lagi subsidi sector kesehatan malah dinikmati kalangan ‘berpunya’.
Ironisnya, masyarakat, media massa, politikus bahkan insan kesehatan masih memandang hak kesehatan hanya pada hak untuk memperoleh pelayanan kuratif dirumah sakit dan puskesmas .Padahal,hak untuk menikmati hidup sehat jauh lebih luas daripada sekedar hak akan pelayanan kuratif.salah satu jaminan dari Negara bahwa segala akses informasi tentang kesehatan dan ketersediannya harus terpenuhi bagi segala lapisan masyarakat.
Kesehatan perempuan sebagai sebuah investasi merupakan cerminan dari pentingnya SDM yang produktif. Di beberapa Negara maju yang menggunakan konsep sehat produktif, sehat adalah sarana atau alat untuk hidup sehari-hari secara produktif. Upaya kesehatan harus diarahkan untuk dapata membawa setiap penduduk memiliki kesehatan yang cukup agar bisa hidup produktif.
Selama ini, pemerintah masih memandang sektor kesehatan sebagai sektor konsumtif, kesehatan tidak dilihat sebagai investasi, tetapi hanya dilihat sebagai sector kesejahteraan yang dinilai menjadi beban biaya. Bukti nyatanya adalah alokasi belanja kesehatan pemerintah yang sangat rendah, hanya sekitar 2-3% dari total belanja Negara. Namun ironisnya, pelayanan kesehatan malah menjadi sumber pendapatan pembangunan.
Disini membuktikan pemerintah menerapkan standar ganda dalam bidang kesehatan. Disatu sisi, belanja kesehatan dianggap beban dan tidak diprioritaskan. Disisi lain, pelayanan kesehatan dijadikan sumber pendapatan. Artinya pembangunan Negara ini disokong dari uang rakyat yang sakit. Sehingga masuk akal bila ada orang usil mengatakan ”bila pemerintah ingin mendapat sumber pendapatan yang besar sebar saja kuman atau virus kepada masyarakat, agar masyarakat menjadi sakit dan kemudian mereka berobat ke rumah sakit pemerintah”.
Padahal dengan rendahya alokasi belanja kesehatan akan menghasilkan indicator kesehatan yang rendah. Jika dibandingkan dengan Negara ASEAN, Indonesia terendah dalam belanja kesehatan. Dalam laporan kesehatan WHO tahun 1999, Indonesia hanya mengeluarkan 1,8% dari produk domestik brutonya (PDB) untuk belanja kesehatan. Sementara Negara ASEAN lain yang memiliki PDB perkapita lebih tinggi mengeluarkan porsi lebih besar untuk kesehatan. Maka tidak mengherankan bila indicator kesehatan Indonesia, terendah di antara Negara ASEAN, karna kita menanam modal lebih kecil, maka kita mendapat hasil yang sedikit.
Menurut Thabrany (1999),terdapat lorelasi negative antara status kesehatan dengan pendapatan perkapita di kemudian hari,jika factor lain konstan. Negara-negara yang diawal 70-an memiliki AKB tinggi,tidak memiliki AKB tinggi,tidak memiliki pendapatan perkapita tinggi di tahun 1991lingkungan eksekutif, legisletif, maupun dari masyarakat termasuk swasta. Kunci sukses lainnya di tengah keterbasan sumber daya dalam hal pembiayaandan tenaga adalah memprioritaskan bidang bidang pembangunan kesehatan , seperti kesehatan Ibu dan Anak.
Kondisi tersebut diatas menunjukan ,kesehatan sebagai salah satu unsur Utama SDM dan sebagai modal tahan lama bagi pembangunan kesehatan Indonesia sama sekali belum dianggap penting oleh para pembuat keputusan. Padahal adagium di lingkungan internasional yang menyebutkan “Health is not everything, but without health, everything is nothing” merupakan cerminan dari urgensitas kesehatan dalam suatu pengembangan masyarakat dan pembangunan secara nasional.maka diharapkan bagi pemerintah untuk memahami keadaan tersebut dan menyusun paradigma yang menyokong Pembangunan dengan meningkatkan kesehatan agar menghasilkan SDM yang berkualitas.
I. Permasalahan Umum Kesehatan
1. Disparitas status kesehatan
Disparitas adalah perbedaan; jarak: adanya upah yang diterima oleh para pekerja pabrik itu. Di Indonesia yang sungguh kaya luar biasa ini,status Menghalangi pemiliknya untuk mendapatkan hak kesehatan yang layak. , masyarakat, media massa, politikus bahkan insan kesehatan masih memandang hak kesehatan hanya pada hak untuk memperoleh pelayanan kuratif dirumah sakit dan puskesmas . “Meskipun secara nasional kualitas kesehatan masyarakat telah meningkat namun disparitas antar tingkat sosial ekonomi dan antar wilayah masih cukup tinggi,” katanya.
Padahal, hak untuk menikmati hidup sehat jauh lebih luas daripada sekedar hak akan pelayanan kuratif.salah satu jaminan dari Negara bahwa segala akses informasi tentang kesehatan dan ketersediannya harus terpenuhi bagi segala lapisan masyarakat.Belum Dipenuhi oleh Negara.Selama ini Kesehatan Dianggap sebagai barang yang mahal, Kesehatan Di Indonesia hanya untuk kalangan berpunya ‘orang miskin dilarang sakit’disini.tragis, mengingat Kekayaan Indonesia yang luar biasa banyak.
2. Beban Ganda penyakit
Bagi masyarakat Indonesia khususnya, penyakit memiliki beban ganda,yang pertama adalah rasa sakit yang diderita dan Uang yang cukup banyak Untuk mengatasi masalah penyakit yang dideritanya. Hal ini memberikan dampak negative pada Pasien yang bersangkutan, karena keterbatasan dana, mereka mendapatkan keterbatasan Pelayanan kesehatan.
3. Kinerja Pelayanan yang rendah
Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat, Agung Laksono, menilai kinerja pelayanan kesehatan masih rendah terutama di daerah tertinggal, terpencil, perbatasan dan pulau-pulau terluar. Padahal kinerja kesehatan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan penduduk,”. Agung Laksono, menjelaskan hal itu merupakan tantangan pembangunan kesehatan di Indonesia yang memerlukan dukungan semua elemen bangsa.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan yang ditandai dengan masih dibawah standarnya kualitas pelayanan sebagian rumah sakit daerah serta keterbatasan tenaga kesehatan juga menjadi tantangan yang harus segera diatasi. Dikatakan, hingga saat ini jumlah dan distribusi dokter, bidan serta perawat belum merata dimana disparitas rasio dokter umum per 100.000 penduduk antar wilayah masih tinggi. “Indonesia mengalami kekurangan pada hampir semua tenaga kesehatan yang diperlukan, ” katanya.
4. Perilaku masyarakat yang kurang mendukung hidup Bersih
Dewasa ini sikap masyarakat Indonesia juga sama buruknya dengan system yang mengatur kesehatan.Jika anda berkunjung ke Jakarta misalnya, lihatlah sungai disana kini sungai di Jakarta mengalami perubahan fungsi, fungsi sungai bukan lagi menjadi tata perairan kota tapi tempat sampah umum. Belum lagi ada masyarakat yang MCK di sungai, begitu pula di sebagian wilayah pedesaan Indonesia kesadaraan akan pentingnya kesehatan belum kita temukan di masyarakat kita.
5. Rendahnya Kondisi kesehatan lingkungan
Rendahnya Pembangunan Ekonomi yang belum merata adalah biang keladi pokok masalah ini.hal tersebut menimbulkan kesenjangan soasial Baik Papan,sandang dan pangan. Pertanyaan mengapa kesehatan lebih banyak dialamai oleh orang tak berpunya, mungkin jawabannya adalah karena lingkungan tempat tinggal yang buruk.
Itulah gambaran umum Masalah umum kesehatan di negeri kita tercinta, semuanya Berpangkal pada Ekonomi dan pendidikan.

J. Langkah Langkah Yang Harus Ditempuh
1. Pembangunan Berwawasan Kesehatan
a. Internal
1) Memperbaiki kinerja pelayanan kesehatan
Seiring berkembangnya Pengetahuan dan kebutuhan masyarakat tentang arti kesehatan,maka para pelaku kesehatan dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik, oleh karena itu semua pihak yang bekerja dalam kesehatan disarankan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya, baik dengan pendidikan normal, pendidikan informal, seminar seminar kesehatan. Dan selalu mengakses informasi ter-update.langkah langkah ini diharapkan bisa memajukan kesehatan Indonesia.
2) Mengelola masyarakat
Pembangunan Diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat tujuannya adalah Mengubah perilaku masyarakat. Diselenggarakan dengan dasar-dasar perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata dikarenakan Masyarakat sebagai penentu kesehatannya sendiri . Memperhatikan dinamika kependudukan, epidemiolog, ekologi, kemajuan iptek, serta globalisasi dan demokratisasi hal ini Berurusan dengan pengaruh dari sektor lain.
b. Eksternal
1) Diluar system kesehatan
Banyaknya factor lambatnya pembangunan kesehatan di Indonesia, perlu segera di atasi.faktor dari luar pelaku kesehatan adalah para pasien ataupun sasaran kesehatan yaitu masyarakat.dilihat dari segi perekonomian Indonesia saja telah dapat dilihat kesenjangan yang terjadi,di harapkan Departemen kesehatan, masyarakat, dan para pelaku kesehatan lebih peduli juga terhadap masalah masalah ini.kebiasaan masyarakat miskin yang cenderung jorok, bukan tanpa alasan, adalah karena kesterbatasan mereka, sementara sikap acuh mereka disebakan oleh minimnya pengertahuan masyarakat tentang kesehatan. Pelaku kesehatan di harapkan mengadakan penyuluhan – penyuluhan, serta pemberdayaan masyarakat, bukan hanya di kota, tapi terlebih di desa-desa pedalaman.
2) Determinan kesehatan
Untuk merealisasikan tujuan-tujuan diatas tersebut perlu ditingkatkan sector social ekonomi, budaya positif dan lingkungan yang sehat.Perilaku gaya hidup dipengaruhi oleh :
• Pendidikan
• Pertanian
• Industri pangan
• Lingkungan kerja
• Pekerjaan
• Air besih dan sanitasi
• Serta pelayanan kesehatan perumahan
Semua itu perlu ditingkatkan guna kemajuan dan peningkatan pembangunan kesehatan. Namun hal yang terpenting untuk meningkatkan kesehatan SDM Indonesia adalah faktor genetik dan kondisi awal kehidupannya.yang bersangkutan dengan Ibu hamil,masa kehamilan dan kelahiran.peningkatan dalam hal ini sangatlah penting untuk di perhatikan oleh semua masyarakat Indonesia.

 

 

 

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mengingat kesehatan mencakup seluruh aspek kehidupan, konsep kesehatan sekarang ini, tidak saja berorientasi pada aspek klinis dan obat-obatan, tetapi lebih berorientasi pada ilmu-ilmu lain yang ada kaitannya dengan kesehatan dan kemasyarakatan, yaitu seperti ilmu sosiologi, antropologi, psikologi, perilaku, dan lain-lain.
Di negara berkembang seperti Indonesia, unsur-unsur kebudayaan yang ada kurang menunjang pencapaian status kesehatan yang optimal. Unsur-unsur tersebut antara lain; ketidaktahuan, pendidikan yang minim sehingga sulit menerima informasi-informasi dan tekhnologi baru.
Mengingat keadaan tersebut, kita perlu memperhatikan aspek sosial budaya masyarakat dalam kaitannya dengan keadaan kesehatan di Indonesia. Sehingga kita dapat melihat penyakit atau masalah kesehatan bukan saja dari sudut gejala, sebab-sebabnya, wujud penyakit, obat dan cara menghilangkan penyakit, tetapi membuat kita untuk berfikir tentang bagaimana hubungan sosial budaya, geografi, demografi, dan persepsi masyarakat dengan masalah yang sedang dihadapi.

B. Saran
Pembuatan makalah ini adalah untuk menginformasikan atau memberitahukan kepada teman-teman mengenai aspek sosial budaya yang berkaitan dengan pembangunan kesehatan yang ada didalam masyarakat. Dan juga diharapkan bagi mahasiswa agar dapat memahami isi dari makalah ini.
DAFTAR PUSTAKA

http://catatancalonbidan.multiply.com/journal/item/6/Aspek_Sosial_Budaya_Dalam_Pembangunan_Kesehatan
http://roberthanatalia.blogspot.com/2010/12/hubungan-aspek-sosial-terhadap.html
http://muslimah-isbd.blogspot.com/2010/11/12faktor-pendorong-dan-penghambat.html
http://www.pakar-bangsa.com/2011/12/aspek-sosial-budaya-yang-berkaitan.html

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI KESEHATAN

 

  1.  Sosiologi

Sosiologi terdiri dari kata socius : masyarakat dan logos : ilmu.Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari masyarakat, perilaku sosial manusia (perilaku kelompok, interaksi kelompok & menganalisis pengaruh kegiatan kelompok pada anggotanya).

Sosiologi : pengetahuan tentang hubungan sosial manusia & produk dari hubungan tersebut.

  1.  Sosiologi kesehatan
  • Sosiologi Kesehatan : ilmu terapan sosiologi, kajian sosiologi dalam konteks kesehatan.
  • Sosiologi Kedokteran : studi tentang faktor-faktor sosial dalam etiologi (penyebab),prevalensi (angka kejadian), profesi kedokteran & hubungan dokter-masyarakat, perilaku kesehatan, pengaruh norma sosial terhadap perilaku, interaksi antar petugas & petugas kesehatan-masyarakat.
  • Prinsip dasar : penerapan konsep & metode sosiologi dalam mendeskripsikan, menganalisis, memecahkan masalah kesehatan.
  1.  Metodologi sosiologi
  • Menggunakan penelaahan ilmiah didasarkan bukti yang dapat diuji. Identitas sosiologi adalah sifat empiris yaitu mempelajari apa yang terjadi (das sein) di masyarakat bukan yang seharusnya (das sollen) terjadi di masyarakat. (Roland J Pellegrin)
  • Aspek hubungan interaksi antara individu dgn individu & kelompok, serta kelompok dgn kelompok.

 

  • Metode :

a. Kualitatif : tidak bisa diukur dengan angka tetapi nyata dalam masyarakat (metode historis, komparatif, studi kasus).

b. Kuantitatif : bisa diukur dg angka menggunakan skala, indeks, tabel & formula (metode statistik,sociometry).

  • MetodeHistoris : analisis peristiwa di masa silam merumuskan prinsip umum.
  • MetodeKomparatif : perbandingan antara bermacam-macam masyarakat perbedaan, persamaan serta sebab-sebabnya.
  • Metode studi kasus (case study) : penelaahan suatu persoalan khusus yang merupakan gejala umum dari persoalan lainnyadan umum.
  • Sociometry : himpunan konsep dan metode yang bertujuan menggambarkan & meneliti hubungan antar manusia dalam masyarakat secara kuantitatif.
  1.  Metode riset sosiologi kesehatan

• Metode riset :

a. Cross Sectional

b. Longitudinal :

  • Prospektif : pengamatan saat ini dilanjutkan ke depan dalam jangka waktu tertentu.
  • Retrospektif (ex post facto) : studi yang bekerja mundur, menggunakan data yang telah dicatat.
  • Metode eksperimen laboratorium dan lapangan, dengan teknik pasangan (match-pair technique) & teknik penugasan acak.

 

Teori implisit dan eksplisit

• TeoriImplisit : tindakan sosial yang dilandasi oleh asumsibahwa setiap org memiliki keunikan & membutuhkan perlakuan yang berbeda

• TeoriEksplisit : upaya mem-verbal-kan apa yang dilakukan manusia dalam berinteraksi dg sesama manusia (mengapa?)

  1.  Konsep umum tentang kesehatan
  • Health for all : kesehatan adalah kebutuhan setiap individu dari berbagaikalangan status kesehatan (sakit–sehat), ekonomi(kaya-miskin), sosial (elit-wongalit), geografik (desa-kota) dan psikologi perkembangan (bayi, anak, remaja,dewasa,manula).Promotif (peningkatan), preventif (pencegahan), kuratif(penyembuhan), rehabilitatif (perbaikan).
  • All for health : seluruh aktifitas manusia terkait dan berpengaruh terhadap kesehatan.

• Perspektif nilai kesehatan : kemampuan menggali unsur budaya/sumber daya alam untuk kesehatan.

• Dimensi kesehatan manusia :

  1. Jasmaniah material keseimbangan nutrisi
  2. Kesehatan fungsional organ energi aktivitas jasmaniah
  3. Kesehatan pola sikap dikendalikan pikiran
  4. Kesehatan emosi-rohaniah aspek spiritual keagamaan

Perawatan kesehatan yang menyeluruh (holistik) : Proses penyembuhan dengan menggunakan terapi nutrisi, emosi & sosial (dukungan/support dr keluarga motivasi sembuh pasien).

 

  1.  Peran Sosiologi dalam Praktik Kesehatan

Peran Sosiologi :

• Sebagai ahli riset : penelitian ilmiah & pembinaana pola pikir terhadap masyarakat

• Konsultan kebijakan : menganalisis fakta sosial, dinamika sosial & kecenderungan proses serta perubahan sosial

• Teknisi dalam perencanaan & pelaksanaan program kegiatan masyarakat

• Peran sebagai pendidik kesehatan : wawasan & pemahaman thd tenaga kesehatan/ pengambil kebijakan kesehatan

• Manfaat Sosiologi bagi kesehatan :

a. Mempelajari cara org meminta pertolongan medis.

b. Mengetahui latar belakang sosial-ekonomi masyarakat dalam pemanfaatan layanan kesehatan.

c. Menganalisis faktor-faktor sosial dalam hubungannya dg etiologi penyakit.

d. Menganalisis fakta –fakta sosial (sakit, cacat fisik).

• Penilaian klinis lebih rasional

• Menghargai perilaku pasien, kolega & organisasi

• Menangani kebutuhan sosial –emosional pasien

 

 

 

  1.  Individu, masyarakat & kebudayaan

a. Individu

  • Individuum : yang tak terbagi

• Individu memiliki jasmani – rohani / fisik-psikis yang menyatu/utuh

• Memiliki keunikan tdk ada orang yang persis sama

Manusia sebagai makhluk sosial

• Tunduk pada aturan / norma sosial

• Menampilkan perilaku yang mengharapkan penilaian org lain

• Memiliki kebutuhan untuk berinteraksi dg orang lain

• Potensi akan berkembang bila hidup di tengah manusia

b. Masyarakat

• Masyarakat : suatu kelompok manusia di bawah tekanankebutuhan dan pengaruh kepercayaan, ideal dan tujuan,tersatukan dalam suatu rangkaian kesatuan kehidupan bersama.

• Unsur dasar masyarakat :

– Interaksi antar individu tindakan yang saling berkaitan

– Hubungan antar-individu terbentuk dalam satukomunikasi yang saling ketergantungan (interdependensi)

– Menempati wilayah ukuran kecil maupun sangat luas

– Adaptasi budaya daya / kekuatan internal masyarakat untuk menyesuaikan diri dgn perubahan sosial

– Memiliki identitas

– Kelompok perkumpulan secara formal

• Kategori tingkah laku :

– Social episode : bereaksi thd seseorang dalam hubungannya dg orang lain

– Potentially social episode : tidak bereaksi walaupun hanya terhadap satu orang saja yang dihadapinyasikap tidak kooperatif

– Nonsocial episode : apatis, menyendiri atau egois

  1.  Masyarakat pedesaan

• Warga memiliki hubungan yang lebih erat

• Sistem kehidupan berkelompok atas dasar kekeluargaan

• Umumnya hidup dr pertanian

• Golongan orang tua memegang peranan penting

• Dr sudut pemerintah, hubungan antara penguasa & rakyat bersifat informal

• Perhatian masyarakat lebih pada keperluan utama kehidupan

• Kehidupan keagamaan lebih kental

• Banyak berurbanisasi ke kota

C o m m u n i t y

• Masyarakat yang bertempat tinggal di suatu wilayah (geografis ) dgn batas-batas tertentu, dimana faktor utama yang menjadi dasar adalah interaksi yang lebih dibandingkan dg penduduk di luar batas wilayahnya.

• Kriteria Klasifikasi masyarakat :

– Jumlah penduduk

– Luas, kekayaan & kepadatan penduduk

– Fungsi khusus thd seluruh masyarakat

– Organisasi masyarakat setempat yang bersangkutan

  1.  Masyarakat perkotaan

• Jumlah penduduknya tidak tentu

• Bersifat individualistis

• Pekerjaan lebih bervariasi, lebih tegas batasannya & lebih sulit mencari pekerjaan

• Perubahan sosial terjadi secara cepat, menimbulkan konflik antara golongan muda dg golongan orang tua

• Interaksi lebih disebabkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi

• Perhatian lebih pada penggunaan kebutuhan hidup yang dikaitkan dg masalah prestise

• Kehidupan keagamaan lebih longgar

• Banyak migran yang berasal dr daerah berakibat pengangguran, naiknya kriminalitas, dll

  1.  K e b u d a y a a n
  • Culture : mengolah tanah

• Kebudayaan : seluruh sistem gagasan dan rasa, tindakan, karya yang dihasilkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, yang dijadikan miliknya dgn belajar

Co. seorang sakit ingin sehat gagasan

merasa menderita jika sakit rasa

jika sakit mencari pengobatan tindakan

dokter mengobati menggunakan obat karya

• Wujud budaya (Koentjaraningrat) : artefak/benda fisik, sistem tingkah laku/tindakan berpola, sistem gagasan, ideologis/ keyakinan

• Kebudayaan sebagai sistem norma :

• Kebiasaan (folkways): cara yang lazim& wajar untuk melakukan sesuatu secara berulang-ulang oleh sekelompok org

• Tata kelakuan (mores) : gagasan kuat mengenai salah-benar yang menuntuk tindakan tertentu/melarang yang lain

• Hukum : perangkat aturan yang telah ditetapkan secara resmi oleh kelompok sebagai tata kelakuan yang berlaku

• Lembaga (institution): sistem hubungan sosial yang terorganisasi yang mewujudkan nilai-nilai & tata cara tertentu serta memenuhi kebutuhan dasar masyarakat tertentu

• Unsur Budaya :

• Bahasa : alat / media komunikasi lisan, tulisan atau simbolik

• Sistem pengetahuan : aspek fungsi dr akal-pikiran manusia

• Organisasi sosial : kelembagaan sosial di masyarakat

• Sistem peralatan hidup & teknologi : perangkat bantu dalam memperlancar aktivitas manusia dalam mencapai kebutuhannya

• Sistem mata pencaharian

• Sistem religi : aspek kepercayaan/keyakinan manusia pada sesuatu yang suci

• Kesenian : wujud ekspresi seni masyarakat

  1.  Macam-macam kelompok

• Kelompok primer (face to face group) : kelompok sosial yang paling sederhana dimana anggotanya saling mengenal serta kerja sama yang erat; co. keluarga

• Kelompok sekunder : kelompok yang terdiri dari banyak orang, yang sifat hubungannya tidak berdasarkan pengenalan pribadi dan tidak langgeng; co. kontrak jual beli

• Paguyuban : btk kehidupan bersama dimana anggotanya diikat oleh hubungan batin murni, alamiah & kekal; co kelompok kekerabatan, rukun tetangga

• Formal group : kelompok dg peraturan tegas & sengaja diciptakan oleh anggotanya untuk mengatur hubungan

• Informal group : tidak mempunyai struktur organisasi tertentu

  • Membership group : kelompok dimana setiap org secara fisik menjadi anggota kelompok
  • Reference group : kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang (bukan anggota) untuk membentuk pribadi & perilakunya

• Individu-individu yang sehat akan menjadi masyarakat yang sehat (the sane society)

• Ciri masyarakat sehat : keterbukaan, daya cipta, rasional

– Kuantitatif : angka harapan hidup, kematian bayi, mortalitas, kematian ibu & anak, penurunan angka kelahiran

– Sisi pelayanan : rasio tenaga kesehatan dg penduduk, distribusi tenaga kesehatan, sarana-kebutuhan

• Ciri masyarakat sakit : narsisme, dekstruktif, individualitas, irasional

  1.  Antropologi kesehatan

 Antropologi kesehatan adalah studi tentang pengaruh unsur-unsur budaya 
terhadap penghayatan masyarakat tentang penyakit dan kesehatan (Solita 
Sarwono, 1993)

 Antropologi Kesehatan mengkaji masalah-masalah kesehatan dan penyakit 
dari dua kutub yang berbeda yaitu kutub biologi dan kutub sosial budaya.

 Pokok perhatian Kutub Biologi :

 Pertumbuhan dan perkembangan manusia

 Peranan penyakit dalam evolusi manusia

 Paleopatologi (studi mengenai penyakit-penyakit purba)

 Pokok perhatian kutub sosial-budaya :

 Sistem medis tradisional (etnomedisin)

 Masalah petugas-petugas kesehatan dan persiapan profesional mereka

 Tingkah laku sakit

 Hubungan antara dokter pasien

 Dinamika dari usaha memperkenalkan pelayanan kesehatan barat 
kepada masyarakat tradisional.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Antropologi Kesehatan adalah 
disiplin yang memberi perhatian pada aspek-aspek biologis dan sosio-budya 
dari tingkahlaku manusia, terutama tentang cara-cara interaksi antara 
keduanya disepanjang sejarah kehidupan manusia, yang mempengaruhi 
kesehatan dan penyakit pada manusia (Foster/Anderson, 1986; 1-3).

Antropologi kesehatan merupakan bagian dari antropologi sosial dan kebudayaan yang mempelajari bagaimana kebudayaan dan masyarakat mempengaruhi masalah-masalah kesehatan, pemeliharaan kesehatan dan masalah terkait lainnya.

Istilah “Antropologi Kesehatan” telah digunakan sejak 1963 sebagai sebutan untuk hasil penelitian empiris dan teoritis yang dilakukan oleh antropologis kedalam proses sosial dan gambaran kebudayaan dari kesehatan, kesakitan, dan perawatan yang berhubungan dengan kebudayaan

Antropologi kesehatan merupakan bagian dari antropologi yang menggambarkan pengaruh sosial, budaya, biologi, dan bahasa terhadap kesehatan (dalam arti luas) meliputi pengalaman dan distribusi kesakitan, pencegahan dan pengobatan penyakit, proses penyembuhan dan hubungan sosial manajemen pengobatan serta kepentingan dan kegunaan kebudayaan untuk sistem kesehatan yang beranekaragam.

Antropologi kesehatan mempelajari bagaimana kesehatan individu, formasi sosial yang lebih luas dan lingkungan dipengaruhi oleh hubungan antara manusia dan spesies lain, norma budaya dan institusi sosial, politik mikro dan makro, dan globalisasi

 Selama lebih dari 20 abad konsep popular medicine atau folk medicine (pengobatan tradisional) telah familiar baik untuk dokter maupun antropologis.

 Istilah tersebut dipakai untuk menggambarkan praktek pengobatan masyarakat setempat terutama dengan pengetahuan etnobotani mereka.

Selanjutnya, mempelajari pengobatan tradisional menjadi tantangan bagi dunia barat seperti hubungan antara ilmu pengetahuan dengan agama

  1.  Akar dari Antropologi Kesehatan
    1. Antropologi fisik
  • Ahli-ahli antropologi fisik, belajar dan melakukan penelitian di sekolah-sekolah kedokteran (anatomi)
  • Ahli-ahli antropologi fisik adalah ahli antropologi kesehatan
  • Sejumlah besar ahli antropologi fisik adalah dokter

Hasan dan Prasad (1959) menyusun daftar lapangan studi antropologi kesehatan yang meliputi:

 nutrisi dan pertumbuhan

 korelasi antara bentuk tubuh dengan variasi yang luas dari penyakit-penyakit, misal radang pada persendian tulang(arthritis), tukak lambung (ulcer), kurang darah (anemia) dan penyakit diabetes.

 Underwood

 pengaruh-pengaruh evolusi manusia serta jenis penyakit yang berbeda-beda pada berbagai populasi yang terkena sebagai akibat dari faktor-faktorbudaya, misal: migrasi, kolonisasi dan meluasnya urbanisasi

 Fiennes

 penyakit yang ditemukan dalam populasi manusia adalah suatu konsekuensi yang khusus dari suatu cara hidup yang beradab, dimulai dari pertanian yang menjadi dasar bagi timbulnya dan berkembangnya pemukiman penduduk yang padat

 kedokteran forensik,

 suatu bidang mengenai masalah-masalah kedokteranhukum yang mencakup identifikasi misal: umur, jenis kelamin, dan peninggalan ras manusia yang didugamati karena unsur kejahatan serta masalah penentuan orang tua dari seorang anak melalui tipe darah, bila terjadi keraguan mengenai siapa yang menjadi bapaknya.

 Dalam usaha pencegahan penyakit

 penelitian mengenai penemuan kelompok-kelompok penduduk yang memiliki risiko tinggi, yakni orang-orang yang tubuhnya mengandung sel sabit (sickle-cell) dan pembawa penyakit kuning (hepatitis).

Para ahli ini telah memanfaatkan pengetahuan mereka mengenaivariasi manusia untuk membantu dalam bidang teknik biomedikal(biomedical engineering).

Ukuran, norma-norma dan standar yang berasal dari sejumlah studi antropologi, digunakan dalam bidang-bidang kedokteran anak serta kedokteran gigi, juga dalam berbagai survei tentangtingkatan gizi serta etiologi penyakit dalam populasi yang berbeda-beda maupun dalam suatu populasi.

    1. Etnomedisin

Cabang dari etnobotani atau antropologi kesehatan yang mempelajari pengobatan tradisional, tidak hanya yang berhubungan dengan sumber-sumber tertulis (contohnya pengobatan tradisional cina) tetapi terutama pengetahuan dan praktek yang secara oral diturunkan selama beberapa abad.

Dalam ilmu pengetahuan, etnomedisin pada umumnya ditandai dengan pendekatan antropologi yang kuat atau pendekatan biomedikal yang kuat, terutama dalam program penemuan obat.

kepercayaan dan praktek-praktek yang berkenaan dengan penyakit, yang merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan asli dan yang eksplisit tidak berasal dari kerangka kedokteran modern, merupakan urutan langsung dari kerangka konseptual ahli-ahli antropologi mengenai sistem medis non-barat

-Rivers, (Medicine, Magic, and Religion)

 sistem pengobatan asli adalah pranata-pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari pranata-pranata sosial umumnya, dan bahwa praktek-praktek pengobatan asli adalahrasional bila dilihat dari sudut kepercayaan yang berlaku mengenai sebab-akibat.

 Setelah antropologi kesehatan berkembang, terutama dalam bidang-bidang yang luas, konsep kesehatan internasional dan psikiatri lintas budaya (psikiatri transkultural), kepentingan pengetahuan praktis maupun teoritis mengenai sistem pengobatan non-Barat semakin tampak.

 Pengakuan tersebut telah memperbaharui perhatian dalam penelitian etnomedicine, dan mengangkatnya sebagai salah satu pokok penting dalam antropologi kesehatan.

    1. Studi-studi tentang kebudayaan dan kepribadian

Sejak pertengahan tahun 1930-an, para ahli antropologi, psikiater dan ahli ilmu tingkah laku lainnya mulai mempertanyakan tentang kepribadian orang dewasa, atau sifat-sifat dan lingkungan sosial budaya di mana tingkah laku itu terjadi.

 Apakah sikap orang dewasa yang terbentuk itu, terutama disebabkan oleh pembentukan semasa kanak-kanak dan oleh penerimanya terhadap kebiasaan-kebiasaan semasa kecil, serta karena pengalaman yang diterimanya kemudian?

 Atau adakah konstitusi psikis yang merupakan pembawaan berdasarkan faktor biologis, yang memainkan peranan penting dalam menentukan kebudayaan dan kepribadiannya?

 Walaupun bagian terbesar penelitian kepribadian dan kebudayaan bersifat teoritis, beberapa ahli antropologi yang menjadi pimpinan dalam gerakan tersebut menaruh perhatian besar pada cara-cara penggunaan pengetahuan antropologi dalam peningkatan taraf keperawatan kesehatan.

 Sebab itu Devereux, 1944 mempelajari struktur sosial dari suatu bagian keperawatan schizophrenia dengan tujuan untuk mencari cara penyembuhan yang tepat.

 Leighton menulis sebuah buku, yang menunjukkan tentang adanya konflik antara masyarakat dan kebudayaan.

 Navaho dengan masalah-masalah dalam mengintroduksi pelayanan kesehatan modern.

Alice Joseph, seorang dokter dan antropologi, melukiskan masalah hubungan antar pribadi pada dokter-dokter kulit putih dengan pasien-pasien Indian di Amerika Barat Daya, yang menunjukkan bagaimana peranan persepsi dan perbedaan kebudayaan dalam menghambat interaksi pengobatan yang efektif.

    1. Kesehatan masyarakat internasional

 WHO

 Petugas-petugas kesehatan yang bekerja di lingkungan yang bersifat lintas budaya, lebih cepat menemukan masalah daripada mereka yang bekerja dalam kebudayaan sendiri, dan khususnya mereka yang terlibat dalam klinik pengobatan melihat bahwa kesehatan dan penyakit bukan merupakan gejala biologik saja, melainkan juga gejala sosial-budaya

 kebutuhan kesehatan di negara berkembang tidaklah dapat dipenuhi dengan sekedar memindahkan pelayanan kesehatan dari negara-negara industri.

Kumpulan data pokok mengenai kepercayaan dan praktek pengobatan primitif dan petani yang telah diperoleh ahli antropologi kebudayaan pada tahun-tahun sebelumnya, informasi mengenai nilai-nilai budaya dan bentuk-bentuk sosial, serta pengetahuan mereka mengenai dinamika stabilitas sosial dan perubahan, telah memberikan kunci yang dibutuhkan bagi masalah-masalah yang dijumpai dalam program-program kesehatan masyarakat awal tersebut.

Para ahli antropologi dapat menjelaskan pada petugas kesehatan mengenai bagaimana kepercayaan tradisional serta prakteknya bertentangan dengan asumsi pengobatan Barat, bagaimana faktor sosial mempengaruhi keputusan perawatan kesehatan, dan bagaimana kesehatan dan penyakit semata-mata merupakan aspek dari keseluruhan pola kebudayaan, yang berubah bila ada perubahan sosial budayanya yang mencakup banyak hal.

Pada awal 1950-an, para ahli antropologi mampu mendemonstrasikan kegunaan praktis dari pengetahuan mereka dan metode penelitian mereka kepada petugas kesehatan masyarakat internasional, yang banyak menerima mereka dengan tangan terbuka.

8. Penelitian-penelitian sosio antropologi

Berikut contoh-contoh penelitian sosioantropologi :

a. Orang Papua mempunyai persepsi tentang sehat dan sakit itu sendiriberdasarkan pandangan dasar kebudayaan mereka masing-masing. Memangkepercayaan tersebut bila dilihat sudah mulai berkurang terutama padaorang Papua yang berada didaerah-daerah perkotaan, sedangkan bagimereka yang masih berada di daerah pedesaan dan jauh dari jangkauankesehatan moderen, hal tersebut masih nampak jelas dalam kehidupanmereka sehari-hari. Misal :

 Orang Marind-anim yang berada di selatan Papua juga mempunyaikonsepsi tentang sehat dan sakit, dimana apabila seseorang itu sakit berartiorang tersebut terkena guna-guna (black magic). Mereka juga mempunyaipandangan bahwa penyakit itu akan datang apabila sudah tidak ada lagikeimbangan antara lingkungan hidup dan manusia. Lingkungan sudah tidakdapat mendukung kehidupan manusia, karena mulai banyak. Bilakeseimbangan ini sudah terganggu maka akan ada banyak orang sakit, danbiasanya menurut adat mereka, akan datang seorang kuat (Tikanem) yangmelakukan pembunuhan terhadap warga dari masing-masing kampungsecara berurutan sebanyak lima orang, agar lingkungan dapat kembalinormal dan bisa mendukung kehidupan warganya (Dumatubun, 2001).

 Hal yang sama pula terdapat pada orang Amungme, dimana bila terjadiketidak seimbangan antara lingkungan dengan manusia maka akan timbulberbagai penyakit. Yang dimaksudkan dengan lingkungan di sini adalahyang lebih berkaitan dengan tanah karena tanah adalah “mama” yang memelihara, mendidik, merawat,dan memberikan makan kepada mereka (Dumatubun, 1987). Untuk itu bila orang Amungme mau sehat, janganlahmerusak alam (tanah), dan harus terus dipelihara secara baik.Orang Moi di Kepala Burung Papua (Sorong) percaya bahwa sakit itudisebabkan oleh adanya kekuatan-kekuatan supernatural, seperti dewa-dewa,kekuatan bukan manusia seperti roh halus dan kekuatan manusia denganmenggunakan black magic. Di samping itu ada kepercayaan bahwa kalauorang melanggar pantangan-pantangan secara adat maka akan menderitasakit. Orang Moi, bagi ibuhamil dan suaminya itu harus berpantang terhadap beberapa makanan, dan kegiatan, atau tidak boleh melewatitempat-tempat yang keramat karena bisa terkena roh jahat dan akan sakit(Dumatubun,1999). Ini berarti untuk sehat, maka orang Moi tidak bolehmakan makanan tertentu pada saat ibu hamil dan suaminya tidak bolehmelakukan kegiatan-kegiatan tertentu, seperti membunuh binatang besar,dan sebagainya.

 Hal yang sama pula bagi orang Moi Kalabra yang berada di hulu sungaiBeraur, (Sorong). Mereka percaya bahwa penyakit itu disebabkan olehadanya gangguan roh jahat, buatan orang serta melanggar pantanganpantangansecara adat. Misalnya bila seorang ibu hamil mengalamikeguguran atau perdarahan selagi hamil itu berarti ibu tersebut terkena“hawa kurang baik” (terkena black magic/ atau roh jahat). Mereka jugapercaya kalau ibu itu tidak bisa hamil/ tidak bisa meneruskan keturunan,berarti ibu tersebut telah dikunci karena suami belum melunasi mas kawin.Kehamilan akan terjadi bila sang suami sudah dapat melunasinya, makapenguncinya akan membuka black magic-nya itu (Dumatubun, 1999).

 Orang Hatam yang berada di daerah Manokwari percaya bahwa sakit itudisebabkan oleh gangguan kekuatan supranatural seperti dewa, roh jahat,dan buatan manusia.Orang Hatam percaya bahwa bila ibu hamil sulitmelahirkan, berarti ibu tersebut terkena buatan orang dengan obat racun(rumuep) yaitu suanggi, atau penyakit oleh orang lain yang disebut “priet”(Dumatubun, 1999).

   Orang Kaureh di kecamatan Lereh percaya bahwa seorang ibu yangmandul adalah hasil perbuatan orang lain yaitu denganblack magic ataujuga karena kutukan oleh keluarga yang tidak menerima bagian harta maskawin (Dumatubun, 1999).

    Hal yang serupa pula pada orang Walsa (Keerom), percaya bahwa sakitdisebabkan oleh gangguan roh jahat, buatan orang, atau terkena gangguandewa-dewa. Bila seorang ibu hamil meninggal tanpa sakit terlebih dahulu,berarti sakitnya dibuat orang dengan jampi-jampi (sinas), ada puladisebabkan oleh roh-roh jahat (beuvwa). Di samping itu sakit jugadisebabkan oleh melanggar pantangan-pantangan secara adat baik berupamakanan yang dilarang, dan perkawinan (Dumatubun,1999).

b. Kondisi geografis dan budaya masyarakat Bekonang kecamatan Mojolaban kabupaten SukoharjoJawa Tengah yang sebagian besar penduduknya mempunyai industri rumah tangga memproses tetes tebu menjadi alkohol yang berkadar rendah (37%) banyak disalahgunakan .Alat destilasi dapat menaikkan kadar alkohol dari 37% menjadi 90% yang dapatdigunakan untuk desinfektan di dunia kesehatan. Setelah kadar alkohol meningkat menjadi 90%,masyarakat Bekonang pada khususnya dan karisidenan Surakarta pada umumnya sudah tidaklagi menyalah-gunakan produksi alkohol “Ciu Bekonang” untuk minum dan mabuk-mabukkan.

c. Pola makan seseorang ternyata dibentuk dari latar belakang budaya yang dimilikinya dengan berbagai perubahan sosial- budaya yang terjadi (gaya hidup, rekayasa bio-teknologi, ekpresi simbolik,masuknya ideologi). Hasil penelitian menunjukan bahwa perilaku makan seseorang berkaitan dengan dimensi etis dalam melihat tentang “yang baik” dan “buruk” pada proses pembuatan dan pemasaran makanan dan berdampak pada munculnya masyarakat konsumtif.

d. Suatu studi hermeneutic fenomenologi telah dilakukan untuk mengeksplorasi berbagai kesulitan dan tantangan pertamakali menjadi seorang ibu di daerah pedesaan Indonesia. Sebanyak 13 ibu muda yang berpartisipasi dalam studi ini telah menceritakan pengalaman mereka tentang kesulitan dan tantangan yang mereka alami ketika dirinya telah menjadi seorang ibu pada periode tersebut. Data dikumpulkan dengan wawancara semi struktur. Tiga kesulitan dan tantangan utama menjadi seorang ibu teridentifikasi dari studi ini : (1) menjadi ibu baru tidak mudah, (2) menjadi seorang ibu baru tidak sebebas seperti sebelum menjadi ibu (3) mencoba menjadi seorang ibu yang baik. Dengan hasil studi ini diharapkan para praktisi kesehatan akan lebih memahami masalah kesulitan dan tantangan-tantangan yang dialami seorang ibu muda pada awal masa menjadi ibu, sehingga keadaan tersebut dapat diatasi dengan baik.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SURVEILANS EPIDEMIOLOGI AVIAN INFLUENZA (H5N1) DI KOTA BANDUNG

   KATA PENGANTAR

ﻣﻴﺤﺮﻠﺍﻦﻤﺤﺮﻠﺍﻪﻟﻟﺍ ﻣﺳﺒ

 

 Syukur   Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT   atas   limpahanrahmat dan   karunia-Nya sehingga   kami dapat menyelesaikan tugas kelompok yang berjudul Surveilans Epidemiologi Flu Burung / Avian Influenza (H5N1) Di Kota Bandung” sebagai salah satu tugas pada mata kuliah Surveilans Epidemiologi.

Dalam penyusunan tugas ini banyak melibatkan bantuan dan dukungan beberapa pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini kami ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

  1. Ibu Dyan Kunthi Nugrahaeni, SKM, MKM, selaku Dosen Mata Kuliah Surveilans Epidemiologi, yang telah memberikan arahan dalam pembuatan tugas ini.
  2. Pimpinan dan Staf Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung yang telah membantu menyediakan data.
  3. Teman-teman satu kelompok yang telah bekerjasama membuat tugas sehingga tugas ini dapat selesei tepat pada waktunya.
  4. Semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu.

 

Terakhir kami selalu mengharapkan agar semua pihak yang membaca tugas ini dapat memberikan masukan dan saran yang membangun

Wassalam                                                                                                

Penyusun

 

 

 DAFTAR LAMPIRAN

 

 

Lampiran

1

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia Di Kota Bandung Tahun 2005 – 2011

 

Lampiran

2

Form Penyelidikan Epidemiologi Avian Influenza H5N1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 LATAR BELAKANG

Avian Influenza menjadi masalah kesehatan global yang serius. Termasuk Indonesia karena selain menyerang hewan ternyata juga sudah menyerang manusia dan menelan banyak korban. Sampai saat ini kasus terus bertambah, baik pada binatang maupun pada manusia. Adanya kasus Avian Influenza H5N1 yang masih terus berlangsung sampai saat ini membuat dunia khawatir, mengingat virus influenza tersebut mampu untuk bermutasi atau reassortment (menyatunya virus Avian Influenza dengan virus influenza manusia pada manusia atau babi) dapat menghasilkan sub tipe virus baru yang dapat menimbulkan pandemi influenza. WHO memperkirakan bahwa pandemi influenza akan terjadi, walaupun sampai saat ini belum dapat dipastikan kapan terjadi serta akan dimulai. Untuk itu, semua negara dihimbau untuk menyiapkan kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza tersebut.

Avian Influenza yang dikenal sebagai flu burung adalah penyakit saluran pernafasan yang disebabkan oleh salah satu subtipe dari virus influenza A. Sejak tahun 1889 telah terjadi beberapa kali pandemi, yaitu H2N2, H3N8, H1N1, H2N2 dan H3N2. pada 1997 terjadi wabah Avian Influenza H5N1 pada manusia pertama kali dilaporkan di Hongkong, dari tahun 2003 sampai maret 2006 terjadi dibeberapa negara Thailand, Vietnam, Kamboja, China, Indonesia, Turki dan Iraq.

Penyebaran Flu Burung di berbagai daerah di Indonesia dimulai pada tahun 2005 sebanyak 20 kasus dengan kematian 13 orang, secara kumulatif sampai tahun Desember 2008 terjadi sebanyak 141 kasus dengan kematian 115 orang atau CFR 81,56 % (sumber : Ditjen PP&PL Kemenkes RI). Sementara kasus Flu Burung di Provinsi Jawa Barat ditemukan kasus suspek sebanyak 221 kasus dengan yang meninggal 25 orang (CFR 11.3 %) di 23 kabupaten/kota dan kasus positif/confirm sebanyak 34 kasus dengan yang meninggal 29 orang ( CFR 85,3 %) di 13 kabupaten/ kota (sumber : Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat).

Kota Bandung adalah suatu tempat yang penduduknya heterogen dengan budaya yang beragamam disertai mobilitas baik penduduk maupun transportasi yang tinggi sehingga sangat dimungkinkan terjadinya penyebaran penyakit.Kasus Flu Burung di Kota Bandung mulai ditemukan tahun 2005, dikelurahan Sukapura, Cipamokolan dan Dunguscariang walaupun masih dikatakan tersangka (suspect), namun setelah itu berkembang meluas secara progresive dan sporadic ke beberapa kelurahan di wilayah Kota Bandung. Dari data yang didapat dari Dinas Kesehatan Kota Bandung, sampai tahun 2011 masih ada kasus Flu Burung di Wilayah Kota Bandung.

  1. DEFINISI KASUS

 

Avian influenza adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus influenza yang ditularkan oleh unggas. Virus influenza terdiri dari beberapa tipe, antara lain tipe A, tipe B dan tipe C. influenza tipe A terdiri dari beberapa sub tipe, anatara lain H1N1, H3N2, H5N1 dan lain-lain.

 

  1. Etiologi

Saat ini diketahui bahwa subtipe yang paling virulen yang menyebabkan Avian influenza adalah subtipe H5N1 yang mempunyai nama famili orthomyxoviridae. Mempunyai 2 permukaan glikoprotein yg penting yaitu Hemaglutinin (H: 1-16) dan Neurominidase (N: 1-9), Komposisi H dan N sangat labil, mudah mengalami mutasi, virulensi dan patogenitasnya sangat bervariasi, mudah menular dan pola penularannya sulit diketahui. Dari hasil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit (oleh influenza A H5N1) dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus tersebut dapat bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22 0C dan lebih dari 30 hari pada 0 0C. Didalam tinja unggas dan dalam tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama, tetapi mati pada pemanasan 60 0C selama 30 menit. Dalam tinja unggas di suhu 4 0C virus dapat bertahan sampai 35 hari, namun pada suhu kamar (37 0C) hanya selama 6 hari

         

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Struktrur Virus Avian Influenza (H5N1)

Sumber : TOT AI (2011)

 

 

  1. Masa Inkubasi

Sampai saat ini masa inkubasi belum diketahui secara pasti namun untuk sementara para ahli (WHO) menetapkan masa inkubasi virus influenza ini pada manusia rata-rata adalah 3 hari (1-7 hari).

 

  1. Sumber dan Cara Penularan

Avian Influenza (H5N1) dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi , bahkan dapat menyebar antar peternakan, dan menyebar antar daerah yang luas. Penyakit ini menular kepada manusia dapat melalui :

  1. Kontak langsung dengan sekret/lendir atau tinja binatang yang terinfeksi melalui saluran pernafasan atau mukosa konjungtiva (selaput lendir mata).
  2. Melalui udara yang tercemar virus Avian Influenza (H5N1) yang berasal dari tinja atau sekret/lendir unggas atau binatang lain yang terinfeksi dalam jarak terbatas.
  3. Kontak dengan benda yang terkontaminasi virus Avian Influenza (H5N1)

 

  1. Klasifikasi Kasus

Kasus AI H5N1 pada manusia diklasifikasikan dalam 3 jenis kasus sesuai perkembangan diagnosis, yaitu kasus suspek, kasus probable dan kasus konfirmasi

  1. Kasus Suspek

Seseorang yang menderita demam panas ≥ 38 0C disertai atau lebih gejala berikut :

–      Batuk

–      Sakit tenggorokan

–      Pilek

–      Sesak Nafas (nafas pendek)

Ditambah dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :

–      Pernah kontak dengan unggas sakit/mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentahnya (telur, jeroan) termasuk kotoran dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas. Yang dimaksud dengan kontak adalah merawat, membersihkan kandang, mengelola, membunuh, mengubur, membuang / membawa.

–      Pernah tinggal dilokasi yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas. Luas lokasi ditemukan dengan mobilisasi unggas yang mati.

–      Pernah kontak dengan penderita AI Konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas.

–      Pernah kontak dengan penderita AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala diatas.

–      Ditemukan adanya leukopenia (< 5000/µl)

–      Ditemukan adanya antibody terhadap H5 dengan pemeriksaan hemaglutinase Inhibition (HI) test terhadap eritrost kuda.

ATAU

Seseorang yang menderita Accute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :

–      Leukopenia (< 5000) atau Limfositopenia.

–      Foto thoraks menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat baru dikedua sisi paru yang makin meluas pada serial foto.

  1. Kasus Probable

Adalah kasus yang memenuhi kriteria kasus suspek dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :

–      Ditemukan adanya kenaikan titer antibody 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan uji HI menggunakan eritrosit kuda atau uji ELISA.

–      Hasil laboratorium terbatas untuk Influenza H5 (terdeteksinya atibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi test.

  1. Kasus Konfirmasi

Adalah kasus suspek atau kasus probable dengan satu atau lebih keadaan dibawah ini :

–      Kultur (biakan) virus influenza A/ H5N1 Positif

–      Polymerase Clain Reaction (PCR) Influenza A/ H5N1 Positif

–      Pada Imunofluorescence (IFA) test ditemukan antibody positif dengan menggunakan antigen monoklonal influenza A/ H5N1.

–      Kenaikan titer antibody spesifik influenza/H5N1 pada fase konvaselen sebanyak 4 kali atau lebih dibandingkan dengan fase akut dengan Microneutralization Test.

 

 

  1. Type Surveilans

Pada Buku Pedoman Penanganan Flu Burung Bagi Petugas Kesehatan Layanan Dasar dikatakan bahwa Surveilans Epidemiologi Avian Influenza (AI) Integrasi adalah sebagai berikut :

  1. Surveilans Faktor Risiko (surveilans influenza pada hewan)
  2. Surveilans Influenza Like Illness (ILI, influenza klinis)
  3. Surveilans Pneumonia
  4. Surveilans Berbasis Laboratorium (serologi dan virologi)
  5. Penyelidikan Epidemiologi pada populasi berisiko tinggi (wabah AI unggas)
  6. Surveilans Kasus AI di Puskesmas dan RS
  7. Surveilans Kasus AI pada RS Khusus Rawat Kasus
  8. Penyelidikan Epidemiologi Kasus AI dan Surveilans Kontak Kasus AI

 

  1. Deteksi Dini Risiko Penularan Avian Influenza (H5N1)

Unggas – Manusia

Pendekatan yang diterapkan adalah sebagai berikut :

 

  1. Menemukan sedini mungkin adanya kejadian wabah AI (H5N1) Unggas, dengan melaksanakan surveilans Wabah AI (H5N1) Unggas
  2. Melaksanakan Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Unggas pada wabah AI (H5N1) tersebut diatas
  3. Pemeriksaan kasus ILI diantara Kontak Unggas. Memeriksa lebih teliti dengan pemeriksaan laboratorium setiap kasus ILI diantara kontak Unggas tersebut untuk mengetahui adanya virus AI (H5N1), yaitu dengan mengambil spesimen usap nasofaring, usap tenggorok dan darah tersebut untuk dilakukan Uji PCR dan atau Uji Serologi serta identifikasi hubungan epidemiologi dan kesamaan virus AI (H5N1) pada unggas
  4. Survei diantara kontak Unggas. Yaitu melakukan uji petik terhadap 5-10 orang yang kontak dengan unggas dan mengambil spesimen usap nasofaring, usap tenggorok dan darah untuk dilakukan Uji PCR dan Uji Serologi *)
  5. Identifikasi sifat dan peta sebaran virus-virus yang ditemukan pada unggas dan manusia sebagai bagian dari Surveilans Virologi AI (H5N1)
  6. Berdasarkan data Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans ILI diantara Kontak Unggas pada Wabah AI (H5N1) tersebut dapat ditetapkan gambaran epidemiologi menurut waktu, tempat dan orang serta besarnya risiko penularan AI (H5N1) unggas – manusia
  7. Disamping itu, adanya penularan AI (H5N1) unggas – manusia dapat dilakukan dengan mengidentifikasi atau menelusuri adanya kontak dengan unggas sebagai sumber penularan terhadap kasus-kasus AI (H5N1) manusia yang ditemukan. Kontak dengan unggas dimaksud adalah kontak dengan unggas sakit atau mati mendadak karena AI (H5N1) atau yang belum diketahui penyebabnya serta produk mentah (telur, jeroan) dan kotorannya pada 7 hari terakhir sebelum timbul gejala. Kontak dengan unggas adalah merawat, mengolah, memegang, membawa unggas atau membersihkan kandangnya

*) dilakukan sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan oleh tim penyelidikan epidemiologi

 

 

Jejaring Surveilans Epidemiologi Nasional Pengendalian dan Penanganan Flu Burung dapat digambarkan dalam diagram dibawah ini :

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                      

RS Rujukan AI

 

               
   
 
 

Disnak Kab/Kota

 

 

Dinkes Kab/kota KKKKKKKKKKKaKAb/Kota

 

     
 

 

 

         Ambil spesimen

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

 

                              Jalur informasi kasus & umpan balik

                                    Jalur spesimen & hasil laboratorium

                                    Jalur rujukan pasien

                                    Jalur koordinasi

 

 

  1. ANALISIS SITUASI DAN DATA

Kasus suspek Avian Influenza (H5N1) pada manusia di Kota Bandung pada tahun 2005 mendapat perhatian dari jajaran kesehatan khususnya Dinas Kesehatan Kota Bandung dengan leading sektornya Seksi Surveilans yang sekarang berganti menjadi Seksi Pemantau Penyakit dalam melakukan investigasi dan pelacakan kasus per kasus Flu Burung (AI- H5N1) di Wilayah Kota Bandung. Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data didapatkan data berikut ini :

 

Gambar 1.1

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia Menurut Tempat

di Kota Bandung Tahun 2005 – 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

       = Kasus Confirm

      = Kasus Suspect

 

Sumber : Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung

 

Dari gambar diatas, kasus Flu Burung menyebar hampir diseluruh kecamatan Kota Bandung. Angka kejadian paling tinggi terdapat di Kecamatan Batununggal 4 kasus dan Kecamatan Bandung Kidul 4 kasus. Kecamatan yang mengalami kejadian kasus Flu Burung hampir 80 % berada di daerah pinggiran atau berada diperbatasan dengan wilayah kota/kabupaten lain dimana daerah tersebut masyarakat masih banyak memelihara unggas secara tradisional. Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Kota Bandung terutama didaerah rawan sangat berisiko tertular Flu Burung.

Beberapa penyebab terjadinya penyebaran kasus Flu burung yang meluas di Kota Bandung, antara lain yaitu :

  1. Kurangnya skrining oleh petugas kesehatan baik pada layanan kesehatan pada penderita dengan gejala klinis Flu Burung
  2. Kurangnya peran petugas surveilans ditingkat Puskesmas maupun tingkat Dinas Kesehatan Kota dalam melaksanakan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) KLB Flu Burung.
  3. Kurangnya koordinasi lintas program dan lintas sector
  4. Kurangnya pemantauan factor risiko
  5. Kurangnya diseminasi dan advokasi pada pemerintahan setempat
  6. Kurangnya pengawasan terhadap lalu lintas unggas
  7. Kurangnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) masyarakat dalam memlihara dan mengkonsumsi unggas
  8. Kurangnya kesadaran masyarakat melaporkan adanya unggas mati mendadak dan adanya keluarga yang mendadak sakit setelah kontak dengan unggas mati ke petugas kesehatan

 

Tabel 1.1

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia

Menurut Klasifikasi Kasus di Kota Bandung

Tahun 2005 – 2011

 

Tahun

Confirm

 

CFR (%)

Suspect

 

CFR (%)

TOTAL

Kasus

Meninggal

Kasus

Meninggal

Kasus

Meninggal

2005

0

0

0

4

0

0

4

0

2006

2

2

100

15

3

20

17

5

2007

0

0

0

7

0

0

7

0

2008

0

0

0

2

1

50

2

1

2009

0

0

0

0

0

0

0

0

2010

1

0

0

0

0

0

1

0

2011

0

0

0

1

1

100

1

1

Jumlah

3

2

     66.67

29

5

     17.24

32

7

 

Sumber : Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung

 

Dari data diatas, angka kejadian yang paling tinggi terjadi pada tahun 2006 sebanyak 17 kasus dengan yang meninggal sebanyak 5 orang dan angka kejadian terendah /tidak ada kasus pada tahun 2009, tetapi pada tahun 2010 dan 2011 kasus Flu Burung kembali terjadi lagi. Hal tersebut menandakan bahwa kasus Flu Burung di Kota Bandung masih ada walau frekwensinya sudah berkurang. Angka kematian penyakit Flu Burung sepanjang tahun 2005-2011, didapatkan bahwa dari 3 penderita kasus confirm 2 meninggal (CFR : 66,6%) sedangkan dari 29 kasus suspek 5 meninggal (CFR : 17,24 %).

Pada kasus confirm penderita yang tidak mendapat penanganan segera sangat besar dapat menimbulkan kematian. Adanya kasus suspek yang meninggal merupakan hal yang perlu ditelusuri kasus per kasus, menurut hasil penyelidikan epidemiologi yang telah dilakukan didapatkan temuan sebagai berikut :

  1. Ketidaktahuan dari penderita dan keluarga tentang Flu Burung
  2. Penderita terlambat dibawa ke layanan kesehatan
  3. Kurangnya pengetahuan petugas kesehatan dalam penanganan penderita Flu Burung
  4. Pada awal didiagnosis kasus suspek Flu Burung penderita tidak segera mendapatkan therapy pengobatan yang tepat, karena dari gejala klinis menyerupai influenza biasa.
  5. Terlambatnya pengambilan sampel darah, usap nasopharing dan tenggorok untuk menentukan kalsifikasi kasus pada penderita

 

Grafik 1.1

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia

Menurut Jenis Kelamin di Kota Bandung

Tahun 2005 – 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung

 

Dari grafik di atas, kejadian Flu Burung sepanjang tahun 2005-2011 berdasarkan jenis kelamin, didapatkan bahwa pada laki-laki sebanyak 15 kasus (46,9%) dan pada perempuan sebanyak 17 kasus (53,1%). Hal ini menggambarkan bahwa perempuan lebih banyak terkena penyakit flu burung. Kajian lebih lanjut mengapa perempuan lebih banyak terkena kasus dibanding laki-laki belum dapat dijelaskan.

Tabel 1.2

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia

Menurut Kelompok Umur di Kota Bandung

Tahun 2005 – 2011

 

No

Kelompok Umur

Frekuensi

%

1

0-5 tahun

9

28,1

2

5-10 tahun

1

3,1

3

11-15 tahun

3

9,4

4

16-20 tahun

1

3,1

5

21-25 tahun

5

15,6

6

26-30 tahun

1

3,1

7

31-35 tahun

1

3,1

8

35-40 tahun

1

3,1

9

41-45 tahun

2

6,3

10

46-50 tahun

2

6,3

11

51-55 tahun

1

3,1

12

56-60 tahun

2

6,3

13

61-65 tahun

3

9,4

 

Jumlah

32

100,0

 

 

Dari tabel di atas terlihat bahwa anak-anak umur 0-5 tahun adalah kelompok umur paling berisiko (28,1%), selanjutnya disusul oleh kelompok umur 21-25 tahun (15,6%) dan kelompok umur 61-65 tahun (9,4%).

Pada dasarnya semua kelompok umur dapat berisiko tertular Flu Burung tetapi pada kelompok umur 0-5 tahun didapat paling berisiko tertular Flu Burung. Hal ini bukan berarti pada kelompok umur tersebut kasus Flu Burung meningkat tetapi lebih disebabkan karena adanya Sistim Kewaspadaan Dini KLB. Saat petugas surveilans melakukan penyelidikan epidemiologi didaerah yang terdapat kasus unggas mati mendadak dan menemukan penderita dengan gejala klinis suspect Flu Burung disertai kontak dengan unggas mati mendadak maka penderita tersebut akan ditatalaksana sesuai dengan prosedur. Selain untuk mengetahui apakah pada kelompok umur tersebut sudah terinfeksi virus AI H5N1, juga untuk mengetahui apakah sudah ada penularan antar manusia.

Jika kita lihat dari data yang terdapat dalam lampiran 1, semua penderita kelompok umur 0-5 tahun dari hasil pemeriksaan laboratorium menunjukan negatif.

 

Grafik 1.2

Kasus Flu Burung Pada Manusia Menurut Waktu Kejadian

di Kota Bandung Tahun 2005 – 2011

Sumber : Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung

 

Dari grafik diatas, periode tahun 2005-2008 kasus Flu Burung meningkat pada bulan Pebruari dan bulan September, sedangkan pada tahun berikutnya dari tahun 2009-2011 kasus Flu Burung menurun. Khusus pada tahun 2006, dengan adanya peningkatan kasus maka hal tersebut dapat dikatakan sebagai suatu Kejadian Luar Biasa (KLB) dan setelah dilakukan intervensi serta upaya-upaya penanggulangan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Bandung kasus Flu Burung menurun.

 

  1. Penanggulangan

Penanggulangan Flu Burung / Avian Influenza (H5N1) di Kota Bandung mengacu pada peraturan & perundangan yang mendukung penanggulangan Avian Influenza, yaitu :

  1. KEPMENKES RI Nomor 1371/MENKES/IX/2005, tentang Penetapan FB atau AI sebagai Penyakit yg dapat menimbulkan wabah.
  2. KEPMENKES RI Nomor 1372/MENKES/IX/2005, tentang Penetapan Kondisi KLB Flu Burung
  3. PERMENKES RI Nomor 1501/MENKES/PER/X/2010, tentang Jenis penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan wabah dan upaya penanggulangannya.

Upaya penanggulangan Flu Burung / Avian Influenza (H5N1) di Kota Bandung bertujuan :

  1. Mempertahankan daerah bebas Flu Burung
  2. Mengendalikan AI/Flu Burung di daerah tertular
  3. Menurunkan kasus kejadian AI/Flu Burung pada unggas maupun manusia dan menurunkan kematian Flu Burung pada manusia
  4. Menurunkan dampak sosial ekonomi akibat Flu Burung

 

Dalam upaya pengendalian dan penanggulangan Flu Burung / Avian Influenza, Dinas Kesehatan Kota Bandung merekomendasikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Perawatan dan penatalaksanaan kasus Avian Influenza (H5N1) di Rumah Sakit.
  2. Investigasi dan pelacakan kasus secara cepat saat mendapat laporan kematian unggas mati mendadak (Quick Response) dilapangan .
  3. Pemantauan ketat terhadap penularan kasus flu burung didaerah yang terjangkit.
  4. Pengamatan/surveilans ketat terhadap penularan kasus Avian Influenza (H5N1) pada manusia.
  5. Koordinasi lintas sektor dan lintas program.
  6. Distribusi obat tamiflu ke puskesmas.
  7. Sosialisasi penanggulangan Avian Influenza (H5N1) kepada Direktur Rumah Sakit se-Kota Bandung.
  8. Penyuluhan tentang pencegahan dan pengobatan di masyarakat Kota Bandung.
  9. Menyiapkan RS Rujukan yaitu RS dr. Hasan Sadikin Bandung & RS paru Rotinsulu Bandung.
  10. Melakukan kajian dan pembahasan mengenai kemungkinan memisahkan lingkungan hidup manusia dengan ternak. misalnya, secara bertahap melarang adanya peternakan di perkotaan, melakukan penyuluhan pengkandangan, dsb.

 

  1. Upaya Pencegahan

Upaya pencegahan penularan dilakukan dengan cara menghindari bahan yang terkontaminasi kotoran dan sekret unggas, dengan tindakan Universal Precaution antara lain sebagai berikut :

  1. Setiap orang yang berhubungan dengan bahan yang berasal dari saluran cerna unggas termasuk pupuk harus menggunakan pelindung diri (masker, kacamata dan sarung tangan).
  2. Bahan yang berasal dari saluran cerna unggas seperti tinja harus ditatalaksana dengan ditanam/dibakar agar tidak menjadi sumber penularan bagi orang sekitarnya.
  3. Alat-alat yang dipergunakan dalam peternakan harus dicuci dengan disinfektan, antara lain: Sodium Hipochlorite (pemutih, kaporit) Deterjen, Benzol Konium Chlorite 10 %, alkohol, lysol dan lain-lain.
  4. Keranjang, kandang bekas dan kotoran ayam tidak dikeluarkan dari lokasi peternakan dalam keadaan belum didesinfeksi.
  5. Mengkonsumsi daging ayam yang telah dimasak pada suhu 800C selama 1 menit, sedangkan telur unggas perlu dipanaskan pada suhu 640C selama 5 menit.
  6. Melaksanakan kebersihan lingkungan.
  7. Jangan hidup bersama ayam/unggas lain, atau kandangkan unggas / ayam.
  8. Melakukan kebersihan diri (cuci tangan dengan sabun).
  9. Apabila akan menggunakan pupuk kandang, hendaknya menggunakan alat pelindung diri.

 

  1. ASPEK KHUSUS

 

Gejala klinis pada penderita Flu Burung mirip dengan penderita flu musiman biasa, tetapi melalui skrining ada perbedaan yang dapat dijadikan acuan untuk menentukan diagnosis pada penderita, apakah masuk dalam kasus suspek, probable atau confirm sehingga tata laksana kasus selanjutnya dapat dengan segera ditindak lanjuti.

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam pencegahan dan penanggulangan Flu Burung (Avian Influenza H5N1). Selain dari petugas kesehatan, kesadaran masyarakat perlu ditumbuhkan agar selalu waspada terhadap penyebaran Flu Burung dilingkungannya. Informasi yang cepat dan tepat dari masyarakat maupun layanan kesehatan lainnya terhadap adanya kejadian Flu Burung sangat diperlukan oleh petugas surveilans agar dapat dengan segera dilakukan investigasi kasus serta penyelidikan epidemiologi.

 

 

Pustaka :

 

  1. Buku Pedoman Surveilans Epidemiologi Avian Influenza Integrasi Di Indonesia, Kerjasama Departemen Kesehatan dan Departemen Pertanian, Tahun 2006.
  2. Buku Pedoman Penanganan Flu Burung Bagi Petugas Kesehatan Layanan Dasar, Training Of Trainer Avian Influenza, Tahun 2011.
  3. Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL, Dinas Kesehatan Kota Bandung.
  4. Situs www.depkes.go.id
  5. Posko Ai, Departemen Kesehatan
  6. Portal AI Deptan : poskoai@deptan.go.id

                          

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Lampiran 1

 

Kejadian Kasus Flu Burung Pada Manusia

Di Kota Bandung Tahun 2005 – 2011

 

NO

NAMA

JK

USIA

ALAMAT

TGL MASUK

TGL KELUAR

HASIL LAB (PCR)

KET

1

An. K

P

17

bl

Lemah Hegar, RT 9 RW 4, Kel. Sukapura, Kec. Kiaracondong

24/09/

2005

30/09/

2005

Negatif

Hidup 

2

Tn. A.J

L

41

th

Jl. Soekarno Hatta No. 643, RT 01 RW 07, Kel. Sukapura, Kec. Kiaracondong

26/09/

2005

04/10/

2005

Negatif

Hidup 

3

An. F

P

20

bl

Kpg. Lio RT 07 RW 01, Kel. Cipamokolan, Kec. Rancasari.

29/09/

2005

05/10/

2005

Negatif

Hidup 

4

Ny. N

L

30

th

Dungus Cariang               170 A/ 77, RT 01 RW 06, Kel. Dungus Cariang, Kec. Andir

01/10/

2005

03/10/

2005

Negatif

Hidup 

5

Tn. S

P

63

th

Jl. Ters Buah Batu RT 01 RW 07, Kel. Kujang Sari, Kec. Bandung Kidul.

12/01/

2006

28/01/

2006

Negatif

Hidup 

6

Tn. A

L

53

th

Jl. Cibarengkok 189/ 182 Kel. Sukabungah, Kec. Sukajadi

14/01/

2006

20/01/

2006

Negatif

H5N1

Positif

H3

Hidup

7

Ny. S

P

50

th

Jl. Garut III No 1, RT 05 RW 11, Kel Babakansari, Kec, Kiaracondong

15/01/

2006

15/01/

2006

Negatif

Meninggal

8

Ny W.F

P

37

th

Gg Rd Dewi VI No 50 RT 11 RW 02, Kel. Babakan Tarogong, Kec. Bojongloa Kaler

02/03/

2006

02/04/

2006

Negatif

Meninggal

9

An. F.A

L

1

th

Kpg. Cipaheut Kaler RT 03 RW 02, Kel. Cigadung, Kec. Cibeunying Kaler.

25/02/

2006

26/02/

2006

Negatif

Meninggal

10

An. R.N

P

22

bl

Kpg. Cigagak RT 04 RW 15 Kel. Cipadung, Kec. Cibiru

25/02/

2006

01/03

2006

Negatif

Hidup

11

R.F

L

15

th

KOM. Batununggal Sentosa No. 20 B, RT 03, RW 05, Kel. Mengger, Kec. Bandung Kidul

26/02/

2006

28/02/

2006

Negatif

Hidup

12

An. Ri

P

2

th

Kpg. Cigagak RT 04 RW 15 Kel. Cipadung, Kec. Cibiru

27/02/

2006

06/03/

2006

Negatif

Hidup

13

Ny.Y

P

48

th

Jl. Mayang Asih No. 20 RT 01, RW 05, Kel. Pasir Endah Kec. Ujung berung

01/03/

2006

06/03/

2006

Negatif

Hidup

14

Nn. C

P

25

th

Jl. Garunggang Kulon, No. 134 A/ 65 RT 07/ RW 11, Kel. Sukabungah, Kec Sukajadi.

02/06/

2006

05/06/

2006

Negatif

Hidup

15

Tn. I

L

15

th

Jl. Komp. Dago asri III No. 1 Kel. Dago Kec. Coblong

09/06/

2006

31/06/

2006

Negatif

Hidup

16

Tn I. Z

L

24

th

Gg Laksana VII RT 03 RW 03, Kel. Kebon Waru, Kec. Batununggal

24/09/

2006

24/09/

2006

 Positif

 

Meninggal di RS St Yusuf

17

T.J

L

22

th

Gg Laksana VII RT 03 RW 03, Kel. Kebon Waru, Kec. Batununggal

24/9/

2006

28/9/

2006

Positif  

Meninggal

18

I.M

P

15

th

Gg Laksana VII RT 03 RW 03, Kel. Kebon Waru, Kec. Batununggal

25/09/

2006

30/09/

2006

Negatif

Hidup

19

Nn. S

P

18

th

Gg Laksana VII RT 03 RW 03, Kel. Kebon Waru, Kec. Batununggal

28/09/

2006

05/10/

2006

Negatif

Hidup

20

Tn. R

L

63

th

Kel. Cipamokolan RT 05, RW 08 Kec. Rancasari

30/10/

2006

06/11/

2006

Negatif

Hidup

21

An. H

L

3

th

Jl. Curug Candung RT 02, RW 05, Kel. Wates, Kec. Bandung Kidul

30/12/

2006

06/01/

2007

Negatif

Hidup

22

Tn. Y

L

64

th

Jl. Ters. Sutami No. 26 RT. 05 RW. 03 Kel. Sukagalih, Kec. Sukajadi

24/01/

2007

 

Negatif

Hidup, Rawat di RS Rotinsulu

23

Nn. I

P

24

th

RT 03 RW 04 Kel. Pasirlayung Kec. Cibeunying Kidul

23/02/

2007

03/03/

2007

Negatif

Hidup

24

An. D

P

3

th

RT 03 RW 04 Kel. Pasirlayung Kec. Cibeunying Kidul

24/02/

2007

03/03/

2007

Negatif

Hidup

25

Tn. A. D

L

44

th

RT 03 RW 12 Kel. Cisaranten Kulon, Kec. Arcamanik

08/03/

2007

15/03/

2007

Negatif

Hidup

26

An. Di

P

4

th

RT 07 RW 06 Kel. Mandalajati Kec. Mandalajati

26/03/

2007

 

Negatif

Hidup

27

An. F

P

7

th

RT 06 RW 02 Kel. Kujangsari Kec. Bandung Kidul

29/03/

2007

 

Negatif

Hidup

28

By.A.A

L

4

bl

RT.04 RW.11 Kel. Babakan Kec. Babakan Ciparay

11/04/

2007

19/04/

2007

Negatif

Hidup

29

Ny. L. K

P

60

th

Jl Junjunan Dlm I no 1 RT 08 RW 03 Kel Pajajaran Kec Cicendo

26/02/

2008

 

Negatif

Hidup

30

Tn. D

L

32

th

Jl Inhofftank no 28 RT 05/06 Kel Kebon Lega Kec Bojongloa Kidul

02/11/

2008

03/11/

2008

Negatif

Meninggal

31

Nn. K

P

21

th

Jl. Holis Selatan Belakang No. 382 RT.04 RW.03 Kel. Caringin Kec. Bandung Kulon

22/11/

2010

10/12/

2010

Hasil

PCR I

(-)

PCR II (+)

Hidup

32

Tn. C.G

L

60

Th

Jl. Girisari No. 9 RT.04 RW.043 Kelurahan Pasir Endah Kecamatan Ujungberung

26/06/ 2011

30/06/ 2011

tdk ada Hasil PCR

 

Meninggal

 

Sumber : Seksi Pemantau Penyakit Bidang P2PL Dinas Kesehatan Kota Bandung            

 

 

 

 

 

 

       
 

Lampiran 2

 

   

Form PE-AI

 

 

 

 

 

Penyelidikan Epidemiologi

Avian Influenza H5N1

 

I. Identitas Pelapor

 

1. Nama                          : ____________________

2. Nama Kantor & Jabatan : ____________________

3. Kabupaten/Kota            : _______________ 4. Provinsi : ________________

5. Tanggal Laporan                     : ____/____/200_

 

II. Identitas Penderita

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                            No. Epid :

 

 

Nama           : ____________________ Nama Orang Tua/KK : ___________________

Jenis Kelamin : [1] Laki-laki [2]. Peremp, Tgl. Lahir : __/__/___, Umur :__ th, __ bl

 

Tempat Tinggal Saat ini :

Alamat (Jalan, RT/RW, Blok, Pemukiman) : ________________________________

Desa/Kelurahan : _____________________, Kecamatan : ____________________

Kabupaten/Kota : ____________, Provinsi : _____________, Tel/HP : ___________

 

Pekerjaan : [1] RS/Klinik             [3] Veterinarian           [5] Peternak babi

                   [2] Laboratorium       [4] Peternak unggas   [6] Pasar unggas/babi

                   [7] Lain : _________________________________________________

Alamat Tempat Kerja : ________________________________________________

Saudara dekat yang dapat dihubungi : ____________________________________

Alamat (Jalan, RT/RW, Blok, Pemukiman) : ________________________________

Desa/Kelurahan : _____________________, Kecamatan : ____________________

Kabupaten/Kota : ____________, Provinsi : _____________, Tel/HP : ___________

 

III. Riwayat Sakit

Tanggal mulai sakit (demam) : ___/___/200__

Gejala dan Tanda Sakit serta Hasil Pemeriksaan Lain

Demam

 

Lekosit darah terendah

 

Batuk

 

Trombosit terendah

 

Pilek

 

Limfosit terendah

 

Sakit tenggorok

 

SGOT/SGPT tertinggi

 

Nafas pendek/sesak

 

Foto paru

 

 

Perjalanan Penyakit

(waktu timbulnya gejala dan tanda sakit, pemeriksaan pendukung dan pengobatan ke RS/Klinik)

 
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana keadaan penderita saat ini ?

     [1] Sembuh                 [3] Sakit dirawat klinik        [5] Meninggal, tanggal :

     [2] Sakit dirawat RS      [4] Sakit dirawat dirumah        ___/___/______

 

Nama Klinik atau RS yang pernah memeriksa atau merawat :

 

Nama

Klinis/RS

Alamat

Tgl Masuk Klinik/RS

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 

Form PE AI : 2

 


IV. Riwayat Kontak

  1. Dalam 7 hari terakhir sebelum sakit, apakah penderita pernah kontak dengan binatang

 

Kontak Tidak Erat

       
   

 

 

 

Sehat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sakit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak Erat

       
   

 

 

 

Sehat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sakit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mati

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kontak Sehari-hari

           
     

 

 

 

Peternakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peternakan rakyat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasar unggas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pemotongan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Proses memasak

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lain-lain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Veteriner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Dalam 14 hari terakhir sebelum sakit pernah mengunjungi atau tinggal di daerah tempat terjadinya banyak kematian unggas (wabah) :

 

          [1] Pernah   [2] Tidak pernah   [3] Tidak jelas

 

Form PE AI : 3

 

Jika pernah, jelaskan kapan, lama dan sifat kunjungan tersebut :
3.  Dalam 7 hari terakhir sebelum sakit apakah penderita pernah kontak erat

     dengan seseorang atau penderita yang dirawat dengan pnemonia ?

(kontak erat adalah merawat, menunggui, serumah)

 

          [1] Pernah   [2] Tidak pernah   [3] Tidak jelas

 

Jika Pernah, lengkapi keterangan kontak dimaksud sebagai berikut :

 

Nama dan Kepala Keluarga

Umur

Alamat

Hub dg penderita

Tanggal kontak

Flu Burung

*)

Jalan, RT/RW, Pemukiman

Kec, Kab/Kota dan Provinsi

awal

akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) td (tidak), suspek, probable, konfirmasi atau tt (tidak tahu)

 

  1. Apakah ada penderita dengan gejala yang sama di rumah, tetangga atau anggota keluarga yang lain ?

 

         [1] Ada   [2] Tidak ada   [3] Tidak jelas

 

Jika Ada, lengkapi keterangan penderita dimaksud sebagai berikut :

 

Nama dan Kepala Keluarga

Umur

Alamat

Hub dg penderita

Tanggal kontak

Flu Burung

Jalan, RT/RW, Pemukiman

Kec, Kab/Kota dan Provinsi

awal

akhir

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

*) td (tidak), suspek, probable, konfirmasi atau tt (tidak tahu)

 

 
 

Form PE AI : 4

 

5. Anggota serumah

 

 

Jumlah anggota keluarga serumah : ___ orang

Apakah ada anggota keluarga yang bekerja pada tempat kerja dibawah ini ?

 

RS/Klinik

 

 

Peternakan unggas

 

Laboratorium

 

 

Peternakan babi

 

Veterinarian

 

 

Pasar unggas/babi

 

 

Nama

Tempat Kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6. Pemeriksaan Lingkungan Rumah Tinggal

       
   

 

 

 

Piaraan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peternakan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pasar unggas

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tambahan informasi lingkungan rumah tinggal, tempat kerja atau tempat bermain yang diduga merupakan sumber penularan

       
 
 
   

Form PE AI : 5

 

 

 


 

 

IV. Pengambilan Spesimen

 

Nama Spesimen

Nomor

Ambil

Pemeriksaan

Laboratorium

Tgl

Laboratorium

Tgl

Hasil

Usap nasofaring

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Usap tenggorok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Serum darah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. Kontak Penyelidikan (pejabat, petugas, dokter sbg sumber informasi)

:

Nama

Jabatan/Kantor/Alamat

Tel

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. Tim Penyelidikan Epidemiologi

     1. ________________, Kantor : ______________________tel ______________

     2. ________________, Kantor : ______________________tel ______________

     3. ________________, Kantor : ______________________tel ______________

     4. ________________, Kantor : ______________________tel ______________

     5. ________________, Kantor : ______________________tel ______________

 
 

Form PE AI : 6

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

SURVEILANS HIV

  1. Latar belakang

Angka HIV/AIDS dari tahun ke tahun semakin meningkat. Menurut laporan Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Departemen Kesehatan RI, sampai dengan Desember 2012 secara jumlah orang yang terinfeksi HIV sebanyak 21.511 kasus dan AIDS sebanyak 5.686 kasus, tersebar di 33 profinsi. Berdasarkan data dari Depkes kejadian kumulatif kasus AIDS terbanyak melalui Heteroseksual (59,9%), IDU (18,1%), dan Transmisi Perinatal (2,7%). Proposi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20 – 29 tahu (35,2%), kelompok umur 30 – 39 tahu (28,1%), dan kelompok umur 40 – 49 tahu (10%) (Depkes, 2012).

            Penularan HIV umumnya melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Oleh karena itu, penangannya juga harus berdasarkan kepada pendekatan kesehatan masyarakat, yakni melalui upaya pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Ada lima tingkat pencegahan, yakni promosi kesehatan, perlindungan khusus, diagnosis dini, pengobatan segera, pambatasan cacat, dan rehabilitasi. Pecegahan pada penderita HIV/AIDS memiliki salah satu tujuan khusus, yakni menyediakan dan meningkatkan mutu pelayanan, perawatan, pengobatan, dan dukungan kepada orang terinfeksi HIV yang terintregasi dengan upaya pecegahan. Salah satu upaya tersebut adalah upaya deteksi dini untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV melalui tes HIV. Penyediaan pelayanan terhadap perawatan orang terinfeksi HIV menjadi salah satu strategi yang dilakukan untuk penanggulangan HIV/AIDS. Adanya layanan tes HIV sebagai tempat untuk konseling dan melakukan tes HIV sangat berperan sebagai pintu masuk untuk membantu setiap orang mendapatkan akses ke semua pelayanan, baik informasi, edukasi, terapi atau dukungan psikososial. Untuk mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV.

 

 

  1. Data survelensi HIV /AIDS

Jumlah kumulatif HIV dan AIDS Berdasarkan Provinsi

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

 

Prevalensi Kasus AIDS per 100.000 penduduk berdasarkan Provinsi

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

 

 

  1. Definisi khasus HIV /AIDS

Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).

Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.

HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.

Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara. Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia. Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak. Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.

Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Kadang-kadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).

 

  1. Jenis penyakit HIV /AIDS

Beberapa penyakit yang bias diderita oleh penderita penyakit AIDS adalah sebagai berikut :

  1. Penyakit paru-paru utama

           Pneumonia pneumocystis (PCP) jarang dijumpai pada orang sehat yang memiliki kekebalan tubuh yang baik, tetapi umumnya dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV.

Penyebab penyakit ini adalah fungi Pneumocystis jirovecii. Sebelum adanya diagnosis, perawatan, dan tindakan pencegahan rutin yang efektif di negara-negara Barat, penyakit ini umumnya segera menyebabkan kematian. Di negara-negara berkembang, penyakit ini masih merupakan indikasi pertama AIDS pada orang-orang yang belum dites, walaupun umumnya indikasi tersebut tidak muncul kecuali jika jumlah CD4 kurang dari 200 per µL.

Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi-infeksi lainnya yang terkait HIV, karena dapat ditularkan kepada orang yang sehat (imunokompeten) melalui rute pernapasan (respirasi). Ia dapat dengan mudah ditangani bila telah diidentifikasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, serta dapat dicegah melalui terapi pengobatan. Namun demikian, resistensi TBC terhadap berbagai obat merupakan masalah potensial pada penyakit ini.

Meskipun munculnya penyakit ini di negara-negara Barat telah berkurang karena digunakannya terapi dengan pengamatan langsung dan metode terbaru lainnya, namun tidaklah demikian yang terjadi di negara-negara berkembang tempat HIV paling banyak ditemukan. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per µL), TBC muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada stadium lanjut infeksi HIV, ia sering muncul sebagai penyakit sistemik yang menyerang bagian tubuh lainnya (tuberkulosis ekstrapulmoner). Gejala-gejalanya biasanya bersifat tidak spesifik (konstitusional) dan tidak terbatasi pada satu tempat.TBC yang menyertai infeksi HIV sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, kelenjar getah bening (nodus limfa regional), dan sistem syaraf pusat. Dengan demikian, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat munculnya penyakit ekstrapulmoner.

 

2. Penyakit saluran pencernaan utama

Esofagitis adalah peradangan pada kerongkongan (esofagus), yaitu jalur makanan dari mulut ke lambung. Pada individu yang terinfeksi HIV, penyakit ini terjadi karena infeksi jamur (jamur kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau virus sitomegalo). Ia pun dapat disebabkan oleh mikobakteria, meskipun kasusnya langka.

Diare kronis yang tidak dapat dijelaskan pada infeksi HIV dapat terjadi karena berbagai penyebab; antara lain infeksi bakteri dan parasit yang umum (seperti Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, dan Escherichia coli), serta infeksi oportunistik yang tidak umum dan virus (seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, Mycobacterium avium complex, dan virus sitomegalo (CMV) yang merupakan penyebab kolitis).

Pada beberapa kasus, diare terjadi sebagai efek samping dari obat-obatan yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping dari infeksi utama (primer) dari HIV itu sendiri. Selain itu, diare dapat juga merupakan efek samping dari antibiotik yang digunakan untuk menangani bakteri diare (misalnya pada Clostridium difficile). Pada stadium akhir infeksi HIV, diare diperkirakan merupakan petunjuk terjadinya perubahan cara saluran pencernaan menyerap nutrisi, serta mungkin merupakan komponen penting dalam sistem pembuangan yang berhubungan dengan HIV.

 

3. Penyakit syaraf dan kejiwaan utama

Infeksi HIV dapat menimbulkan beragam kelainan tingkah laku karena gangguan pada syaraf (neuropsychiatric sequelae), yang disebabkan oleh infeksi organisma atas sistem syaraf yang telah menjadi rentan, atau sebagai akibat langsung dari penyakit itu sendiri.

Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu, yang disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan radang otak akut (toksoplasma ensefalitis), namun ia juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru. Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.

Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yaitu penyakit yang menghancurkan selubung syaraf (mielin) yang menutupi serabut sel syaraf (akson), sehingga merusak penghantaran impuls syaraf. Ia disebabkan oleh virus JC, yang 70% populasinya terdapat di tubuh manusia dalam kondisi laten, dan menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat (progresif) dan menyebar (multilokal), sehingga biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis.

Kompleks demensia AIDS adalah penyakit penurunan kemampuan mental (demensia) yang terjadi karena menurunnya metabolisme sel otak (ensefalopati metabolik) yang disebabkan oleh infeksi HIV; dan didorong pula oleh terjadinya pengaktifan imun oleh makrofag dan mikroglia pada otak yang mengalami infeksi HIV, sehingga mengeluarkan neurotoksin. Kerusakan syaraf yang spesifik, tampak dalam bentuk ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik, yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV terjadi. Hal ini berhubungan dengan keadaan rendahnya jumlah sel T CD4+ dan tingginya muatan virus pada plasma darah. Angka kemunculannya (prevalensi) di negara-negara Barat adalah sekitar 10-20%, namun di India hanya terjadi pada 1-2% pengidap infeksi HIV. Perbedaan ini mungkin terjadi karena adanya perbedaan subtipe HIV di India.

 

4. Kanker dan tumor ganas (malignan)

Pasien dengan infeksi HIV pada dasarnya memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap terjadinya beberapa kanker. Hal ini karena infeksi oleh virus DNA penyebab mutasi genetik; yaitu terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV), dan virus papiloma manusia (HPV).

Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari subfamili gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes Sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru.

Kanker getah bening tingkat tinggi (limfoma sel B) adalah kanker yang menyerang sel darah putih dan terkumpul dalam kelenjar getah bening, misalnya seperti limfoma Burkitt (Burkitt’s lymphoma) atau sejenisnya (Burkitt’s-like lymphoma), diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem syaraf pusat primer, lebih sering muncul pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali merupakan perkiraan kondisi (prognosis) yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma adalah tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr atau virus herpes Sarkoma Kaposi.

Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh virus papiloma manusia.

Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, kanker usus besar bawah (rectum), dan kanker anus. Namun demikian, banyak tumor-tumor yang umum seperti kanker payudara dan kanker usus besar (colon), yang tidak meningkat kejadiannya pada pasien terinfeksi HIV. Di tempat-tempat dilakukannya terapi antiretrovirus yang sangat aktif (HAART) dalam menangani AIDS, kemunculan berbagai kanker yang berhubungan dengan AIDS menurun, namun pada saat yang sama kanker kemudian menjadi penyebab kematian yang paling umum pada pasien yang terinfeksi HIV.

 

5. Infeksi oportunistik lainnya

Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik, terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan virus sitomegalo. Virus sitomegalo dapat menyebabkan gangguan radang pada usus besar (kolitis) seperti yang dijelaskan di atas, dan gangguan radang pada retina mata (retinitis sitomegalovirus), yang dapat menyebabkan kebutaan. Infeksi yang disebabkan oleh jamur Penicillium marneffei, atau disebut Penisiliosis, kini adalah infeksi oportunistik ketiga yang paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.

 

 

  1. Type data survelensi HIV /AIDS

Jumlah Kasus Baru HIV, AIDS dan Kematian per Tahun

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

 

 

  1. Data umum penderita penyakit HIV /AIDS

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

AIDS

%

Laki-laki

23.702

55,3

Perempuan

12.338

28,8

Tidak diketahui

6.847

16,0

Jumlah*

42.887

100

* tidak termasuk 1.122 kasus DKI Jakarta pada 2011, karena masih dalam proses validasi data

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

 

Berdasarkan table diatas jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 42,887 jiwa pada Tahun 2012 diketahui jumlah terbanyak berdasarkan Jenis Kelamin yaitu Laki-laki 23.702 orang (55,3%) sedangkan untuk jumlah yang paling sedikit yaitu Perempuan dengan jumlah 12.338 orang (28,8%)

 

 

 

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Faktor Resiko

Faktor Resiko

AIDS

%

Heteroseksual

25.534

59,5

Homo-Biseksual

1.009

2,4

IDU

7.752

18,1

Transfusi Darah

85

0,2

Transmisi Parinatal

1.158

2,7

Tidak diketahui

7.349

17,1

Jumlah

42.887

100

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

Berdasarkan table diatas jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 42,887 jiwa pada Tahun 2012 diketahui jumlah terbanyak berdasarkan Faktor Resiko yaitu Heteroseksual 25.534 orang (59,5%) sedangkan untuk jumlah yang paling sedikit yaitu Transfusi Darah dengan jumlah 85 orang (0,4%)

 

Jumlah Kumulatif Kasus AIDS Menurut Golongan Umur

Gol Umur

AIDS

%

< 1

159

0,4

1 – 4

756

1,8

5 – 14

325

0,8

15 – 19

1.408

3,3

20 – 29

15.093

35,2

30 – 39

12.044

28,1

40 – 49

4.270

10,0

50 – 59

1.252

2,9

> 60

404

0,9

Tidak diketahui

7.176

16,7

Jumlah

42.887

100

Sumber : Ditjen PP dan PL Kemenkes RI 2012

 

Berdasarkan table diatas jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Indonesia sebanyak 42,887 jiwa pada Tahun 2012 diketahui jumlah terbanyak berdasarkan umur yaitu umur 20-29 dengan jumlah 15.093 orang (35,2%) sedangkan untuk jumlah yang paling sedikit yaitu < 1 dengan jumlah 159 (0,4%)

 Gambar

Posted in Uncategorized | Leave a comment

picture0011.jpg

Posted in Uncategorized | Leave a comment

picture0012.jpg

Posted in Uncategorized | Leave a comment